Belanja Perlengkapan Bayi

 

 

Kapankah saat yang tepat membeli perlengkapan bayi? Kalau menurut orang Jawa, setelah tujuh bulan. Nanti pamali. Nah lho, pamali kan bukan bahasa Jawa *enggak nyambung hihihi.

 

“Ntar aja, As. Habis tujuh bulan. Orang tua bilang enggak boleh sebelum tujuh bulan,” kata sepupu.

 

Saya sih positif saja. Jaman dulu belum ada USG. Orang suka tebak-tebakan, laki-laki atau perempuan. Mungkin khawatir salah pilih warna. Tapi pada kenyataanya, saya membeli perlengkapan bayi di usia kehamilan 30 minggu. Bukan… bukan karena njawani. Memang punya uangnya pas lewat tujuh bulan *hehehe.

 

Kata orang, membeli perlengkapan bayi itu menyenangkan. Bisa bikin emaknya lupa diri alias kalap. Apalagi baby stuff unyu-unyu banget. Pingin ini, pingin itu. So, supaya tidak boros, saya mencatat kebutuhan yang harus dibeli. Minimal sampai bayi umur tiga bulan. Budget tidak lebih dari satu setengah juta.

 

Tanggal 6 April 2012, saya pun pergi ke Tanah Abang sama si doi. Soalnya saya butuh kuli buat mengangkut belanjaan *hihihi istri enggak sopan. Putar-putar dulu. Cari lapak yang cocok di hati. Malas banget kan kalau penjualnya jutek. Voila! Saya berhenti di sebuah lapak yang mbaknya ramah banget.

 

“Mbak, duduk sini aja,” katanya sambil menyodorkan kursi. “Tinggal bilang mau apa, nanti saya ambilkan.”

 

Wah, suka banget sama pelayan model begini. Dia tahu pembeli adalah raja. And then, sambil pegang catatan, saya tunjuk-tunjuk saja. Popok, bedong, selimut, baju, celana, de el el. Mbaknya dengan sigap mengambilkan semua yang saya sebutkan.

 

“Ih enggak mau yang ini, Mbak. Ganti ya. Mau yang plastiknya belum dibuka,”

 

Memang dasar emak bawel. Tapi mbaknya enggak mengeluh lho. Tetap senyum dan mengambilkan yang saya mau. Sayangnya ada beberapa barang yang tidak ada di toko itu. Jadilah saya harus berputar-putar lagi. Saya dan si doi baru berhenti belanja menjelang sholat Jumat. Sambil menunggu si doi jumatan, saya menghitung total belanja.

 

What? Dua juta.

 

Cuma barang-barang begini dua juta?

 

Belum lagi perlengkapan ASI yang sudah saya beli. Kalau ditotal nyaris lima juta. Glek! Alhamdulillah breast pump, sterilizer, botol dan plastik ASIP, nursing apron, dan clodi dicicil jauh-jauh hari. Banyak juga kebutuhan bayi itu. Padahal barangnya printil-printil dan kecil, tapi menghabiskan uang. Beruntung jadi anak pertama. Semuanya baru. Kalau adiknya, ya mau enggak mau warisan dari kakaknya.

 

Nah, saat merencanakan membeli baby stuff, saya benar-benar memikirkan kegunaan dan usia pakainya. Apakah saya benar-benar butuh? Supaya menghemat pengeluaran. Berikut ini barang-barang yang saya coret dari daftar my baby stuff.

 

Stroller

Sebenarnya agak bingung juga waktu memutuskan beli stroller atau tidak. Kalau lagi jalan-jalan lebih enak pakai stroller. Enggak capek gendongnya. Tapi apa iya mau setiap hari jalan-jalan?

“Temenku strollernya nyewa, Mbak,” kata seorang teman.

Langsung saya cari info tentang penyewaan stroller. Wow, ternyata murah lho. Pakai layanan antar jemput lagi. Akhirnya saya putuskan untuk tidak membeli stroller. Cuma kalau ada yang kasih kado, ya enggak nolak *hehehe.

 

Box Bayi

Pernah baca katanya bayi jauh lebih nyaman tidur bersama ibunya. Lagipula saya tidak tahu kondisi my baby nantinya. Tahu-tahu umur empat bulan enggak mau ditaruh di box. Kan sayang. So, box bayi saya coret dari daftar perlengkapan bayi yang harus dibeli. Saya memilih membeli tempat tidur biasa ukuran 120. Siang tidur di kamarnya, malam tidur sama emaknya. Bisa dipakai juga kalau eyang, om, dan tantenya menginap.

 

Dot

Sejak sebelum hamil, saya sudah bercita-cita untuk memberikan ASI. Maunya sih berhenti kerja. Tapi apa mau dikata, belum diizinkan. So, pemberian ASIP menjadi jalan keluar. Nah, saya takut my baby bingung putting ketika minum ASIP dengan dot. Makanya dot pun tidak masuk daftar list kebutuhan my baby.

 

Diaper Pospak

Dulu setiap ke supermarket dan melihat diaper pospak, saya sering iseng menghitung uang buat beli diaper pospak tiap bulannya. Hasil hitungan membuat mata kadang melotot. Enggak mungkin membeli diaper murahan. Khawatir lecet, ruam, atau iritasi. Tapi beli yang mahal, ihik menguras kantong. Beruntung sekarang ada cloth diaper ya. Di rumah sudah stok kurleb 15 biji clodi. Walaupun mungkin nanti bakalan jarang dipakai. Saya berencana membiasakan ‘tatur’ supaya di umur satu tahun tidak mengompol lagi.

 

Warmer

Ada yang bilang warmer dan sterilizer tidak terlalu perlu. Sterilisasi tinggal siram air panas. Menghangatkan juga bisa direndam air panas. Tapi kalau sterilizer, saya tetap butuh. Jadi pilih sterilizer yang juga berfungsi sebagai warmer.

 

Mainan

Sebenarnya ingin sih ya beli mainan. Tapi enggak ah. Menunggu kado dari om dan tante saja. Duit emaknya sudah habis *hahaha. Jadi kalau mau kasih kado, request mainan ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


2 + five =