[Preschool at Home] DIY: Kamera untuk Aleisha

10941262_10205635588268460_850975309_n“Yanda, Cica mau poto-poto.”

Suatu malam Aleisha ingin meminjam kamera yandanya. Sudah ditawari kamera handphone menolak. Maunya kamera yang bisa diputar-putar. Maksudnya yang ada lensa kaya DSLR.

“Aleisha mau kamera? Yanda buatin ya?” tawar yandanya.

Lha kok ndilalah kami punya tempat minum berbentuk lensa kamera DSLR. Berhubung tempat minum tersebut jarang digunakan, jadilah disulap jadi kamera untuk Aleisha. Yuk kita mulai buat kamera.

 DSC_0658

Bahan:

  1. Kardus
  2. Tempat minum bentuk lensa
  3. Gunting
  4. Selotip

Cara Membuat:

  1. Buat lubang di tengah kardus untuk meletakkan lensa tiruan. Sesuaikan saja ukurannya.
  2. Pasang lensa tiruan di lubang kardus.
  3. Bagian pojok kiri atas dilubangi juga, tapi berbentuk kotak. Untuk ‘mengintip’ hihihi. Atau dibuat di bagian kanan atas. Terserah saja.

 

Tara… Jadi deh kamera Aleisha. Yuk siapa yang mau difoto.

 10937491_10205635588188458_1717454365_n10942885_10205635588628469_989729869_n

Regards,

Facebook : Astri Hapsari | Twitter : @AstriHapsari_ | Instagram : AstriHapsari_ | www.rumah-astri.com | www.AstriHapsari.com

Karena Aleisha Suka Susu Cair

Sumber gambar: http://www.deliciousobsessions.com

Sumber gambar: http://www.deliciousobsessions.com

Judul dalam postingan kali ini adalah jawaban setiap kali saya ditanya, “Kok Dede Al minumnya susu kotak?”

Iya, sejak usia Aleisha delapan belas bulan a.k.a satu setengah tahun, saya menambahkan asupan susu sapi untuk Aleisha. Dan saya memilih susu pasteurisasi. Sebenarnya sebelum saya membaca banyak sharing dari ahli gizi maupun ibu-ibu berpengalaman di forum Mommies Daily, The Urban Mama, dan AIMI, saya memang lebih memilih susu cair semenjak kuliah. Maklum yaaa kuliah di peternakan, jadi saya sedikit banyak tahu bahwa susu pasteurisasi lebih baik dibanding susu bubuk. Much better sih susu segar ya, tapi susah di tempat tinggal saya menemukan susu segar. Jadilah saya memilih susu pasteurisasi. Atau UHT kalau sedang bepergian.

Awalnya Aleisha saya perkenalkan yang rasa plain. Kebetulan susu pasteurisasi rasa plain yang biasa saya beli, terbuat dari susu segar thok. Enggak pakai bahan tambahan lainnya. Namun begitu usia Aleisha dua tahun, dia memilih rasa coklat. Kayak emaknya banget, enggak doyan susu putih. Alhamdulillah, menurut dr Yoga di thread Mommies Daily, tidak mengapa mengkonsumsi susu dengan varian rasa, asal masih dalam batas aman (400 – 600 ml). Aleisha sehari tidak lebih dari 250 ml. Nah untuk ukuran 250 ml ini saya mengikuti batas maksimal dari Prof Hiromi Shinya. Mmm… saya enggak mewajibkan Aleisha minum susu, tapi juga enggak melarang. Kalau dia minta, baru saya kasih. Dan batas maksimalnya 250 ml.

Sayangnya, pilihan saya pada susu pasteurisasi mendapat tatapan dan respon aneh dari beberapa tetangga, keluarga, bahkan suster di rumah sakit sewaktu Aleisha di opname. Pertama kali mau kasih susu pasteurisasi, eyangnya juga sempat keberatan.

“Itu kan banyak pengawetnya.” Udah dijelaskan, besok-besoknya eyangnya lupa lagi, ngomong lagi. Hihihi… ya maklum lah. Namanya juga nenek-nenek.

Begitu pula yang lainnya, mereka memandang aneh karena menurut mereka susu cair banyak pengawetnya. Mungkin berpikirnya, kok susu cair bisa awet lama. Susu UHT memang tahan dua tahun, selama belum dibuka dan kemasan tidak rusak. Tapi susu pasteurisasi, walau belum dibuka, enggak sampai sehari bakal basi bila disimpan di suhu ruang. Nah, mereka nih kayaknya kurang paham bedanya susu pasteurisasi dan UHT. Tapi saya bingung mau menjelaskannya bagaimana. Jadilah saya jawab, “Karena Aleisha suka susu cair.” Continue reading

[Preschool at Home] DIY: Rumah Kardus Aleisha

IMG_20141101_122413

Sebenarnya ini late post banget ya. Karena rumah kardus ini sudah lama sekali dibuatnya. Tapi sampai sekarang masih jadi favoritnya Aleisha untuk tempat bermain. Ide rumah kardus ini dari yandanya Aleisha. Kebetulan di rumah punya kardus mesin cuci yang super besar. Bahannya tebal dan kuat. Berhubung gudang sudah penuh, dan sayang aja kalau kardus ini dibuang, maka yandanya Aleisha punya mengusulkan dibuat rumah kardus saja.

