Abon Gulung Tiara

Sumber gambar: http://resepmasakanlengkap.blogspot.com
Sumber gambar: http://resepmasakanlengkap.blogspot.com

Tiara menghela napas lega. Hhh… Alhamdulillah. Akhirnya rampung juga proposal penawaran kerja sama ke sebuah perusahaan. Tiara memang belum tahu apakah proposalnya akan diterima atau tidak. Namun paling tidak, to do listnya hari ini berkurang satu.

Tiara memijit pelan tengkuknya. Menjelang akhir tahun begini, lehernya seperti ditimpa beban seberat puluhan kilo. Apalagi targetnya tahun ini belum tercapai. Tiara berharap dua bulan ini, beberapa proposal penawaran kerja sama ada yang gol. Jika Tiara tidak mencapai target, entah berapa nilai performanya. Hhh… Tiara kembali menarik napas panjang. Mencoba berdamai pada kenyataan bahwa ia bekerja di sebuah perbankan syariah. Di bagian funding pula.

“Mbak Tia, jahenya nih,” Mas Farid, office boy di kantor, menyodorkan secangkir jahe panas.

“Nggak kemanisan kan?” tanya Tiara. Mas Farid terkadang terlalu kreatif. Dengan dalih kurang manis, dia akan menambahkan gula menurut seleranya. Padahal Tiara tidak suka minuman yang terlalu manis.

“Ya kalau kemanisan, berarti Mbak Tiara minumnya keingat Mas Farid,” canda si OB yang membuat Tiara kontan terbahak.

Tiara pun menghirup aroma jahe yang langsung mengaktifkan hormon oksitosinnya. Rasanya begitu tenang. Apalagi saat Tiara menyeruput kehangatan jahe di ujung cangkir. Seolah beban yang tadi menumpuk, menghilang. Untuk sesaat.

“Assalamu’alaikum,” tiba-tiba terdengar sebuah suara di pintu masuk ruang marketing.

Uhuk… Tiara tersedak. Suara itu…. Fikri! Oh my God. Tiara menyadari sesuatu. Dia belum mencetak proposalnya. Fikri pasti menanyakan. Buru-buru Tiara meletakkan cangkirnya. Lalu memeriksa sebentar isi proposalnya, dan kemudian menekan tombol control dan p bersamaan.

“Tiara! Kenapa pakai kertas baru? Kan proposalnya harus diperiksa dulu. Pakai kertas bekas. Yang hemat dong.” Continue reading

Hati-hati Memiliki Kartu Debet

Masih setia dengan Share Gold :)

Masih setia dengan Share Gold :)

“Maaf, Bu. Boleh saya pinjam KTP-nya. Untuk saya cocokkan tanda tangan di kartu dan KTP.”

 

Jujur, saya terkejut ketika kasir di Rumah Mode, Bandung meminjam KTP saat saya akan membayar secara debet. Bukan… Bukan karena saya pakai kartu orang lain. Tapi baru pertama ini, saya menemui mbak kasir memverifikasi tanda tangan customernya. Bahkan sebelumnya, suami menggunakan kartu saya untuk membayar di food court tanpa diverifikasi.

 

“Tanda tangannya gimana?” tanya saya.

“Urek-urek aja,” jawab suami saya sambil nyengir.

 

Iya, saya sering belanja menggunakan kartu debet dan tidak pernah dicocokkan tanda tangannya. Lebih parah lagi sewaktu saya memakai kartu kredit teman kantor untuk membeli handphone. Tapi dia nggak mau mengantar. Jadilah, dia percaya saya memegang kartu kreditnya. Bukan hanya sekali. Tiga kali! Yang duanya, teman lainnya yang ’numpang kredit’. Dan saya menggunakan kartu kredit tersebut di sebuah toko buku terbesar di Indonesia, yang terletak di Jakarta Timur. Bayangkan! Di toko buku ternama itu bisa ya nggak verifikasi kepemilikan kartu kredit. Untung ya saya orang baik 😀

Continue reading

Ciuman Rotan Keramat

314686_2420619634326_1364023472_n

Gedubrak… gedubrak… gedubrak….
“Cing, sa dulu ne.”

