Mengapa Aldebaran Bau Tangan Akut?

 

Nggak kerasa ya udah sebulan aja blog ini nggak tersentuh. Sejak tantangan ngeblog bareng mamak Rumah Puspa usai, blog jadi mangkrak lagi *mamak males 😀 Kali ini saya mau nulis curhatan aja tentang Aldebaran.

Menjelang lebaran, banyak berseliweran di timeline FB kalau momen lebaran pasti ditanya pertanyaan nggak penting.

“Kapan nikah?”

“Kok belum hamil?”

“Kapan si kakak dikasih adek?”

Saya juga kena kok. Tapi memang agak beda dikit sih. Bukan pertanyaan mainstream ala ala lebaran. Udah bisa nebak pasti. Kan saya tulis di judul blogpost. Yup, kenapa Aldebaran bisa bau tangan akut?

Sebenarnya saya nggak masalah sih ketika ditanya kenapa kok sampai Baran gendongan melulu. Tapi yang bikin saya baper, komentar-komentar yang seolah menunjuk saya sebagai biang keladinya.

“Dibiasain sih!” Continue reading

Tentang Booster ASI

Sumber gambar: www.themominmemd.com

Sumber gambar: www.themominmemd.com

Ngomong-ngomong soal booster ASI, saya jadi teringat almarhum sahabat saya, Putri. Dia dulu adalah partner in crime saya saat menjadi mama perah. Kami sama-sama pejuang ASI yang memerah di gudang kantor. Hiks… kantor hanya bisa menyediakan gudang untuk karyawatinya yang sedang berjuang ngASI. Sama-sama mama perah dengan menggunakan tangan a.k.a marmet. Tadinya sih Putri pakai breastpump. Tapi lantas berubah haluan menjadi marmet. Sama-sama nggak pernah mikirin soal booster ASI. Kami percaya, asal mood ibu bahagia, urusan perah-memerah lancar jaya. Alhamdulillah Aleisha bisa ASI hingga 2 tahun, plus bonus 1 tahun. Sedang Putri hanya 1,5 tahun. Karena tabrak lari telah merenggut nyawa Putri dan janin dalam rahimnya. Membuat putranya yang saat itu berusia 18 bulan menjadi anak yatim. Tuh kan mbrebes mili lagi. Al Fatihah untuk Putri.

Yups, jadi dulu jaman menyusui Aleisha, saya blas nggak pakai booster sama sekali. Padahal saya kerja dan harus pumping. Tapi saya enjoy aja meski sekali pumping cuma 100 ml. Kenaikan BB Aleisha juga normal, 7 ons hingga 1 kg. Tapi entah mengapa edisi menyusui Baran kok jadi maniak booster ASI. Soalnya saya udah diberi titah untuk menambah susu Baran saat usianya 6 bulan. Konon katanya anak laki-laki nenennya kuat. Tapi nenen kuat juga kan nggak mesti harus ditambah sufor. Saya Insya Allah yakin ASI saya cukup. Cuma kalau titahnya disampaikan setiap hari, mamak baper lah. Apalagi BB Baran sempat seret karena tertular batuk mbaknya di umur 3 minggu. Hiks… Dan gara-gara baper, saya pun mulai melirik yang namanya booster ASI. Oh no… saya nggak anti sufor kok. Namun selama ASI saya cukup ya ASI aja lah. Biar uangnya buat jajan booster ASI emaknya yang enak-enak. Hmmm… ngASI emang murah, tapi boosternya yang mahal *lol. Nggak apa deh. Biar Baran ginuk-ginuk.

Terus makan atau minum booster ASI apa aja, Mak?

1. Lactabrown dan Milkies

11988201_10208739447903011_4137517103092945252_n(1)Ini adalah booster ASI pertama saya. Beli di Anna Bakery Yogyakarta (IG: AnnaBakery). Rasanya jangan ditanya. Enak banget. Bahkan saya harus menyembunyikan Lactabrown. Soalnya kalau ketahuan Aleisha bisa rebutan. Dia kan penyuka coklat. Dan Lactabrown itu nyoklat banget. Haduh pokoknya nggak bisa berhenti makan. Lha kok tahu ada booster ASI enak begini? Saya dapat ratjun dari Mbak Siska di grup Rumah Puspa. Tapi berhubung harganya lumayan untuk saya yang stay aja di rumah, saya baru sekali beli. Terus ada yang kasih kado Lactabrown dan Milkies dalam jumlah banyak. Alhamdulillah rezeki mamak sholehah. Efeknya lumayan. Baran kalau nenen sampai huek-huek. Continue reading

7 Perbedaan Aleisha dan Aldebaran

13181176_10209254480058493_686603224_n

Hari kedua tantangan ngeblog dari mamak-mamak Rumah Puspa. Temanya unik deh. Ambilah sembarang buku di dekatmu, buka halaman 2 dan mulailah bercerita dengan ‘kata pertama’ yang kamu baca.

Kebetulan banget lagi baca ulang buku Mendidik dengan Cinta, karya Bunda Irawati Istadi. Eh tapi begitu saya buka halaman 2 ternyata kosong *LOL. Berarti halaman 3 ya. Dan saya memilih kalimat pertama, bukan kata pertama. Soalnya kata pertama cuma ‘setiap’. Lha jadi bingung kan menulis apa. Jadilah saya ambil kalimat pertama. Setiap anak berbeda dan unik.

13236193_10209254479658483_577752517_nYess, semua mamak pasti setuju lah setiap anaknya punya perbedaan. Kembar aja beda. Apalagi kakak-adik. Berhubung lagi malas nulis yang berat-berat, mau cerita aja perbedaan Aleisha dan Aldebaran. Bukannya Baran baru 3 bulan? Emang udah kelihatan bedanya? Udah dong. Tapi ya belum banyak. Makanya cuma 7. Itu pun saya tulis sejak dari hamil.

1. Kehamilan

Aleisha hadir melalui program hamil. Iya, jadi karena 1,5 tahun kosong, saya mencoba untuk menjalani program kehamilan. Alhamdulillah sih 4-5 bulan berhasil hamil. Kalau kelamaan bisa jebol deh rekening.

Baca: Ngesot Gara-gara HSG

Nah, kalau Aldebaran hamilnya nggak direncanakan. Saya kan pinginnya tahun ini baru hamil dan tahun depan melahirkan. Kebetulan akhir tahun ini orang tua saya pensiun dan pindah ke Klaten. Saya pinginnya melahirkan di Bidan Kita. Ternyata emang rezekinya lahiran di Rumah Puspa lagi. Tapi beruntung karena bisa kenalan sama mamak-mamak Rumah Puspa yang super kece. Continue reading

Menyusui Dengan Satu Payudara Untuk Kedua Kalinya

Sumber gambar: www.bbc.co.uk

Sumber gambar: www.bbc.co.uk

Hola… akhirnya bisa ngeblog dengan topik brastfeeding lagi. Sejak sebulan lalu saya kembali menyandang gelar ibu menyusui a.k.a busui. Meski sudah pernah menyusui dan Alhamdulillah sukses hingga 3 tahun kurang sebulan, namun masalah PD kembali terulang. Yup, I’m breastfeeding mama with inverted nipple. Continue reading