Berjilbab, Berprestasi, dan Tidak Korupsi? Sumpah, Banyak Banget!

Sumber gambar di sini

Belakangan ini media social heboh masalah ibu menteri baru yang tidak lulus SMP, bertato, dan merokok di depan umum. Sebagian membully, nggak lulus SMP kok jadi menteri. Lainnya menganggap merokok di depan publik tidak patut dilakukan seorang menteri perempuan. Ada yang terang-terangan menghujat. Tidak sedikit pula yang mendoakan semoga ibu menteri cepat sadar. Lalu di pihak sebelah pun berteriak membela.

Sumber foto di sini

“Biar gak lulus SMP, tapi sudah berbuat banyak untuk orang lain.”

“Situ sarjana udah bisa kasih makan orang?”

“Dia keren bisa bawa jet sendiri.”

“Ibu itu mengirim sendiri bantuan untuk Aceh.”

 

Jujur, saya memang kurang setuju ya ibu menteri merokok di depan publik . Biar bagaimana pun sebagai orang Timur, tidak pantas perempuan merokok. Kata orang Jawa, ora ilok. Tapi saya malas ikut-ikutan update status tentang beliau. Bahkan belakangan ini saya juga enggan membuka news feed yang isinya hampir semua mengenai Bu Susi. Whatever lah ya para pengguna FB itu mau ngoceh apa. Saya tidak ngefans sama Bu Susi, tapi juga tidak membenci. Jadi saya tidak akan menjelek-jelekkan atau membela mati-matian beliau.

 

Hanya saja nurani saya terusik ketika membandingkan Bu Susi dengan Ratu Atut.

 

“Tuh buktinya yang pakai jilbab juga korupsi. Pilih mana? Merokok dan kerja nyata? Atau berjilbab tapi korupsi?”

Please, kenapa kemudian jilbab yang menjadi sasaran? Open your eyes! Kenapa harus membandingkan Bu Susi dengan Ratu Atut? Apa tidak ada tokoh perempuan lain, berjilbab dan tidak korupsi?

 

SUMPAH, BANYAK BANGET!

Kenapa tidak membandingkan dengan Almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh?

Sumber gambar di sini

Berjilbab, anggota dewan 3 periode yang tidak punya ART, ke-13 anaknya hafiz Qur’an, mampu tilawah 3 juz/hari, sumbangsihnya bukan hanya dalam negeri tapi hingga Palestina, bahkan ketika meninggal pelayatnya ribuan.

 

Kenapa tidak membandingkan dengan Ustadzah Wirianingsih?

Sumber gambar di sini

Ibu dari 10 penghafal Al Qur’an, anggota DPR yang mampu mengatur dan membina keluarga, dan tidak punya pembatu. Beliau bukan hanya saja mampu mengurus keluarga, tapi juga umat.

 

Kenapa tidak membandingkan dengan Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia?

Sumber gambar di sini

 

Sumber gambar di sini

Kakak adik penulis hebat, tokoh sastra paling berpengaruh di Indonesia, buku-bukunya best seller, bertabur prestasi dan penghargaan nasional maupun internasional, dan anak-anak yang sholeh-sholehah.

 

Kenapa tidak membandingkan dengan Hanum Rais?

Sumber gambar di sini

Penulis best seller 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di LangitAmerika, filmnya pun menuai sukses, smart, dan santun.

 

Dan masih banyak lagi. Silakan searching dan Om Google dengan senang hati akan memberi tahu.

 

Anyway, saya tidak bermaksud membandingkan. Biar bagaimana pun setiap tokoh memiliki pengaruh, sumbangsih, dan prestasi masing-masing. Saya hanya tidak rela, jilbab dan korupsi Ratu Atut pada akhirnya mengeneralisir tokoh atau pejabat muslimah lainnya. Mereka yang benar-benar istiqomah dengan jilbab, prestasi, dan amanah jabatannya.

 

So once more, sekali lagi, saya mohon lebih bijak lagi ketika membandingkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× one = 4