Anak Perempuan Boleh Main Mobil-mobilan

Sumber gambar dan capture: www.moms365.com

Sumber gambar dan capture: www.moms365.com

Awal bulan ini, Aleisha minta dibelikan mainan mobil-mobilan. Karena sudah lama nggak beli mainan, dan belum pernah punya mobil-mobilan, saya pun mengiyakan. Saat akan berangkat ke toko mainan, tiba-tiba utinya nelpon.

“Ti, nanti ya ngobrolnya,” kata saya begitu mengangkat telepon.

“Emang mau ke mana?” tanya Uti.

“Ini Cica mau beli mobil-mobilan,” jawab saya.

“Perempuan kok dibelikan mobil-mobilan,” terdengar sahutan akungnya. Mungkin teleponnya di loud speaker.

“Iya, Cica. Beli yang lain aja. Masa mobil-mobilan,” tambah utinya.

Ingatan saya melayang ke jaman 20 tahun yang lalu. Alamak so old yaaa 😀 Jadi berasa tua *hihihi. Sore itu, hujan baru saja mengguyur. Masih ada sedikit gerimis. Dari jendela kamar, saya melihat teman-teman sedang bermain bola di tanah becek. Duh seru banget kayaknya. Maka tanpa pikir panjang, saya langsung kabur dan bergabung dengan mereka. Baru lima menit bermain, terdengar suara ayah saya memanggil. Dan begitu melihat wajahnya, saya langsung mengkeret. Udah tahu bakal dimarahin.

“Cah wedok kok dolanan bal-balan!” (Anak perempuan kok main bola)

“Besok dibeliin sepatu bola ya. Main bola aja terus!”

“Nggak pantes dilihat tetangga!”

Duh, saya jadi nangis dimarahin seperti itu. Padahal yang main bola bukan teman cowok aja. Ada teman cewek juga. Ya, sejak kecil mainan saya sudah dikotak-kotakan gendernya oleh orang tua. Saya nggak boleh main bola, kelereng, panjat pohon, robot, dan mainan anak laki-laki lainnya. Bahkan urusan warna pun, saya nggak boleh suka warna biru. Harus pink. Setiap saya minta dibelikan barang dan minta warna biru, pasti langsung ditolak. Disuruh pilih warna pink. Padahal saya paling suka dengan birunya langit dan laut.

And now… saya nggak mengulang pengkotak-kotakan mainan di masa childhood saya ke Aleisha. Yup, saya membebaskan Aleisha main apa pun. Termasuk mainan anak laki-laki seperti mobil-mobilan, robot, dan lainnya. Maka, meski sempat diomelin uti dan akungnya, saya tetap membelikan Aleisha mobil-mobilan. Saya ingin dia bebas berimajinasi dengan mainannya. Bahkan jika Aleisha main bola atau memanjat pohon pun, saya nggak akan melarang.

Saat datang ke open house SAN Bekasi. Sumber foto: FB SAN Bekasi (croping)

Saat datang ke open house SAN Bekasi. Sumber foto: FB SAN Bekasi (croping)

Menurut psikolog anak Ajeng Raviando, Psi. di salah satu artikel parenting detik[dot]com, ketika anak masih kecil terutama di usia balita, mereka harus sudah mulai diasah daya imajinasinya karena akan mempengaruhi cara berpikirnya di masa depan. Maka dari itu, Anda disarankan agar tidak membatasi permainannya. Sebenarnya nggak perlu ya terlalu mengkotak-kotakan antara anak perempuan dan laki-laki karena menurut semakin lama pemikiran mereka semakin berkembang sesuai dengan imajinasi mereka. Biarkan mereka berimajinasi tapi tetap mendampingi mereka agar tidak keluar batas ketika berusaha mengembangkan daya kreativitasnya.

Psikolog perkembangan anak lainnya, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, juga menjelaskan di artikel kesehatan detik[dot]com agar tidak perlu membedakan gender saat memilihkan permainan. Hal tersebut supaya anak-anak lebih terstimulasi. Orang tua sebaiknya tidak melarang, tapi mendampingi dan mengarahkan mereka ketika bermain.

Yup, saya setuju dengan pendapat kedua psikolog anak tersebut. Bahkan saya geli sendiri waktu menemani Aleisha bermain mobil-mobilan.

“Bunda, mau ke pasar? Yuk, aku anterin naik mobil.”

Nah kan. Imajinasinya tetap nggak jauh kok dari dunia perempuan. Ke pasar *hahaha. Kadang dia juga berimajinasi berangkat sekolah naik mobil-mobilannya. Jadi saya nggak perlu khawatir ketika Aleisha bermain mainan anak laki-laki. Asalkan saya tetap mendampinginya bermain. Malah rencananya, bulan depan saya ingin membelikan mainan tukang-tukangan 😀 Beberapa kali ke toko mainan, dia tertarik dengan mainan tukang-tukangan.

Terus nanti kalau punya anak laki-laki, boleh gitu mainan boneka atau masak-masakan?

Kenapa nggak boleh? Terkadang di tangan anak perempuan dan laki-laki, boneka bisa berbeda imajinasi. Anak perempuan akan menimang boneka seperti anak bayi. Memandikan, mendandani, dan memperlakukannya seperti adik atau anak. Tapi di tangan anak laki-laki, boneka malah diajak main perang-perangan. Atau berimajinasi di dalam hutan karena bonekanya berbentuk binatang. Mungkin saja mengumpamakan boneka sebagai seseorang yang harus ditolong saat dinosaurus mengamuk.

Nah, kalau masak-masakan, bisa menjadi media untuk memperkenalkan bahan-bahan makanan, sayuran, atau buah-buahan. Siapa tahu kan anak lelaki kita nantinya menjadi chef seperti Gordon Ramsay, my favorite chef. Kalau pun nggak jadi chef, anak lelaki tetap harus diperkenalkan pekerjaan domestik seperti memasak. Supaya nanti bisa meringankan tugas istrinya di dapur *hahaha.

So, nggak perlu khawatir anak-anak bermain dengan mainan yang menurut kita nggak sesuai gender. Asalkan kita sebagai orang tua terus mendampinginya. Supaya kita tahu imajinasi anak-anak dan mengarahkan mereka.

Regards,

 

Sumber Bacaan:

Psikolog: Jangan Larang Anak Laki-laki Main Boneka, Ini Alasannya

Anak Laki-laki Suka Bermain Boneka? Kenapa Tidak

10 thoughts on “Anak Perempuan Boleh Main Mobil-mobilan

  1. Pingback: Putriku Penggemar Dinosaurus | @AstriHapsari_ | Astri Hapsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ six = 15