“Ah tidak. Sa dulu. Ko kalau mandi paling lama e….”

Pagi yang super heboh. Saya dan Nova, sahabat saya, berebut kamar mandi. Bayangkan saja. Masuk sekolah jam tujuh lewat tiga puluh menit, tapi kami baru membuka mata jam tujuh. Kok bisa? Biasalah, kami yang terkenal sebagai duo manusia super cerewet nan kompak, senam mulut hingga jam dua pagi. Alhasil… bibirmu ndower… bibirmu ndower.

Terkadang saya sendiri heran. Apa sih yang diceritain sampai lupa waktu? Padahal kami satu kelas. Bangku berseberangan. Kalau sedang jam kosong atau istirahat, kami cerita-cerita. Dengan teman yang lain juga tentunya. Malamnya masih disambung lagi di telepon. Sampai tagihan telepon di rumah bengkak karena minimal tiga puluh menit kami ngobrol. Begitu pula tagihan telepon di rumah Nova. Les sore kami bareng. Kadang hari Minggu jalan-jalan atau main ke rumah teman. Tapi setiap ketemu, masih saja punya bahan buat cerita.

Sebenarnya saat adzan Subuh, saya dan Nova sudah bangun dan sholat. Namun kami terkapar lagi. Serasa berton-ton batu bergelantungan di mata. Berat banget. Alarm sih dibunyikan jam enam. Dasar kepluk. Bunyi alarm sekeras storm kapal rasanya seperti geli-geli doang di telinga. Jangan-jangan telinga dipipisi setan kali ya *hiyyyy. Continue reading

Lupa Membawa Apes

Sumber gambar: www.ferhatt.com

“Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi kuncinya.” Klontang! Klontang!

Kalau Kuburan Band menyanyikan lagu Lupa dengan sangat kocak, gue nyanyi pakai suara sendu-sendu sember. Tangan gue mukul-mukul gembok ke pagar rumah. Di antara syair-syair lagu Lupa, gue ngomong ke gembok.

“Gembok, gue mohon, Mbok. Kebuka dong.”

Terus gue sebul ala mbah dukun.

Buuhhh!

Betapa gue berharap gembok rumah gue berubah jadi gembok ajaib. Tapi apa dikata. Si gembok tetap hening. Diam seribu bahasa.

“Kenapa gue?” teriak gue dalam hati. Gue enggak berani teriak beneran. Gue takut kedengeran tetangga gue yang produser musik. Gue yakin kalau dia dengar, pasti gue ditawari masuk dapur rekaman. Suara gue bakalan direkam buat backsound gembreng diseret.

Kenapa gue yang harus menderita sih. Padahal biasanya kalau gue lupa bawa kunci, suami gue lho yang ketiban apes. Hah? What the maksud?

Hihihi…. Jadi begini ceritanya. Gue adalah penderita penyakit lupa yang udah amat sangat akut sekali banget. Setiap hari pasti ada yang gue lupa. Untungnya gue punya alarm yang berbunyi setiap jam enam pagi.

“Kunci kantor.”

“Kunci rumah.”

“Dompet”

“Ongkos.”

“Bekal.”

“HP.”

“Kacamata.”

Akibat penyakit lupa gue, banyak korban berjatuhan. Dan yang paling sering kena apes adalah suami gue. Doi pernah jadi penjaga rumah. Enggak kerja buat cari puluhan bungkus nasi dan berbongkah-bongkah berlian. Hanya karena kunci rumah. Memang doi berangkat kerja agak siang. Jam tujuh baru berangkat. Pagi itu gue gondok banget. Gue ngomel minta buruan diantar sampai lampu merah, eh doi masih asyik sama BBnya. Gue makin ngomel. Soalnya gue takut ketinggalan bus. Sambil ngomel, gue kunci pintu. Belum lama naik bus, doi telepon gue.

