Bukan Maksud Hati Melarang Anak Bermain

Saya percaya, Allah sudah menciptakan dan mengatur seorang anak bersikap egosentris. Tanpa sikap egois, ia tak akan bertumbuh menjadi anak yang cerdas.

2014-09-24 16.44.32

Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis status tentang Aleisha, yang saya larang bermain karena bersikap egois terhadap temannya.

SC20140929-051403

Dan pastinya, status tersebut mengundang reaksi berbeda dari teman-teman Facebook. Ada yang mendukung, namun lebih banyak yang menyarankan ‘jangan dilarang’. Di bagian komentar sudah saya jelaskan mengapa saya mengambil sikap tersebut.

Usia Jauh Lebih Tua
Saya melarang Aleisha bermain dengan temannya, ya baru sekarang ini. Ketika kami sedang berada di Sorong, rumah dinas orang tua saya, selama satu bulan. Off course, di sekitar saya adalah ibu-ibu senior yang saya panggil ‘Tante’ atau ‘Bulik’. Dan anaknya yang seusia Aleisha atau lebih tua sedikit, bukan anak pertama.
Awal datang, saya pikir Aleisha akan bersikap manis. Sifat egoisnya memang sudah ada sejak dari Bekasi. Tapi ya sekedar ucapan saja, “Nggak boleh, ini punya Cica.” Saya tidak menyangka dia akan bermain fisik. Menyakar, menyubit, dan mendorong. Otomatis, saya segera menarik bahkan menggendongnya. Kemudian minta maaf kepada tante tersebut. Kejadian ini, tidak sekali atau dua kali. Anak itu sampai menangis dan seperti takut bila bertemu Aleisha. Jujur saya merasa tidak enak. Walaupun Tante bilang nggak papa, tetap saja saya sungkan.

Berbeda Pandangan Tentang Pengasuhan
Iya, saya tahu, anak secara alamiah memang egoisentris. Alam anak balita berpusat pada dirinya sendiri. Seolah semua yang ada di alam adalah miliknya. Namun nantinya, seiring berjalannya usia, anak akan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.
Tapi, apakah semua ibu mengerti? Andai semua ibu mengerti, tidak akan ada ibu yang berteriak kepadanya. Sayangnya, saya masih sering mendengar ibu yang memberiikan label nakal, bengal, dan susah diatur. Nah, inilah yang saya khawatirkan. Apakah ibu-ibu di komplek perumahan ini semuanya mengerti? Sebagai ibu, tentu saya sedih bila ternyata Aleisha disebelin atau dianggap nakal.
Di salah satu komentar, teman saya bilang ada ibu yang mencap seorang anak ‘WABAH’ hanya karena anak tersebut bersikap seperti Aleisha. Padahal kan, bisa jadi, anaknya baru memasuki masa egoisentris.

SC20140929-054556
Kadang saya bersyukur, Allah mengarunikan pemahaman yang baik kepada saya. Menuntun saya untuk banyak membaca agar lebih mengerti kondisi anak. Supaya saya juga bisa bersikap wise kepada ibu dan anak yang lain. Seperti ketika di Bekasi, Aleisha sering sekali diisengin oleh temannya. Bahkan pernah dia didorong hingga jatuh dari motor. Lalu, apa lantas saya mencap anak tersebut nakal? Dan melarang Aleisha bermain? Tentu tidak. Besoknya mereka tetap bermain lagi.
Sayangnya saya tidak bisa menerapkannya ketika di Sorong. Aleisha tetap boleh kok bermain keluar rumah, asal sama utienya. Nah, kalau sama utie, ibu-ibu yang jadi sungkan karena utienya senior *hehehe. Eh tapi tetap diawasi lho. Jadi kalau sudah ada tanda-tanda fisik maju, langsung pisahin.

Tetap Membimbing dan Mengarahkan
Memang masa egoisentris akan berlalu ketika usia anak memasuki 5 – 6 tahun. Tapi sebagai seorang ibu saya harus membimbing dan mengarahkan. Supaya Aleisha merasa tetap dihargai dan disayang dengan segala tingkah polahnya, sehingga dia bisa melalui masa-masa berikutnya dengan bahagia.
Di buku How to Help Children with Common Problems, karya Charles E. Schaefer, Ph. D. dan Howard L. Millman, Ph. D., banyak dipaparkan cara mencegah dan menghadapi anak egois. Tapi saya belum bisa menerapkan seluruhnya. Saya hanya mengambil beberapa yang sesuai dengan usia Aleisha. Oh iya, saya tidak membaca bukunya langsung. Saya membaca ringkasannya di sini. Berharap suatu saat bisa mendapatkan buku ini.

