Belajar dari Kesederhanaan dan Ketulusan Seorang Ainun

Bosan kepada pasangan? Hmmm…. Sepertinya saya belum mengalaminya. Saya menikah 1,5 tahun yang lalu tanpa pacaran. Jadi bagi saya setiap hari adalah menemukan the something new from him. Tapi bukan tidak mungkin suatu saat nanti di antara kami mengalami kebosanan. Saya bisa memaklumi mereka-mereka yang dilanda kebosanan kepada pasangannya –suami atau istri. Coba bayangkan. Setiap bangun tidur, wajah siapa yang pertama kali dilihat? Pasti suami atau istri bukan? Lalu menjelang tidur, lagi-lagi yang kita temui terakhir adalah suami atau istri.

 

Dalam rumah tangga yang dibangun sekian puluh tahun, saya yakin ada kebosanan yang melanda. Namun disitulah letak ujian bagi pasangan yang sudah menikah. Kita harus selalu berpikir kreatif untuk membangun keharmonisan tanpa rasa bosan. Atau mengembalikan kehangatan saat rasa bosan hadir.

 

Untuk membangun rumah tangga, saya banyak belajar dari sepasang manusia yang cintanya telah teruji selama 48 tahun. Ya, Habibie dan Ainun. Berikut ini beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kehidupan rumah tangga Habibie dan Ainun.

 

Setia Mendampingi Suami

 

“Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri. You pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya.”

 

Saya tersentak ketika mendengar ucapan Pak Habibie ini. Bu Ainun selalu mendampingi selama 48 tahun? Betapa setianya Bu Ainun. Ia memilih meninggalkan karirnya demi suami dan anak-anaknya. Pengorbanan yang tidak mudah memang. Saya sadar itu. Tapi saya ingin seperti Bu Ainun. Selalu mendampingi suami kapan pun dan di mana pun. Di benak saya tidak pernah ada keinginan untuk menjalin hubungan jarak jauh. Sebisa mungkin saya ingin mendampingi suami. Siapa yang akan mengurus kebutuhan seorang suami jika bukan istrinya. Semandiri-mandirinya seorang lelaki, ia tetap membutuhkan istrinya.

 

Sedikit Mengeluh dan Banyak Bersyukur

 

“Ainun selalu mandiri dan tidak pernah mengeluh dan mengganggu pekerjaan saya. Seberat apapun pekerjaannya, ia selalu memberi senyumannya yang menenangkan saya dan selalu kurindukan sepanjang masa.”

 

Bu Ainun tidak pernah mengeluh. Walaupun awal hidup di Jerman, keuangan mereka sangat pas-pasan. Tapi Bu Ainun selalu tersenyum. Menerima dengan ikhlas berapa pun yang Pak Habibie berikan. Tidak protes keras atau bermuka masam. Saya jadi ingin berkaca. Sudah ikhlaskah saya dengan pemberian suami? Apakah saya selalu bersyukur dengan rizki yang Allah berikan lewat suami? Bu Ainun bahkan tidak pernah mengeluh ketika sakit.

 

“Gini ya. Saya mau kasih informasi. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya. Tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu.”

 

Saya? Sedikit-sedikit mengeluh. Kepala pusing mengeluh. Kaki kram mengeluh. Padahal bukan penyakit parah *huhuhu. Terus tidak boleh mengeluh? Tentu saja boleh. Tapi bukan berarti sedikit-sedikit mengeluh. Terkadang suami lebih menyukai seorang istri yang tegar. Dalam sakitnya masih bisa tersenyum.

 

Tidak Menuntut Suami

 

“Ainun tidak pernah menuntut dan memberi persoalan, sehingga saya dengan tenang dapat konsentrasi pada pelaksanaan tugas dan perkerjaan yang sedang saya hadapi. Yang diperhatikan Ainun adalah semua yang berkaitan langsung dengan kesehatan saya. Sering Ainun sebagai seorang dokter memeriksa kesehatan saya termasuk denyutan dan getaran jantung dengan alat kedokteran yang dia miliki.”

 

Beban di tempat bekerja pastilah sudah sangat berat. Lalu apa yang diinginkan suami? Sebenarnya setiap suami menginginkan hal yang sederhana. Ia hanya ingin ketika sampai di rumah, disambut dengan senyum tulus sang istri. Itu sudah cukup untuk mengurangi beban suami. Tidak perlu menambah dengan menceritakan persoalan rumah tangga. Biarlah suami tahu bahwa urusan rumah tangga sudah beres di tangan istri. Dan Bu Ainun mampu melakukannya dengan senyumnya yang memukau.

 

 

Menjadi ibu rumah tangga memang bukan pilihan mudah. Bu Ainun justru memilihnya demi suami dan anak-anaknya. Ia menjadi wanita sederhana, tulus, dan bersahaja. Namun itulah yang membuat Pak Habibie sangat mencintai Bu Ainun. Tanpa rasa bosan sedikit pun. Saya rasa, semua suami tidak akan bosan memiliki istri dengan kesetiaan dan ketulusan seperti Bu Ainun.

 

“Ainun selalu menyapa dengan senyuman dan pandangan mata yang memukau dan saya rindukan selalu.”

 

 

*) Kutipan diambil dari buku Habibie dan Ainun

One thought on “Belajar dari Kesederhanaan dan Ketulusan Seorang Ainun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− one = 7