Aleisha Belajar Puasa

Sumber gambar: itunes.apple.com

Sumber gambar: itunes.apple.com

Ramadhan tahun ini Aleisha mulai belajar puasa. Kebetulan usianya 4 tahun. Udah bisa diajak komunikasi 2 arah. Alhamdulillah sampai hari ke 5, Aleisha berhasil puasa sampai bedug a.k.a adzan Dzuhur. Dulu waktu saya kecil bilangnya puasa bedug. Lalu mulai puasa lagi jam 2 sampai Maghrib.

Aleisha kuat? Ya sebenarnya dia bentar-bentar nanya, kapan adzan, kapan boleh minum, atau bilang Cica lapar. Terus bentar-bentar buka kulkas pegang-pegang makanan. Yandanya sampai ketawa ngekek.

“Nduk, perasaan baru kemarin Yanda yang begitu (buka-buka kulkas pas puasa -red). Sekarang ngajarin anak puasa.”

Yang lucu dari proses mengajarkan Aleisha belajar puasa adalah saya sendiri nggak puasa. Awalnya mencoba puasa, tapi kok siang-siang Baran yang masih ASIX rewel. Terus popoknya kering dari jam 2 – 5 sore. Biasanya kan udah penuh. Ya udah saya nggak mau dzolim sama Baran. Nah, sendiri nggak puasa tapi lagi ngajarin anak puasa kayak Tom and Jerry. Kadang saya sembunyi-sembunyi ke kamar makan. Atau diam-diam ke dapur ambil minum. Belum kegap Aleisha sih. Semoga aja nggak ya *lol.

Oh iya untuk mengajarkan Aleisha puasa saya mencoba kiat berikut ini.

1. Tidak Memaksa

Buat saya mengajarkan Aleisha puasa di usia balita adalah untuk mengenalkan dan membiasakan berpuasa. Karena nggak ada kewajiban berpuasa untuk anak yang belum baligh. Disiplin berpuasa kan nggak bisa bim salabim anak langsung mau puasa sehari penuh. Tapi sebagai seorang muslim, Aleisha harus mengerti bahwa puasa di bulan Ramadhan wajib hukumnya. Jadilah saya dan suami memutuskan untuk mulai mengajarkan puasa tahun ini. Continue reading

Tentang Jumlah Anak

Sumber gambar: www.brisbanekids.com.au

Sumber gambar: www.brisbanekids.com.au

Mau tutup pabrik atau masih nambah?

Pertanyaan yang sering dilontarkan usai saya melahirkan Baran. Hmmm… dulu jaman kuliah saya pingin punya anak 7. Wow! Hehe… soalnya saya merasakan jadi anak tunggal selama 15 tahun itu nggak enak. Ketika teman-teman saya punya adik, saya ‘memungut’ anak-anak tetangga yang masih balita dan mengajak mereka bermain. Saya inget banget waktu SMP kelas 1, ada tetangga berusia 2 tahun yang lengket banget. Namanya Salsa. Setiap saya pulang sekolah, dia menunggu di jendela rumahnya. Lalu setelah ganti baju, saya langsung menggendongnya ke rumah. Bahkan saking lengketnya, saat saya menggendong anak tetangga yang lain, dia pasti nangis kejer. 

Lalu setelah 15 tahun pingin adik, akhirnya saya punya adik. Yup, saya baru punya adik kelas 1 SMU. Dan ketika dia berumur 3 tahun, saya kuliah. Sampai sekarang saya nggak pernah kembali ke rumah dalam jangka waktu lama. Maksudnya paling cuma liburan pulangnya. Itulah makanya saya pingin punya anak banyak. Biar rumah ramai.

