Aleisha dan Sepeda Barunya

 

 

“Uuhhh… Eee….” Mendadak Aleisha meronta ingin turun dari gendongan. Tangannya menunjuk-nunjuk sesuatu. Mata saya mengikuti arah tangannya. Oh ternyata melihat anak tetangga yang sedang naik sepeda. “Uuuuuuhhhhh….” Aleisha meronta lebih keras lagi. Saya membawanya mendekat ke Teteh Raisa. Begitu tiba di depan sepeda, ia langsung minta naik. Untungnya si teteh baik hati meminjamkan sepedanya. Aleisha terliat girang. Tertawa sambil berteriak gembira. Saya pun memanggil suami.

“Anaknya minta sepeda tuh, Kak,” rayu saya ketika suami datang.

“Halah. Kalau anak minta jangan langsung dituruti,” jawab doi dengan cueknya.

Saya mendelik, “Pelit amat.”

Lalu saya menggendong Aleisha. Reaksinya… nangis kejer. Tapi yandanya tidak bergeming. Ih kikirnya. Saya makin kesal. Hingga akhirnya datang utienya dari Sorong. Melihat cucunya pingin sepeda, Utie melepon Akung.

“Kung, cucunya nih minta sepeda. Lihat sepeda tetangga teriak-teriak.”

Dan… besoknya Akung mengirim uang buat beli sepeda. Dan yandanya spechless. Hahaha… makanya jangan pelit. Padahal harga sepedanya cuma tiga ratus ribu.

Ternyata keputusan membeli sepeda tidak salah. Saya atau utienya bisa nyambi beberes. Tinggal dudukin di sepeda, pasang mainan, anteng deh. Bisa ditinggal cuci, mandi, atau sholat. Aleisha suka sekali dengan sepedanya. Pertama saya tunjukkan, ia langsung ketawa sambil lonjak-lonjak. Asal jangan bosen naik sepeda aja ya, Nduk.

3 thoughts on “Aleisha dan Sepeda Barunya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


8 × = sixteen