10906082_10205437857285309_2323974511616012598_n

Membaca Wow Amazing Series dalam Rumah

Jujur, saya tidak berperan apa-apa dalam pembuatannya. Semua dikerjakan berdua ayah dan anak. Terus saya ke mana? Tidorrrrrr *hahahaha. Iya serius, saya tidur. Dan bangun-bangun, rumah kardusnya sudah jadi. Ya anggap saja, ngedate-nya ayah dan anak perempuannya. Saya kebagian menghias dengan kupu-kupu.

10516799_10205011753192973_6881725577473673534_n

Jatah saya menghias dengan kupu-kupu

Tapi walau saya tidak berperan dalam pembuatannya, nggak papa kan saya yang share tutorial DIY-nya.

Bahan:

  1. Kardus bekas berukuran besar
  2. Gunting
  3. Lem
  4. Penggaris dan pensil
  5. Cat
  6. Hiasan

Cara membuat:

Kata yandanya Aleisha, cara membuatnya tidak terlalu sulit. Atapnya dibuat dari bagian kardus yang terlipat. Pilih salah satu, bisa atas atau bawah. Lalu bagian lainnya sebenarnya nggak perlu dipotong ya, buat alas. Tapi nggak tahu nih, kok sama yandanya Aleisha malah dipotong. Jadilah kalau Aleisha ngendon di dalam musti dilapisi karpet supaya tidak dingin. Untuk pintu dan jendela tinggal dikreasikan saja, kira-kira mau dibuat seperti apa. Kalau sudah jadi tinggal di cat dan diberi hiasan.

IMG_20141101_122338IMG_20141101_122353

IMG_20141101_122458IMG_20141101_130715

Regards,

Facebook : Astri Hapsari | Twitter : @AstriHapsari_ | Instagram : AstriHapsari_ | www.rumah-astri.com | www.AstriHapsari.com

[Preschool at Home] Wayang-wayangan untuk Belajar Sirah Nabi Yunus

DSC_0644

Sebenarnya Aleisha sudah sejak umur satu tahun saya perkenalkan sirah para nabi. Kebetulan juga di rumah sudah punya buku Nabiku Idolaku dan Wow Amazing Series. Tapi semakin besar, Aleisha suka nyeleneh kalau saya bacakan buku yang teksnya panjang-panjang. Kadang tiba-tiba narik kertasnya *emaknya parno sobek. Kadang kabur. Kadang minta buku yang lain. Sebenarnya sih ada e-pennya. Tapi tetep yang didenger yang lagu-lagu aja. Yaaa mungkin memang dia belum bisa menerima cerita yang serius. Hanya saja menurut Ustadz Fauzil Adhim, harus terus diperkenalkan dengan buku yang banyak teksnya. Jangan sampai ketika besar nanti, gak mau baca kalau bukunya gak bergambar.

Terus mikir deh saya. Gimana yaaaa supaya bisa menceritakan sirah nabi supaya asik. Dan tiba-tiba aja kepikiran bikin wayang. Digambar dulu di kertas, ditempel di kardus, lalu digunting.

DSC_0643

Berhubung saya nggak pinter gambar. Jadi sorry sorry to say gambarnya nggak seimbang gede kecilnya. Tuh lihat aja, Nabi Yunusnya lebih besar dari kapal dan pausnya.

10301176_10205552835319688_6037199102624464719_n

Gambar kapal dan pausnya juga cari dulu di Google buat dicontek. Gambar Nabi Yunus lihat di Nabiku Idolaku. Sedangkan panggungnya dari kardus yang saya kerukupin jilbab biru. Pura-pura dalam laut :D

DSC_0652

Oh iya kenapa Nabi Yunus duluan yang saya buatkan wayang-wayangannya. Ya karena Aleisha lagi demen buku Wow Amazing series yang Story of Whale.

Referensinya

Referensinya

Waktunya pentas…

DSC_0655

Pasti ingin tahu kan pas pentasnya kayak mana? As usual, Aleisha rusuh. Maunya dia yang pegang semuanya. Maunya dia aja yang main wayang-wayangan. Ya sudah… Saya cuma ngedongeng lima menit. Selebihnya Aleisha yang menguasai. Tapi tetap saya arahkan jalan cerita sirahnya.

Regards,

Facebook : Astri Hapsari | Twitter : @AstriHapsari_ | Instagram : AstriHapsari_ | www.rumah-astri.com | www.AstriHapsari.com