_T2eC16h_zQE9s3suFrkBRY_uBgIB__35

Sumber Gambar: eBay

* Meningkatkan Penerimaan Diri
Egois dapat segera dihilangkan dengan cara meningkatkan penerimaan diri, yaitu dengan tetap menerima dan mencitai, bagaimana pun kondisi anak. Ketika orang tua menerima kekurangan dan kelebhan anak dengan penuh empati, anak merasa tetap berharga.
Setiap Aleisha ‘bermain fisik’ terhadap temannya, sebisa mungkin saya berusaha memahami. Kemudian mengatakan, “Cica, kalau temannya dicubit nanti nangis. Cica mau nggak kalau dicubit?”
Dan biasanya dia menjawab, “Ndak au.” (Nggak mau – red). Ya, cuma namanya anak batita, habis itu diulang lagi, diulang lagi. Berarti ibunya juga tetap harus sabar terus.

* Memberi Tanggung Jawab
Mengajari anak bertanggung jawab merupakan salah satu metode belajar agar anak peduli terhadap orang/makhluk lain. Sebenarnya sih cara yang lebih efektif memelihara binatang. Dan Aleisha pernah meminta kelinci. Tapi gimana ya. Lha wong yandanya takut sama hewan-hewan berbulu. Jangankan kelinci atau kucing, lihat anak ayam aja kabur *hahaha. Bisa sih nanti pelihara ikan aja ya, Nduk.
Jadi tentang tanggung jawab ini, yang saya ajarkan seperti:
– membuang sampah di tempatnya
– merapikan mainan setelah dipakai
– menaruh piring dan gelas di tempat cuci piring setelah makan
Ya, yang gampang-gampang aja. Soalnya kan Aleisha baru dua tahun. Sebenarnya buat latihan saya juga sih. Pssttt… di rumah yang bisa rapi itu cuma yandanya. Saya sih orangnya asli semrawut 😀
Hhmmm… ada lagi cara mengajarkan tanggung jawab yang top markotop. Tapi kayaknya baru bisa 3 – 4 tahun lagi deh. Apa tuh? Membantu ibu mengurus adik *heee.

* Membacakan Cerita Tentang Menolong dan Berbuat Baik Kepada Orang Lain
Sebenarnya ini bukan solusi dari buku How to Help Children With Common Problems. Kalau di buku itu dijelaskan untuk bermain peran. Tapi Aleisha belum bisa. Jadi saya mengganti dengan membacakan buku. Nah, buku yang saya pakai adalah Halo Balita. Saya sangat terbantu sekali dengan cerita Sali dan Saliha. Aleisha juga maniak Halo Balita. Mau dibaca berkali-kali juga nggak bosan. Walaupun bibir emaknya jadi meniren.

Untuk mengarahkan sifat egoisentrisnya, menurut saya, lebih pas dibacakan yang seri value/nilai. Misalnya seperti Aku Sayang Teman, Aku Anak Sabar, dan Aku Anak Santun. Kebetulan Aleisha sudah hafal ketiga cerita itu. Jadi kalau egoisnya muncul, saya tinggal mengingatkan Aleisha pada cerita Sali yang tidak mau meminjamkan pensil warna dan penghapus di cerita Aku Sayang Teman.

Jadi kesimpulannya, saya tidak mengisolasi Aleisha. Saya juga terus berusaha membimbing dan mengarahkan. Memang sih harus punya stok sabar seluas samudera *tsah. Jujur, kadang saya lepas control. Nggak sampai memukul sih. Cuma tetep aja kan marahin anak itu nggak baik *hiks. Doakan bundamu ini sabar terus ya, Nduk.
Bunda tahu, Sayang, Allah tidak mungkin menciptakan sifat egosentris tanpa sebab. Dengan egosentris, Allah merancang agar sel-sel otakmu tumbuh dan berkembang. Supaya kelak kau bisa memanfaatkan kemampuan otakmu untuk kebaikan umat. Amiin…

Dan semua yang saya uliskan di sini belum hasil akhir ya. Tapi masih on process. Karena saya belum tahu apakah nantinya yang saya lakukan bisa membuat sifat egois Aleisha hilang. Saya hanya berusaha dan terus belajar untuk mendampingin tumbuh kembang Aleisha.

4 thoughts on “Bukan Maksud Hati Melarang Anak Bermain

  1. Pingback: Aleisha Belajar Minta Maaf | @AstriHapsari_ | Astri Hapsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− four = 2