Agar Tak Bosan Pumping ASI

Sumber gambar: www.popsugar.com

Sumber gambar: www.popsugar.com

Udah lama banget saya nggak baca-baca artikel di Mommies Daily. Dan tiga hari lalu punya kesempatan di depan laptop agak lama. Ya udah deh, puas-puasin bacanya. Terus saya ketemu dengan artikel yang membuat saya teringat ketika masih berstatus working mom sekaligus ibu menyusui. Judul artikelnya ‘Bosan Memerah ASI?’. Kalau yang tahu gimana selalu bersemangatnya saya pumping ASI, sampai kadang saya masa bodo ada nasabah, atau cuek aja saat diteriakin suruh cepat, mungkin nggak mengira saya pernah bosan dengan aktivitas ini. Ralat… bukan pernah, tapi sering. Iya, saya sering merasa… Ya Allah bosennnn… pingin cepet Aleisha dua tahun. Biar bebas tugas dan nggak repot pumping-pumping lagi.

Alhamdulillah, saya nggak pernah membiarkan rasa bosan berlarut-larut. Saya berusaha mencari cara supaya selalu semangat untuk mengumpulkan setetes demi setetes ASI. Berikut ini beberapa jurus yang saya lakukan saat bosan melanda. Continue reading

Cerita Dibalik Bebas Nenennya Aleisha

Dan dengan ini, saya menyatakan Aleisha bebas dari nenen. Tok! Tok! Tok! Akhirnya palu pun diketuk menandakan Aleisha sudah tidak nenen lagi. Huft! Akhirnya… Setelah kelebihan setahun, Aleisha dengan penuh kesadarannya melambaikan tangan dan mengatakan say good bye pada nenen.

Banyak yang menanyakan, kok sampai tiga tahun? Kenapa? Bukannya menyusui dalam hanya sampai dua tahun? Memang ada kelebihannya menyusui hingga tiga tahun? Dan saya cuma nyengir. Jujur, saya melebihkan waktu menyusui hanya sebagai pemuasan batin emaknya. Soalnya selama dua tahun masa menyusui, saya kan kerja. Otomatis saya bisa menyusui langsung malam, pagi hari sebelum berangkat, dan weekend. Selebihnya Aleisha minum ASIP atau ASI perahan. Tapi kadang weekend pun ada training. Apalagi bank tempat saya bekerja sempat mengalami pergantian sistem. Tahu sendiri kan kalau perbankan sudah ganti sistem dan saya di bagian operasional. Hampir dua bulan, setiap weekend saya tetap harus masuk. Belum lagi lembur every day hingga jam tujuh atau delapan malam. Makanya begitu saya resign tepat di ulang tahun Aleisha kedua, saya memang belum berniat berhenti menyusui. Saya mau balas dendam!

Niat awal sih mau dilebihkan empat atau lima bulan saja. Tapi… eh malah bablas sampai setahun. Apalagi air susu saya masih berproduksi. Sebenarnya setelah dua tahun, frekuensi menyusu Aleisha hanya dua kali. Tidur siang dan malam. Namun orang-orang di sekitar saya pada sibuk memberikan ‘sanksi sosial’ alias meledek. Sudah pasti itulah. Cuma sayanya… bodo nanan. Aleisha juga cuek dan asyik-asyik aja nenen. Yaelah… ya jelas yang namanya anak pasti seneng disuruh nenen.

Setelah mencecar saya dengan ‘sanksi sosial’ mulai memberikan solusi untuk menyapih. Mulai dari yang mengoles brotowali, memplester puting plus ditetesi obat merah, sampai menghitung weton. Pokoknya jauh dari kata menyapih dengan cinta a.k.a WWL (weaning with love). Hadeuh… senyum aja deh. Iya sih berhasil, tapi efeknya kan membohongi anak. Seperti tetangga yang anaknya berumur empat setengah tahun. Kalau ditanya kenapa nggak nenen lagi. Jawabnya, “Nggak ah nenen Bunda pahit.” Huhuhu… sedihnya yaaaa. Padahal nenen kan nggak pahit. Saya sih pinginnya Aleisha menjawab, “Karena aku sudah besar. Jadi nggak nenen lagi.” It means, anak menjawab dengan penuh kesadaran bahwa jika sudah besar, maka tidak nenen lagi.

Nah sekarang, ada yang menanyakan, “Susah nggak menyapih anak udah kadung gede?”