“Kunci rumah kamu bawa ya?!” tanyanya sadis.

“Enggak…,” jawab gue sambil meraba-raba kantong jaket. Biasanya cuma ada dua kunci. Kunci kantor dan gembok rumah. Tapi ini kok ada…. Ada tiga. Gue langsung menariknya dari kantong jaket. Gue terpana menyadari kunci di tangan gue. Kunci rumah

“Heee…. Ternyata ada nih kebawa,” kata gue dengan suara lugu. Lucu dan dungu.

“Gimana sih. Makanya lupa jangan dipiara.”

Hehehe…. Alhasil doi pinjam linggis sama tetangga buat nyongkel pintu rumah. Dan seharian doi cuma bisa manyun di rumah.

***

Sejak itu, keapesan bertubi-tubi menghampiri hidup gue. Dan yang paling parah waktu gue mengantar mamake ke Solo. Continue reading

Pessa dan Topi Bunganya

Sumber gambar: www.deviantart.net

Hari ini Pessa sedang gembira. Tadi saat berenang mengitari Sungai Mahakam, Pessa menemukan sebuah topi. Warnanya hijau muda. Ada hiasan bunga merah muda. Cantik sekali. Pessa pun langsung memamerkan kepada teman-temannya.

“Lihat! Topiku bagus kan?”

Orka dan Ella memandang takjub pada topi Pessa.

“Ih bagus banget. Kamu dapat dari mana, Pessa?” tanya Orka.

“Mmm… tadi kan aku lagi mencari makan. Nah, tiba-tiba aku lihat topi ini melayang-layang dalam air,” jawab Pessa.

“Oh jadi kamu menemukannya? Eh, siapa tahu ada pemiliknya lho? Sudah dicari tahu belum?” tukas Ella.

“Iya sudah. Setelah menemukan topi ini, aku langsung bertanya-tanya pada ikan lain yang aku temui. Tapi tidak ada yang mengaku. Biarlah topi ini aku pegang dulu. Nanti kalau pemiliknya datang, aku akan mengembalikannya,” ucap Pessa.

Orka dan Ella jadi ingin mencoba memakai topi cantik itu. Pessa tidak keberatan meminjamkannya.

“Wah, topi ini benar-benar cantik!” seru Ella ketika mencobanya. Continue reading

He Is Aldebaran

13236269_10209273864863101_152706720_n

Aldebaran Asyam Aribowo. Nama anak kedua kami. Boleh percaya atau nggak, saya memilih nama itu awal tahun 2014. Ketika itu usia Aleisha masih 1,5 tahun. Dan saya belum ingin punya anak lagi. Gara-gara sering lihat postingan Armita, teman saya sejak SMP, seorang blogger tenar, dan konsultan nama bayi, saya jadi ingin mencari nama untuk anak kedua. Lucunya saya hanya memilih nama anak laki-laki. Emang sih pinginnya yang kedua laki-laki. Tapi kan belum berencana. Belum berdoa juga. Bisa jadi malah dikasihnya perempuan. Entah kenapa saat itu saya hanya membuat nama untuk anak laki-laki.

Saya ingin punya anak yang artinya bintang. Biar nanti gedenya jadi ilmuwan muslim di bidang astronomi. Emaknya lagi gandrung sama astronomi. Setelah searching di Google, akhirnya saya memilih nama Aldebaran, yang artinya bintang paling terang di rasi Taurus dan bintang ke 13 yang paling terang di angkasa. Bintang ini paling mudah ditemukan di langit karena diameternya 44,2 kali lebih besar dari Matahari. Aldebaran dahulu digunakan oleh para pelaut Arab sebagai navigasi di laut Mediterania. Kata Aldebaran berasal dari bahasa Arab yang berarti pengikut, karena ia mengikuti Pleiades atau gugus bintang bintang terbuka di rasi bintang Taurus. Continue reading