7 Kunci Sukses Dee Lestari Menjadi Penulis

DSC_0335

Siapa yang suka membaca novel karya Dee Lestari? Saya yakin, kamu bukan hanya suka novelnya, tapi juga terinspirasi oleh penulisnya. Novel maupun buku kumpulan cerita karya Dee Lestari memang fenomenal. Selain best seller, beberapa di antaranya sudah diangkat ke layar lebar. Sebut saja Perahu Kertas, Rectoverso, Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, dan yang terbaru adalah Filosofi Kopi.

Bagi yang terinspirasi menjadi penulis seperti Dee Lestari, tentunya ingin tahu perjuangan Dee Lestari meniti karirnya menjadi penulis. Hari Sabtu tanggal 18 April 2015, para penggemar Dee Lestari merasa beruntung karena bisa mendengar dan menimba ilmu langsung.

DSC_0361Yup, The Flavor Bliss mengadakan acara bertajuk Woman In You. Salah satu rangkaian acaranya adalah talk show yang menghadirkan Dee Lestari. Tentunya banyak penggemar yang antusias ingin tahu kisah sukses Dee Lestari, baik sebagai penyanyi maupun penulis. Namun para undangan yang hadir justru lebih ingin mengetahui perjalanan karir Dee Lestari menjadi salah satu penulis papan atas Indonesia. Dan Dee tidak keberatan berbagi kunci suksesnya menjadi penulis dan bagaimana mendapatkan ide untuk tulisannya.

1. Berani Bermimpi

Saat duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, Dee bermimpi ingin memiliki buku. Dalam mimpi Dee, kayaknya seru banget melihat buku yang ditulisnya terpajang di toko buku. Untuk mewujudkan mimpinya itu, Dee rajin menulis dan mengirimkannya ke media cetak. Pssttt… seorang Dee pun ternyata juga pernah mengalami pahitnya ditolak media. Bahkan menurut pengakuannya, Dee sempat kehilangan kepercayaan diri. Hingga akhirnya di tahun 2000, Dee menuliskan manuscript Supernova. Buku itu akan dijadikan hadiah untuk Dee yang duduk di bangku kelas lima sekolah dasar dan bermimpi mempunyai buku. Ternyata, novel Supernova ini menjadi novel best seller. Bahkan melejitkan namanya di jajaran penulis papan atas Indonesia.

2. Berani ‘Gila’

Namun mungkin tidak banyak yang tahu, Dee menerbitkan sendiri novel Supernova. Dia ingin manuscript Supernova terwujud dalam bentuk buku saat ulang tahunnya di bulan September tahun 2000. Sedangkan penulisan Supernova sendiri dimulai bulan Januari di tahun yang sama. Apabila diterbitkan melalui penerbit, pasti diperlukan waktu yang lama. Dee pun mendatangi percetakan, lalu bertanya, “Saya punya uang sekian, kalau cetak buku jadi berapa?”

Ternyata dana yang dimiliki Dee, cukup untuk mencetak sebanyak lima ribu eksemplar. Namun ketika buku selesai dicetak, Dee kecewa karena tampilan bukunya agak kacau. Kemudian Dee mencetak lagi sebanyak dua ribu eksemplar.

Gila! Itu komentar teman-teman Dee. Penerbit biasanya mencetak paling banyak tiga ribu eksemplar. Dan Dee berani mencetak sendiri sebanyak total tujuh ribu eksemplar. Tapi siapa sangka, tujuh ribu eksemplar novel Supernova ludes hanya dalam waktu dua belas hari saja.

3. Membuat Deadline Untuk Diri Sendiri

Bagi Dee, deadline itu penting. Ketika mulai menulis, Dee selalu membuat deadline untuk dirinya sendiri. Bahkan deadline-nya itu, dia umumkan ke keluarga, teman, dan followers-nya di social media. Tujuannya supaya mereka menagih karya yang sedang ditulis Dee. Menurut Dee, deadline bukanlah tekanan, tapi sebagai pengingatnya untuk berhasil menyelesaikan karya. Dan deadline pribadi akan membuat Dee disiplin waktu. Lama-kelamaan Dee memiliki jam atau waktu yang khusus untuk menulis. Dee juga mengatakan, saat sudah disiplin dengan waktu, ide akan lebih mudah mengalir.

4. Hanya Mau Menulis Sesuatu yang Memiliki Story

Menurut saya, karya Dee selalu memiliki karakter dan cerita yang kuat. Kamu setuju? Ternyata Dee tidak pernah sembarangan menjadikan suatu objek sebagai tema tulisannya. Dee tidak pernah mau menulis sesuatu yang tidak ada storynya. Tanpa story, karakter maupun cerita tidak akan menarik.