Plus waktu kuliah, saya didoktrin sama temen kosan tentang jumlah anak yang banyak. Continue reading

Tentang Booster ASI

Sumber gambar: www.themominmemd.com

Sumber gambar: www.themominmemd.com

Ngomong-ngomong soal booster ASI, saya jadi teringat almarhum sahabat saya, Putri. Dia dulu adalah partner in crime saya saat menjadi mama perah. Kami sama-sama pejuang ASI yang memerah di gudang kantor. Hiks… kantor hanya bisa menyediakan gudang untuk karyawatinya yang sedang berjuang ngASI. Sama-sama mama perah dengan menggunakan tangan a.k.a marmet. Tadinya sih Putri pakai breastpump. Tapi lantas berubah haluan menjadi marmet. Sama-sama nggak pernah mikirin soal booster ASI. Kami percaya, asal mood ibu bahagia, urusan perah-memerah lancar jaya. Alhamdulillah Aleisha bisa ASI hingga 2 tahun, plus bonus 1 tahun. Sedang Putri hanya 1,5 tahun. Karena tabrak lari telah merenggut nyawa Putri dan janin dalam rahimnya. Membuat putranya yang saat itu berusia 18 bulan menjadi anak yatim. Tuh kan mbrebes mili lagi. Al Fatihah untuk Putri.

Yups, jadi dulu jaman menyusui Aleisha, saya blas nggak pakai booster sama sekali. Padahal saya kerja dan harus pumping. Tapi saya enjoy aja meski sekali pumping cuma 100 ml. Kenaikan BB Aleisha juga normal, 7 ons hingga 1 kg. Tapi entah mengapa edisi menyusui Baran kok jadi maniak booster ASI. Soalnya saya udah diberi titah untuk menambah susu Baran saat usianya 6 bulan. Konon katanya anak laki-laki nenennya kuat. Tapi nenen kuat juga kan nggak mesti harus ditambah sufor. Saya Insya Allah yakin ASI saya cukup. Cuma kalau titahnya disampaikan setiap hari, mamak baper lah. Apalagi BB Baran sempat seret karena tertular batuk mbaknya di umur 3 minggu. Hiks… Dan gara-gara baper, saya pun mulai melirik yang namanya booster ASI. Oh no… saya nggak anti sufor kok. Namun selama ASI saya cukup ya ASI aja lah. Biar uangnya buat jajan booster ASI emaknya yang enak-enak. Hmmm… ngASI emang murah, tapi boosternya yang mahal *lol. Nggak apa deh. Biar Baran ginuk-ginuk.

Terus makan atau minum booster ASI apa aja, Mak?

1. Lactabrown dan Milkies

11988201_10208739447903011_4137517103092945252_n(1)Ini adalah booster ASI pertama saya. Beli di Anna Bakery Yogyakarta (IG: AnnaBakery). Rasanya jangan ditanya. Enak banget. Bahkan saya harus menyembunyikan Lactabrown. Soalnya kalau ketahuan Aleisha bisa rebutan. Dia kan penyuka coklat. Dan Lactabrown itu nyoklat banget. Haduh pokoknya nggak bisa berhenti makan. Lha kok tahu ada booster ASI enak begini? Saya dapat ratjun dari Mbak Siska di grup Rumah Puspa. Tapi berhubung harganya lumayan untuk saya yang stay aja di rumah, saya baru sekali beli. Terus ada yang kasih kado Lactabrown dan Milkies dalam jumlah banyak. Alhamdulillah rezeki mamak sholehah. Efeknya lumayan. Baran kalau nenen sampai huek-huek. Continue reading

[RESEP] Ikan Tenggiri Bumbu Woku

Astri Hapsari | @AstriHapsari_

Karena pernah tinggal lama di daerah timur, bahkan sampai sekarang orang tua saya masih tinggal di Sorong, lidah saya jadi terbiasa dengan makanan khas sana. Makassar, Manado, Maluku, Buton, dan Papua sendiri. Kebetulan memang tetangga di sana dari berbagai suku. Nah, salah satu makanan kegemaran saya adalah ikan bumbu woku. Kalau di Sorong saya bisa memilih ikannya sesuka hati. Paling enak tuh pakai ikan kerapu. Hmm… wawawiwaw. Berhubung di bulan, eh Bekasi, tidak terlalu banyak pilihan ikan, saya memakai ikan tenggiri. Resepnya dari Femina. Yuk kita eksekusi. Continue reading