Aleisha Sudah Siap Sekolah

Sumber gambar : http://thepioneerwoman.com/

Sumber gambar : http://thepioneerwoman.com/

Sebenarnya ketika memutuskan Aleisha sekolah di usia 3 tahun, saya sempat maju mundur cantik. Saya agak khawatir terlalu cepat menyekolahkan Aleisha akan membuat dia bosan. Meski sekolah yang saya pilihkan cukup fun, nyaman, dan ramah anak. Sempat saya berpikir, ah kan masih preschool jadi bisa lah emaknya yang ngajarin di rumah. Tapi ternyata suami malah mendukung untuk menyekolahkan Aleisha.

“Anaknya butuh suasana main yang lain. Bukan hanya di rumah atau tetangga. Kita kan belum punya keluangan waktu dan rezeki untuk mengajak dia menjelajah lebih luas.”

Huft… tarik napas. Iya juga sih. Kami memang belum bisa mengajak Aleisha mengeksplorasi lebih dengan mengajaknya jalan-jalan. Salah satu faktornya karena suami kuliah lagi. Tentunya membutuhkan dana yang nggak sedikit. Jadi sekolah menjadi salah satu sarana untuk Aleisha bereksplorasi. Apalagi kan sekolahnya memiliki halaman yang sangat luas, dengan banyak sekali permainan. Pas untuk karakter Aleisha yang di pantatnya seperti ada jarum a.k.a nggak bisa duduk anteng.

Cuma sebelum akhirnya fix mendaftarkan Aleisha ke sekolah, saya memperhatikan kesiapan Aleisha. Kriteria kesiapan si kecil sekolah saya lihat di artikel Mommies Daily berjudul Tanda-tanda Anak Siap Sekolah.

 

1. Si kecil tertarik pada buku dan alat tulis. Di rumah, ia sudah terbiasa menggunakan alat tulis — berupa krayon, pensil warna, ataupun spidol, untuk membuat coretan-coretan tak beraturan di atas kertas atau di dinding.

Haduh kalau ini mah nggak usah diragukan lagi. Entah udah berapa banyak spidol maupun krayon yang saya maupun suami belikan untuk Aleisha. Mulai dari untuk penggunaan yang bener a.k.a buat coret-coret, atau untuk dipatah-patahin. Tembok di rumah udah kayak graffiti aja. Kertas? Buku? Nggak kehitung deh.

 

2. Anak tertarik mendengarkan dongeng yang Anda bacakan, dan kemudian mampu bercerita sedikit ataupun memberikan komentar terkait dongeng tersebut.

Saya membacakan buku sejak Aleisha belum berusia setahun. Jadi pas umurnya dua tahun, dia udah bisa menceritakan isi buku-buku tersebut dengan melihat gambarnya.

3. Si kecil tampak memerhatikan saudara atau temannya yang sudah bersekolah. Seringkali, ia ingin ikut pula menggunakan seragam sekolah dan mengikuti saudaranya bersekolah.

Bukan saudara sih, tapi tetangga. Setiap lihat teman-temannya yang lebih besar sekolah, Aleisha sering merengek minta sekolah.

 

4. Ia sudah mampu bermain sendiri dan juga bermain dengan anak lain. Meski masih belum terasah betul, kemampuan bersosialisasinya sudah mulai tampak saat bermain berkelompok.

Sebenarnya Aleisha udah bisa bermain sendiri. Malah kalau saya lupa menggembok gerbang, waduhhh… udah kabur aja tuh bocah. Cuma saya sering khawatir. Ya tahu sendiri kan kasus penculikan anak merebak di mana-mana. Jadi saya masih sering mengawasi dan menemani dia bermain di luar rumah.

 

5. Si kecil sudah mampu memahami instruksi sederhana, seperti membereskan mainannya sendiri, melepas alas kaki ketika masuk ke dalam rumah, dan sebagainya.

Aleisha udah paham kalau disuruh merapikan mainan, mencuci kaki dan tangan, malah sekarang bisa pipis, pup, dan cebok sendiri. Tapi ya kadang suka kumat mbelgedes. Sengaja ‘melawan’ instruksi emaknya. Mau pipis, malah lari-larian, akhirnya nggak tahan, terus ngewer *hahaha.

 

6. Sudah berani menyampaikan keinginannya walaupun mungkin kata-kata yang digunakan belum terstruktur dengan baik.

“Cica maunya pakai baju frozen.”

“Nggak mau makan nasi. Chococrunch aja.”

“Bunda, main yuk. Aku bosan.”

Iyak, dia udah punya kemauannnya sendiri. Udah bisa bilang dengan jelas juga. Dan emaknya udah nggak bisa maksain karena Aleisha bakal ngamuk.

 

7. Anak meminta—bahkan terkadang merengek, agar Anda mendaftarkannya masuk sekolah. Motivasi yang kuat biasanya akan membuat si kecil lebih cepat beradaptasi dengan kondisi sekolah kelak.

Ini sih nggak ya. Waktu saya tanya, “Beneran mau sekolah?” Dia jawab mau. Terus saya tanya beda lagi. “Sekolah di rumah sama Bunda aja mau?” Dia pun jawab mau juga.

 

8. Si kecil menunjukkan kemandirian dan tidak selalu bergantung pada orangtua ataupun pengasuhnya, dalam arti tidak selalu “nempel” pada ibunya di mana pun ia berada.

Dari hari pertama, Aleisha udah mau bergabung dengan guru dan teman-temannya. Dia juga berani bermain sendiri, sedang emaknya duduk manis. Tapi kalau full ditinggal, Aleisha belum bisa. Kalau dia tahu emaknya nggak ada, pasti nangis. Ya, pelan-pelan aja.

 

OK, semua kriteria udah terpenuhi. Akhirnya saya yakin untuk menyekolahkan Aleisha di playgroup. Apalagi saya melihat anaknya happy di sekolah. Kalau sedang di rumah, pasti selalu minta sekolah lagi. Sampai kadang saya bosan karena hampir tiap jam bilang, “Bunda, Cica mau sekolah lagi.” Ya, kalau kamu senang di sekolah, Bunda juga ikut senang, Nduk.

 

5 thoughts on “Aleisha Sudah Siap Sekolah

Leave a Reply to Armita Fibriyanti Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


five − 1 =