Misalnya Madre. Dee mendapatkan ide Madre ketika sedang kursus membuat roti. Saat itu, instrukturnya memberi informasi mengenai ragi hidup. Lalu tercetuslah ide tentang ragi hidup yang turun-temurun.

Lalu Filosofi Kopi. Menurut pengakuannya, Dee bukan penggemar kopi. Namun melihat temannya yang tersenyum saat menyeruput kopi, atau mendapat ide saat menikmati aroma kopi, Dee mengambil kesimpulan, kopi adalah minuman yang menyenagkan.

Lain lagi tentang Rico de Coro, seekor kecoa yang jatuh cinta kepada manusia. Ide cerita ini berawal dari ketakutan Dee terhadap kecoa. Hingga suatu hari saat sedang mandi, Dee mendapati seekor kecoa di dinding kamar mandi. Sepanjang aktivitas mandi, Dee selalu berhati-hati dan memperhatikan si kecoa agar tidak terbang ke arahnya. Di situlah muncul ide Rico de Coro. Kemudian untuk jalan ceritanya, terinspirasi dari abangnya yang menjadikan kecoa sebagai makanan untuk ikan arwana.

Jadi Dee menyarankan, untuk mendapatkan story, seorang penulis harus menjadi pengamat. “Penulis yang baik adalah pengamat yang baik,” pesannya.

5. Melakukan Riset yang Dalam

Kekuatan jalan cerita di setiap novel Dee tentunya melalui riset yang dalam. Dee melakukan riset melalui internet, studi pustaka, dan wawancara narasumber. Bahkan untuk mendalami karakter dan alur cerita Perahu Kertas, Dee kos bersama mahasiswa di Bandung selama tiga bulan.

“Perahu Kertas kan ceritanya muda sekali. Ya walau saya pernah kuliah, tapi pasti banyak sekali perbedaan dengan mahasiswa jaman sekarang. Dari mulai gaya, cara bergaul, dan bahasa yang digunakan.”

Meski ngekos, Dee tidak tidur di sana. Dia hanya datang pagi, lalu sorenya pulang ke rumah. Jadi kosan itu seperti kantor untuk Dee.

Namun ada juga cerita yang sumbernya hanya dari satu buku, yaitu Filosofi Kopi. Ya, semua hal tentang kopi, Dee pelajari dari ensiklopedia. Selebihnya adalah imajinasi dari Dee. Luar biasa!

6. Tulis yang Ingin Kita Baca

Setiap menulis cerita atau lirik lagu, Dee selalu memastikan cerita atau lirik lagu itu benar-benar ingin dia baca atau dengar.

“Buat apa kan kita nulis cerita yang kita sendiri tidak mau membaca. Atau menulis lirik lagu, tapi kita tidak suka mendengarnya.”

Menurut Dee, jika kita menyukai apa yang kita tulis, tentu akan lebih total saat menulisnya. Pembaca atau pendengar juga akan suka.

7. Berani Belajar Gagal dan Berani Belajar Sukses

Gagal itu pasti akan dialami setiap orang. Seperti halnya yang pernah dirasakan Dee di awal karir penulisannya. Namun ketika gagal, Dee berpesan untuk berani mencoba dan terus mencoba. Jangan pernah putus asa. Satu hal lagi yang ditekankan Dee, yaitu berani belajar sukses. Menurut Dee, kesuksesan sering kali membuat orang terlena. Jadi harus belajar supaya bisa mengelola hati dan emosi agar siap ketika sukses datang.

 

Nah, siapa yang terinspirasi menjadi penulis seperti Dee Lestari? Pastikan kamu mempraktekan ketujuh hal di atas ya. Sebenarnya lebih seru lagi ya kalau bisa ikut workshop atau coaching clinic sama Dee. Karena talkshow saja tidak cukup untuk menggali banyak ilmu dari Dee. Sayangnya, saya ketinggalan informasi Dee’s Coaching Clinic di Jakarta tanggal 5 April lalu. Semoga nanti ada kesempatan untuk ikut workshop atau coaching clinic Dee berikutnya.

 

6 thoughts on “7 Kunci Sukses Dee Lestari Menjadi Penulis

  1. Hmmm.. serasa ikutan hadir dalam acara itu…
    7 kuncinya itu : Berani Mimpi, Berani Gila, Membuat deadline untuk diri sendiri, Menulis sesuatu yang memiliki cerita, lakukan riset yang dalam, tulis yang ingin kita baca, berani gagal dan berani sukses…

    7 juga termasuk angka yang menghipnotis ya bu astri.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ 2 = three