Aleisha Belajar Menabung

“Bunda, Cica mau punya mobil.”

“Yang warna ijo ya.”

“Eh, merah aja.”

“Ganti pink deh.”

Hihihi… wis sak karepmu, Nduk. Emang udah biasa ya anak-anak minta mobil. Sayang, kami orang tuanya belum ada rezeki untuk mewujudkan keinginan Aleisha. Tapi saya menggunakan kondisi ini untuk mengajari Aleisha menabung. Continue reading

Serunya Bermain Petualangan Boci

Sumber gambar: www.petualnganboci.com

Sumber gambar: www.petualnganboci.com

“Aleisha boleh mainan smartphone?”

Di usianya yang ketiga, saya mengizinkan Aleisha bermain dengan smartphone milik saya maupun yandanya. Tapi… Tetap yaaa ada tapinya. Ada batasan yang saya berikan. Memang sih saya nggak mematok sehari boleh bermain berapa jam. Lagi pula Aleisha nggak setiap hari minta bermain dengan smartphone. Malah kadang dalam seminggu, dia nggak menyentuh smartphone sama sekali. Cuma kalau dia lagi minta, saya membatasinya maksimal satu jam. Dan saya menemani di sampingnya. Jadi nggak dikasih smartphone, terus emaknya nyambi mengerjakan yang lain. Nah, supaya bermain smartphonenya bermanfaat, saya memilihkan aplikasi game yang bernilai edukatif. Salah satunya Petualangan Boci. Continue reading

[Tips] Membuat Bawang Goreng yang Renyah

Siapa yang suka bawang goreng? Wah kalau saya suka sekali sebagai pelengkap makanan seperti soto, bakmi/bihun goreng/rebus, bakso, aneka jenis sop, dan makanan lainnya. Kehadiran bawang goreng sebagai pelengkap makanan memang tidak bisa disepelekan. Yup, bawang goreng adalah penambah cita rasa lezat.

Sebenarnya di pasaran sudah banyak ya dijual bawang goreng. Jadi tidak perlu repot untuk membuatnya sendiri karena (jujur) sangat memakan waktu. Tapi… ya gimana… suami saya suka protes bila saya membeli bawang merah jadi. Selain harganya mahal, bungkus kecil saja lima ribu perak, suami saya sangat menyukai makanan rumahan. Termasuk bawang goreng kalau bisa goreng sendiri. OK, baiklah.

Cuma saya sering penasaran, kok bawang goreng beli itu tetap renyah meski disimpan lama. Kalau goreng sendiri, renyah sih pas masih panas. Tapi begitu dingin langsung melempem. Apalagi sudah disimpan di toples. Saya lebih suka bawang goreng yang renyah dan ‘krius’. Kata suami sih, pakai alat untuk memeras minyaknya. Ah, masa sih? Karena penasaran, saya pun mencoba googling untuk mencari tahu cara menggoreng bawang supaya renyah. Dan saya mendapatkannya di salah satu artikel Republika Online. Ini dia caranya agar bawang goreng renyah. Continue reading

Cerita Dibalik Bebas Nenennya Aleisha

Dan dengan ini, saya menyatakan Aleisha bebas dari nenen. Tok! Tok! Tok! Akhirnya palu pun diketuk menandakan Aleisha sudah tidak nenen lagi. Huft! Akhirnya… Setelah kelebihan setahun, Aleisha dengan penuh kesadarannya melambaikan tangan dan mengatakan say good bye pada nenen.

Banyak yang menanyakan, kok sampai tiga tahun? Kenapa? Bukannya menyusui dalam hanya sampai dua tahun? Memang ada kelebihannya menyusui hingga tiga tahun? Dan saya cuma nyengir. Jujur, saya melebihkan waktu menyusui hanya sebagai pemuasan batin emaknya. Soalnya selama dua tahun masa menyusui, saya kan kerja. Otomatis saya bisa menyusui langsung malam, pagi hari sebelum berangkat, dan weekend. Selebihnya Aleisha minum ASIP atau ASI perahan. Tapi kadang weekend pun ada training. Apalagi bank tempat saya bekerja sempat mengalami pergantian sistem. Tahu sendiri kan kalau perbankan sudah ganti sistem dan saya di bagian operasional. Hampir dua bulan, setiap weekend saya tetap harus masuk. Belum lagi lembur every day hingga jam tujuh atau delapan malam. Makanya begitu saya resign tepat di ulang tahun Aleisha kedua, saya memang belum berniat berhenti menyusui. Saya mau balas dendam!

Niat awal sih mau dilebihkan empat atau lima bulan saja. Tapi… eh malah bablas sampai setahun. Apalagi air susu saya masih berproduksi. Sebenarnya setelah dua tahun, frekuensi menyusu Aleisha hanya dua kali. Tidur siang dan malam. Namun orang-orang di sekitar saya pada sibuk memberikan ‘sanksi sosial’ alias meledek. Sudah pasti itulah. Cuma sayanya… bodo nanan. Aleisha juga cuek dan asyik-asyik aja nenen. Yaelah… ya jelas yang namanya anak pasti seneng disuruh nenen.

