Ada Dia di Matamu

“Kenapa kamu tidak mau bersamaku lagi, Kay?”

“Ada dia di matamu.”

“Maksudmu?”

“Bagaimana aku bisa bersamamu kalau matamu selalu menatapnya, Al. Saat kita berdua, kamu selalu lekat memandangnya. Seolah di matamu hanya ada dia. Bukan aku. Ketika kita sedang lunch atau dinner, kamu malah asyik dengan dia. Kamu bisa tersenyum bahkan tertawa. Kamu seperti punya dunia sendiri. Kadang aku merasa tidak bisa masuk dalam duniamu. Mungkin bagimu aku tidak pernah nyata ada.”

Aldo menunduk. “Maafkan aku, Kay.”

“Sudah terlalu sering kamu minta maaf, Al.”

“Tapi Kayla. Aku mencintaimu. Aku ingin menikah denganmu.”

Kayla memandang Aldo sinis. “Aku mau menikah denganmu jika kamu meninggalkan dia.”

“Benarkah kamu tidak mau menerima kehadirannya?” Aldo masih menawar.

Kepala Kayla menggeleng kuat-kuat. “Jika masih ada dia diantara kita, aku tidak bisa lagi bersamamu.”

Kayla mengambil tasnya. Lalu berlalu dari hadapan Aldo.

“Kay….” Pelan Aldo memanggil. Namun Kayla tidak peduli. Ia terus melangkah. Keluar dari restoran, ia mengintip di balik kaca.

“Sudah aku duga, Al. Baru berapa menit aku pergi, kamu sudah asyik lagi dengannya, BBmu.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


seven − = 4