Ingin Mencicipi Makanan Khas Indonesia? Ke Cipika Aja

cipika

Dua bulan yang lalu, entah mengapa tiba-tiba saya ingin makan bakpia Kurnia Sari rasa kumbu hitam. My favorite taste. Nggak tahu ya, dari dulu saya suka sekali rasa ini. Rasa lain doyan sih. Hanya saja kalau beli, pasti yang kumbu hitam.

Berhubung saya dan suami belum punya waktu luang untuk berkunjung ke Jogja, jadilah saya menghubungi sahabat saya yang tinggal di sana. Sepertinya ini salah satu cara untuk makan kuliner nusantara bila tidak sempat berkunjung ke kota asalnya. Titip sama teman yang tinggal atau kebetulan sedang berkunjung ke kota tersebut. Tapi ada nggak sih cara lain untuk menikmati kuliner dari daerah lain? Ada dong!

Sekarang nih ya kalau kita pingin makan bakpia Kurnia Sari, pempek Candy, atau bolu Meranti, cuma tinggal klik aja kok, transfer, dan kita tinggal duduk manis menunggu orderan diantar. Yup, dengan Cipika Store, kita bisa menikmati kuliner nusantara tanpa harus berkunjung terlebih dahulu ke kota asalnya. Continue reading

Hati-hati Memiliki Kartu Debet

Masih setia dengan Share Gold :)

Masih setia dengan Share Gold :)

“Maaf, Bu. Boleh saya pinjam KTP-nya. Untuk saya cocokkan tanda tangan di kartu dan KTP.”

 

Jujur, saya terkejut ketika kasir di Rumah Mode, Bandung meminjam KTP saat saya akan membayar secara debet. Bukan… Bukan karena saya pakai kartu orang lain. Tapi baru pertama ini, saya menemui mbak kasir memverifikasi tanda tangan customernya. Bahkan sebelumnya, suami menggunakan kartu saya untuk membayar di food court tanpa diverifikasi.

 

“Tanda tangannya gimana?” tanya saya.

“Urek-urek aja,” jawab suami saya sambil nyengir.

 

Iya, saya sering belanja menggunakan kartu debet dan tidak pernah dicocokkan tanda tangannya. Lebih parah lagi sewaktu saya memakai kartu kredit teman kantor untuk membeli handphone. Tapi dia nggak mau mengantar. Jadilah, dia percaya saya memegang kartu kreditnya. Bukan hanya sekali. Tiga kali! Yang duanya, teman lainnya yang ’numpang kredit’. Dan saya menggunakan kartu kredit tersebut di sebuah toko buku terbesar di Indonesia, yang terletak di Jakarta Timur. Bayangkan! Di toko buku ternama itu bisa ya nggak verifikasi kepemilikan kartu kredit. Untung ya saya orang baik :D

Continue reading

Berjilbab, Berprestasi, dan Tidak Korupsi? Sumpah, Banyak Banget!

Sumber gambar di sini

Belakangan ini media social heboh masalah ibu menteri baru yang tidak lulus SMP, bertato, dan merokok di depan umum. Sebagian membully, nggak lulus SMP kok jadi menteri. Lainnya menganggap merokok di depan publik tidak patut dilakukan seorang menteri perempuan. Ada yang terang-terangan menghujat. Tidak sedikit pula yang mendoakan semoga ibu menteri cepat sadar. Lalu di pihak sebelah pun berteriak membela.

Sumber foto di sini

“Biar gak lulus SMP, tapi sudah berbuat banyak untuk orang lain.”

“Situ sarjana udah bisa kasih makan orang?”

“Dia keren bisa bawa jet sendiri.”

“Ibu itu mengirim sendiri bantuan untuk Aceh.”

 

Jujur, saya memang kurang setuju ya ibu menteri merokok di depan publik . Biar bagaimana pun sebagai orang Timur, tidak pantas perempuan merokok. Kata orang Jawa, ora ilok. Tapi saya malas ikut-ikutan update status tentang beliau. Bahkan belakangan ini saya juga enggan membuka news feed yang isinya hampir semua mengenai Bu Susi. Whatever lah ya para pengguna FB itu mau ngoceh apa. Saya tidak ngefans sama Bu Susi, tapi juga tidak membenci. Jadi saya tidak akan menjelek-jelekkan atau membela mati-matian beliau.

 

Hanya saja nurani saya terusik ketika membandingkan Bu Susi dengan Ratu Atut.

 

“Tuh buktinya yang pakai jilbab juga korupsi. Pilih mana? Merokok dan kerja nyata? Atau berjilbab tapi korupsi?”

Please, kenapa kemudian jilbab yang menjadi sasaran? Open your eyes! Kenapa harus membandingkan Bu Susi dengan Ratu Atut? Apa tidak ada tokoh perempuan lain, berjilbab dan tidak korupsi?

 

SUMPAH, BANYAK BANGET!

Continue reading

Perubahan Aleisha

3

 

Belakangan ini working mom versus stay at home mom ngeheitz lagi. Padahal menurut saya itu lagu lama. Ya, mau dibahas dari segi mana pun, tidak akan ada titik temunya. Karena masing-masing memiliki alasan.

Ah, tidak. Di sini saya tidak ingin membahasnya. Sudah banyak kok yang menulis artikel untuk menghargai ibu  bekerja. Tapi saya ingin cerita tentang perubahan Aleisha pasca saya resign. Gara-garanya saya tergelitik membaca postingan di kompasiana tentang ibu bekerja.

Blogger tersebut menuliskan bahwa anak sebenarnya menyesuaikan kondisi  ibunya. Anak yang ibunya bekerja, suka bangun pagi. Supaya bisa say hello dengan sang ibu. Pun ketika malam. Setia menunggu ibunya pulang, meski hanya menyapa beberapa menit. Lalu terlelap tidur.

Kebalikannya, anak yang ibunya di rumah, mungkin lebih suka bangun agak terlambat. Seolah memberi waktu kepada ibunya untuk berbenah.

Entahlah, tapi kepala saya otomatis mengangguk. Continue reading