Setelah mencecar saya dengan ‘sanksi sosial’ mulai memberikan solusi untuk menyapih. Mulai dari yang mengoles brotowali, memplester puting plus ditetesi obat merah, sampai menghitung weton. Pokoknya jauh dari kata menyapih dengan cinta a.k.a WWL (weaning with love). Hadeuh… senyum aja deh. Iya sih berhasil, tapi efeknya kan membohongi anak. Seperti tetangga yang anaknya berumur empat setengah tahun. Kalau ditanya kenapa nggak nenen lagi. Jawabnya, “Nggak ah nenen Bunda pahit.” Huhuhu… sedihnya yaaaa. Padahal nenen kan nggak pahit. Saya sih pinginnya Aleisha menjawab, “Karena aku sudah besar. Jadi nggak nenen lagi.” It means, anak menjawab dengan penuh kesadaran bahwa jika sudah besar, maka tidak nenen lagi.

Nah sekarang, ada yang menanyakan, “Susah nggak menyapih anak udah kadung gede?”

Drama? Pasti! Aleisha nangisnya sampai nggerung-nggerung. Terus matanya menatap iba minta dikasihani. Yup, tiga bulan menjelang tiga tahun akhirnya saya memutuskan untuk menyapih Aleisha. Alasannya udah geli dinenen bayi gede a.k.a toodler. Kadang sampai saya paksa lepas saking gelinya. Ya sudah, disapih aja deh. Dan… drama penyapihan pun dimulai. Continue reading

(Seminar Menuntun Anak Menyongsong Surga) : Membangun Keluarga Robbani – Ibu Yayah Komariah

Bu Yayah Komariah, memulai pendidikan di rumah untuk anak-anaknya sejak tahun 2004. Tepatnya ketika Bilal, anak pertamanya memasuki usia SD. Namun, saat itu, Bu Yayah belum mengetahui bahwa yang dilakukannya disebut homeschooling. Dari situlah, Bu Yayah kemudian mendirikan Komunitas Homeschooling Berkemas (Berbasis Keluarga Masyarakat).

Ingin lebih mengenalkan agama adalah alasan utama Bu Yayah meng-HS-kan anak-anaknya. Sebenarnya ibu dari 4 putra dan 1 putri ini mulai mengajarkan agama, terlebih tauhid, sejak anak-anaknya berumur 1 – 2 tahun. Caranya cukup mudah. Bu Yayah sering sekali mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Masya Allah kepada anak-anaknya. Bahkan ketika melakukan kegiatan apapun, seperti makan, Bu Yayah selalu melafalkan dengan suara keras. Tujuannya agar anak-anaknya terbiasa mendengar kalimat Allah. Selain itu, Bu Yayah juga mengenalkan tulisan nama Allah sejak anak-anaknya masih bayi. Beliau menulis dalam ukuran besar dan berwarna. “Itu tulisan nama Allah, Nak,” ucap Bu Yayah kepada anak-anaknya. Dan hasilnya, begitu anak-anaknya sudah bisa bicara, kalimat Allah lah yang pertama terucap. Continue reading

Jangan Lupa 9 Oleh-oleh Ini Jika Berkunjung ke Sorong

Sumber gambar: pemandangan.fotoindonesia.com

Sumber gambar: pemandangan.fotoindonesia.com

Jujur, saya bukan asli Sorong atau Papua wilayah mana pun. Tinggal di Sorong mulai kelas 2 SMU cawu 2 sampai lulus. Eh ya ampun ketahuan deh ah umurnya ngomongin cawu a.k.a catur wulan. Tapi orang tua dan adik saya hampir 15 tahun stay di kota yang terletak di kepala burung Pulau Papua. Otomatis saya sering pulang ke Sorong. Dan kalau teman-teman denger saya mau ke Sorong, pada heboh minta oleh-oleh. Apalagi teman kantor (dulu) yang doyan makan, paling sering minta sea food. Entah udang segede gaban, kepiting yang bongsor-bongsor, atau lobster. Padahal sebenarnya oleh-oleh Sorong itu banyak. Cuma saya nggak pernah kasih tahu. Ntar pada nglunjak minta oleh-olehnya *hahaha. Menurut sepengamatan saya, inilah 9 oleh-oleh yang bisa didapatkan dari Sorong. Beberapa jenis oleh-oleh ini memang ada yang sama dengan daerah Papua lainnya. Jadi kalau kamu mau ke Raja Ampat atau pulang dari Raja Ampat, sempetin jalan-jalan dan beli oleh-oleh Sorong ya. Sekalian kan biar nggak rugi harga tiket pesawatnya yang Subhanallah mahalnya.

 

1. Kerajinan Khas Papua

Sumber gambar: pemandangan.fotoindonesia.com

Sumber gambar: pemandangan.fotoindonesia.com

Continue reading