Drama? Pasti! Aleisha nangisnya sampai nggerung-nggerung. Terus matanya menatap iba minta dikasihani. Yup, tiga bulan menjelang tiga tahun akhirnya saya memutuskan untuk menyapih Aleisha. Alasannya udah geli dinenen bayi gede a.k.a toodler. Kadang sampai saya paksa lepas saking gelinya. Ya sudah, disapih aja deh. Dan… drama penyapihan pun dimulai. Continue reading

Karena Aleisha Suka Susu Cair

Sumber gambar: http://www.deliciousobsessions.com

Sumber gambar: http://www.deliciousobsessions.com

Judul dalam postingan kali ini adalah jawaban setiap kali saya ditanya, “Kok Dede Al minumnya susu kotak?”

Iya, sejak usia Aleisha delapan belas bulan a.k.a satu setengah tahun, saya menambahkan asupan susu sapi untuk Aleisha. Dan saya memilih susu pasteurisasi. Sebenarnya sebelum saya membaca banyak sharing dari ahli gizi maupun ibu-ibu berpengalaman di forum Mommies Daily, The Urban Mama, dan AIMI, saya memang lebih memilih susu cair semenjak kuliah. Maklum yaaa kuliah di peternakan, jadi saya sedikit banyak tahu bahwa susu pasteurisasi lebih baik dibanding susu bubuk. Much better sih susu segar ya, tapi susah di tempat tinggal saya menemukan susu segar. Jadilah saya memilih susu pasteurisasi. Atau UHT kalau sedang bepergian.

Awalnya Aleisha saya perkenalkan yang rasa plain. Kebetulan susu pasteurisasi rasa plain yang biasa saya beli, terbuat dari susu segar thok. Enggak pakai bahan tambahan lainnya. Namun begitu usia Aleisha dua tahun, dia memilih rasa coklat. Kayak emaknya banget, enggak doyan susu putih. Alhamdulillah, menurut dr Yoga di thread Mommies Daily, tidak mengapa mengkonsumsi susu dengan varian rasa, asal masih dalam batas aman (400 – 600 ml). Aleisha sehari tidak lebih dari 250 ml. Nah untuk ukuran 250 ml ini saya mengikuti batas maksimal dari Prof Hiromi Shinya. Mmm… saya enggak mewajibkan Aleisha minum susu, tapi juga enggak melarang. Kalau dia minta, baru saya kasih. Dan batas maksimalnya 250 ml.

Sayangnya, pilihan saya pada susu pasteurisasi mendapat tatapan dan respon aneh dari beberapa tetangga, keluarga, bahkan suster di rumah sakit sewaktu Aleisha di opname. Pertama kali mau kasih susu pasteurisasi, eyangnya juga sempat keberatan.

“Itu kan banyak pengawetnya.” Udah dijelaskan, besok-besoknya eyangnya lupa lagi, ngomong lagi. Hihihi… ya maklum lah. Namanya juga nenek-nenek.

Begitu pula yang lainnya, mereka memandang aneh karena menurut mereka susu cair banyak pengawetnya. Mungkin berpikirnya, kok susu cair bisa awet lama. Susu UHT memang tahan dua tahun, selama belum dibuka dan kemasan tidak rusak. Tapi susu pasteurisasi, walau belum dibuka, enggak sampai sehari bakal basi bila disimpan di suhu ruang. Nah, mereka nih kayaknya kurang paham bedanya susu pasteurisasi dan UHT. Tapi saya bingung mau menjelaskannya bagaimana. Jadilah saya jawab, “Karena Aleisha suka susu cair.” Continue reading

MENYUSUI DI MANA PUN, TETAP TAMPIL STYLISH

DSC_0478

Menyusui hingga lebih dari dua tahun, bagi saya itu sebuah rezeki. Ya memang saya belum berniat menyapih Aleisha. Alasannya karena saya ingin balas dendam. Lho kok? Menjadi working mom pada awalnya, membuat saya tidak bisa menyusui Aleisha langsung. Padahal bagi saya, menyusui itu unforgettable moment. Makanya setelah resign di usia Aleisha dua tahun, saya tetap terus menyusui. Ya, sebagai pengganti waktu menyusui langsung yang hilang.

“Ih, udah gede kok masih nenen. Malu dong.”

Komentar seperti itu sudah sering saya dengar. Tapi saya justru tersenyum bangga. Saya bahagia masih bisa menyusui. Kalau yang komentar menurut Islam hanya sampai dua tahun, sila dibaca artikel berikut ya. Jadi boleh ya menyusui lebih dari dua tahun. Asalkan tidak membahayakan ibu maupun anak, dan disepakati keduanya (suami dan istri).

Sejak awal, saya memang lebih suka menyusui langsung. Ketika sedang jalan-jalan, misal di mall, saya tinggal mencari kursi ketika Aleisha ingin menyusu. Kadang tidak semua mall menyediakan ruang menyusui. Atau saya malas mencarinya *hehehe. Continue reading