Perubahan Aleisha

3

 

Belakangan ini working mom versus stay at home mom ngeheitz lagi. Padahal menurut saya itu lagu lama. Ya, mau dibahas dari segi mana pun, tidak akan ada titik temunya. Karena masing-masing memiliki alasan.

Ah, tidak. Di sini saya tidak ingin membahasnya. Sudah banyak kok yang menulis artikel untuk menghargai ibu  bekerja. Tapi saya ingin cerita tentang perubahan Aleisha pasca saya resign. Gara-garanya saya tergelitik membaca postingan di kompasiana tentang ibu bekerja.

Blogger tersebut menuliskan bahwa anak sebenarnya menyesuaikan kondisi  ibunya. Anak yang ibunya bekerja, suka bangun pagi. Supaya bisa say hello dengan sang ibu. Pun ketika malam. Setia menunggu ibunya pulang, meski hanya menyapa beberapa menit. Lalu terlelap tidur.

Kebalikannya, anak yang ibunya di rumah, mungkin lebih suka bangun agak terlambat. Seolah memberi waktu kepada ibunya untuk berbenah.

Entahlah, tapi kepala saya otomatis mengangguk. Continue reading

MENYUSUI DI MANA PUN, TETAP TAMPIL STYLISH

DSC_0478

Menyusui hingga lebih dari dua tahun, bagi saya itu sebuah rezeki. Ya memang saya belum berniat menyapih Aleisha. Alasannya karena saya ingin balas dendam. Lho kok? Menjadi working mom pada awalnya, membuat saya tidak bisa menyusui Aleisha langsung. Padahal bagi saya, menyusui itu unforgettable moment. Makanya setelah resign di usia Aleisha dua tahun, saya tetap terus menyusui. Ya, sebagai pengganti waktu menyusui langsung yang hilang.

“Ih, udah gede kok masih nenen. Malu dong.”

Komentar seperti itu sudah sering saya dengar. Tapi saya justru tersenyum bangga. Saya bahagia masih bisa menyusui. Kalau yang komentar menurut Islam hanya sampai dua tahun, sila dibaca artikel berikut ya. Jadi boleh ya menyusui lebih dari dua tahun. Asalkan tidak membahayakan ibu maupun anak, dan disepakati keduanya (suami dan istri).

Sejak awal, saya memang lebih suka menyusui langsung. Ketika sedang jalan-jalan, misal di mall, saya tinggal mencari kursi ketika Aleisha ingin menyusu. Kadang tidak semua mall menyediakan ruang menyusui. Atau saya malas mencarinya *hehehe. Continue reading

Bukan Maksud Hati Melarang Anak Bermain

Saya percaya, Allah sudah menciptakan dan mengatur seorang anak bersikap egosentris. Tanpa sikap egois, ia tak akan bertumbuh menjadi anak yang cerdas.

2014-09-24 16.44.32

Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis status tentang Aleisha, yang saya larang bermain karena bersikap egois terhadap temannya.

SC20140929-051403

Dan pastinya, status tersebut mengundang reaksi berbeda dari teman-teman Facebook. Ada yang mendukung, namun lebih banyak yang menyarankan ‘jangan dilarang’. Di bagian komentar sudah saya jelaskan mengapa saya mengambil sikap tersebut. Continue reading

My First Long Journey Just With Aleisha

 

2014-09-04 23.06.01

Huwaaaa! Akhirnya bisa juga menuliskan cerita perjalanan panjang pertama saya, berdua saja dengan Aleisha. Awalnya saya pikir hari kedua atau ketiga, saya akan langsung menuliskannya di blog. Ternyata ya ternyata, hari ketujuh saya baru bisa ngeblog lagi. Capek sih sudah hilang sejak hari ketiga di Sorong. Cuma yaaa Aleisha ternyata matanya masih WIB. Dia selalu tidur jam sebelas malam. Dan apa kabar saya setelahnya? Ikut tidur dong *hiks. Ditambah koneksi internet yang belum mau bersahabat. Nanti akan saya ceritakan sendiri tentang mata Aleisha yang masih WIB. Well, sekarang saya mau berkisah hebohnya perjalanan Jakarta – Sorong hanya dengan bocah. Continue reading