Berani Mengambil Keputusan Resign dan Allah Mencukupkan Rezeki Kami

Mama, Adik, Aleisha, dan Aku. Sebelum Mama Sakit

Sebelum Mama Sakit

Mama sakit!

Aku terdiam membaca kabar yang dikirimkan suamiku melalui pesan Whatsapp. Ah, hal yang selama aku takutkan terjadi juga. Fisik mama tentunya tidak berimbang dengan tenaga Aleisha yang super aktif. Sejak awal, aku tidak setuju usul suami saat meminta tolong mama untuk menjaga Aleisha. Bukan kewajiban mama menjaga cucunya. Tapi aku dan suami tak punya pilihan lain. Kami tidak mempercayai orang lain mengasuh Aleisha. Kami juga tidak tega menitipkan Aleisha di day care. Dan pada akhirnya mama sakit karena kelelahan menjaga Aleisha. Perasaan berdosa terus menyelimuti hatiku. Maafkan kami, Mama.

Sebenarnya ketika Aleisha lahir, aku sudah mengajukan proposal resign kepada suami. Namun suamiku menolak. Ya, aku mengerti. Kondisi keuangan kami belum memungkinkan aku berhenti bekerja. Kami masih memiliki banyak tanggungan. Terus sekarang bagaimana? Mama tidak mungkin lagi mengasuh Aleisha. Kata dokter, mama harus bed rest dalam jangka waktu lama. Keinginan untuk resign terlintas lagi. Tapi tetap saja keraguan meliputi hatiku. Apakah dengan satu pintu pendapatan, kami dapat membayar cicilan rumah? Kami tetap dapat hidup layak? Kami bisa memberi kepada orang tua? Dan juga untuk menabung? Dalam keadaan ragu, aku teringat sebuah ayat dalam Al Qur’an, bahwa Allah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya.

Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.

QS. Hud [11] : 6

Deg! Allah telah berjanji menjamin rezeki semua makhluk di bumi. Dan aku adalah salah satu makhluk ciptaan-Nya. Tentu Allah menjamin rezekiku juga. Mengapa aku harus takut rezeki kami tidak cukup? Aku beristighfar dalam hati. Lalu aku menguatkan diri untuk berani mengambil keputusan. Ya, aku akan resign. Melihat aku sangat yakin dengan keputusanku, suamiku akhirnya menyetujui proposal resignku. Kami tidak punya pilihan lagi. Apalagi sejak dulu, aku selalu ingin mendampingi Aleisha. Melihatnya mencapai setiap milestone tumbuh kembangnya.

Aku hanya ingin selalu memeluknya

Aku hanya ingin selalu memeluknya

26 Juli 2014, aku resmi resign dari kantor. Perasaan lega dan khawatir hadir silih berganti. Lega karena akhirnya aku bisa bersama Aleisha setiap hari. Namun aku juga khawatir karena sekarang kami hanya memiliki satu sumber pendapatan. Ah, mengapa aku masih saja ragu? Maka setiap keraguan datang menghampiri, aku melarutkannya dalam doa. Memohon kepada Allah agar mencukupkan rezeki keluarga kami.

Saat ini, hampir setahun aku menjadi ibu rumah tangga. Dan apakah aku bahagia dengan berani mengambil keputusan untuk resign? Ya, aku bahagia. Lalu apakah rezeki kami cukup? Alhamdulillah, Allah menepati janji-Nya. Selalu saja ada rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Meski di rumah saja, aku juga berusaha membantu suamiku menambah pemasukan untuk kebutuhan belanja. Aku mengerjakan sesuatu yang aku sukai. Sesuatu yang ketika aku mengerjakannya, aku tidak ingin berhenti. Ngeblog. Ya, ngeblog menjadi aktivitasku saat waktuku senggang dan kewajibanku telah tertunaikan. Namun aku tidak mau sembarang menulis walau di blog pribadi. Aku harus menulis hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain. Perlahan tapi pasti, aku mulai mendapatkan rezeki dari blog. Memang belum sebesar gajiku di kantor dulu. Tapi aku mensyukuri setiap nikmat yang Allah berikan.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.

QS. Ar Rahman [55] : 13

 

 

 

2 thoughts on “Berani Mengambil Keputusan Resign dan Allah Mencukupkan Rezeki Kami

  1. alhamdulillah ya mbak Astri…sampai saat ini pemikiranku saja masih pengen untuk bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan sendiri..
    memang rasanya belum siap mbak yang namanya gak ada penghasilan..
    semenjak lahir Davina,sampai sekarang aku masih nganggur..cari kerja juga belum dapet2…rasanya memang masih belum siap..tapi semoga Allah mencukupkan semua kebutuhan keluargaku..sedih juga sih kalau membicarakan hal ini..memang rejeki itu ghoib,hanya Allah yang tau..masih banyak pertanyaan dihatiku..apa memang ini sudah kehendak Dia untuk aku tetap dirumah,dibalik semua financial problem yang ada..Astaghfirullahal adzim..semoga Allah mencukupkan semuanya..dan menjawab pertanyaanku..Amin YRA

Leave a Reply to Anonymous Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


8 − one =