[Resensi] Assalamualaikum Beijing! : Membidik Titik Bernama Setia

 

Judul Buku : Assalamualaikum Beijing!

Penulis : Asma Nadia

Penerbit : Noura Book Publishing (Mizan Group)

Jumlah Halaman : 356 Halaman

Edisi : Soft Cover

ISBN : 6021606159

ISBN-13 : 9786021606155

Ukuran : 200 x 130 x 0 mm

Berat : 280 gram

Harga : Rp 54.000,-

Ajarkan aku mantra pemikat cinta Ahei dan Ashima, maka akan kutaklukkan penghalang segala rupa agar sampai cintaku padanya.

Kesetiaan…

Apakah kesetiaan sejati nyata adanya? Atau hanya milik putri dan pangeran dalam negeri dongeng? Seperti kesetiaan milik Ashima dan Ahei. Namun bila memang kesetiaan ini ada, siapakah yang beruntung memilikinya? Perlukah perjuangan untuk mendapatkan sebuah kesetiaan?

Adalah Ra. Empat tahun ia menyerahkan kesetiaannya kepada Dewa. Bagi Ra, Dewa adalah lelaki yang (awalnya) ia harapkan menjadi pendamping. Namun, hanya sebulan sebelum pernikahan mereka, Dewa mematahkan salah satu sayap Ra. Membuat gadis itu berjalan tertatih. Di tengah keterpurukannya karena patah hati, Ra berjuang untuk bangkit. Ia bahkan memberi tenggat bagi dirinya sendiri.

Lain halnya dengan Asma. Dalam perjalanan tugas dari kantornya ke Beijing, ia bertemu dengan Zhongwen. Walau baru bertemu, Zhongwen dengan percaya diri bercerita tentang Ashima dan Ahei. Mitos Yunnan kuno yang bercerita tentang kesetiaan. Namun Asma gamang. Benarkah ada kesetiaan? Kalau pun ada, kesetiaan membutuhkan dua orang. Bukan hanya dari satu orang. Asma meragukan arti kesetiaan setelah Papa meninggalkan ia dan Mama. Dan ketika ia merasakan rindu yang sama dengan Zhongwen, sebuah cobaan menghampirinya. Asma memutuskan untuk menjauh dari Zhongwen.

Bicara tentang cinta, memang tak akan pernah ada habisnya. Namun bila yang membicarakan cinta adalah Mbak Asma Nadia, cinta menjadi berbeda warnanya. Ketika kesetiaan diragukan, Mbak Asma mengajarkan untuk tak membenci. Bahwa masih banyak lelaki yang baik dan setia. Lalu ketika menghadapi keterpurukan, Mbak Asma menuntun melalui sosok Ra dan Asma untuk tetap berdiri tegak.

Tutur kata Mbak Asma yang lembut tak membuat kita merasa digurui. Justru membuat saya instropeksi. Adakah saya akan setegar Asma menghadapi penyakit seumur hidupnya? Ah, ternyata masalah saya tak seberat cobaan yang dialami Asma. Iya memang hanya novel, tapi saya benar-benar ‘masuk’ dan berada di dalamnya. Menikmati setiap episode Dewa, Ra, Asma, dan Zhongwen.

Assalamualaikum, Beijing! Judul novel terbarunya Mbak Asma Nadia masuk ke inbox saya di akhir September lalu. Toko buku online langganan saya menawarkan untuk pre order. Maka, tanpa pikir dua kali saya langsung memesan buku tersebut. Hmmm… Membaca judulnya, saya membayangkan novel ini seluruhnya ber-setting di Beijing. Seperti Ayat-ayat Cinta yang menarik saya untuk menjelajah Mesir. Atau novelnya Mbak Sinta Yudisia, The Road to The Empire, yang membuat khayalan saya berkelana di Mongolia. Tapi… meski porsi Beijingnya tak terlalu banyak, Mbak Asma berhasil menggambarkan Beijing dengan sangat apik. Bahkan membaca Asma jalan-jalan di Beijing, seolah melihat Mbak Asma Nadia yang backpaker-an keliling Cina 😀

Entah karena Mbak Asma Nadia penulis yang tak diragukan lagi kehebatannya, atau saya yang ngefans berat sama beliau, novel Assalamualaikum, Beijing! nyaris tidak saya temukan kekurangannya. Covernya yang adorable, tak ada typo *semoga bukan karena mata saya yang empat :p, ukuran hurufnya pas di mata, dan pengaturan tiap halamannya sangat rapi. Sepertinya Mbak Asma memang menyiapkan setiap karyanya dengan sempurna. Kalau saya nggak sok tahu, Mbak Asma terlihat ingin membahagiakan pembacanya. And you know Mbak Asma? Saya sangat bahagia membaca Assalamu’alaikum, Beijing! 🙂

Spoiler, siapkan waktu khusus untuk membaca buku ini. Percaya deh, mata tidak akan rela melewatkan kata demi kata romantis ala Mbak Asma. Tangan ingin terus membuka lembar demi lembar. Untungnya hari itu nasabah lagi sepi. Dan semoga bu boss nggak baca blog ini. Jadi nggak ketahuan baca di kantor Hahaha… *ups. Terus… siapkan juga napas yang panjang. Inhale. Exhale. Asli berdebar-debar dan membuat saya menahan napas ketika sampai di tengah bab. Di sini mulai terlihat muara kisah Dewa – Ra dan Asma – Zhongwen. Ada kejutan manis di endingnya 😉

11 thoughts on “[Resensi] Assalamualaikum Beijing! : Membidik Titik Bernama Setia

    • Terima kasih, Mbak Asma
      Sedang terus belajar menulis termasuk menulis resensi
      Btw berbunga2 lhooooo dikunjungi Mbak Asma 😀

  1. mba ngga butuh tissue pas bacanya? aku mah mewek-mewek sampai harus berhenti baca sejenak pas adegan zhongwen masuk islam, saat asma di lamar, saat asma hilang ingatan, saat asma memikirkan kebahagiaan ibunya disakitnya hiks… tapi keren banget novelnya

Leave a Reply to desinamora Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


eight × 2 =