[Cerita Anak] Kejutan Putri Namira

Sumber gambar: www.eezypeezyparties.com

Sumber gambar: www.eezypeezyparties.com

Ada yang aneh dengan Putri Namira. Akhir-akhir ini, ia sering menghilang usai sekolah. Tentu saja teman-temannya merasa heran.

“Lho Namira udah pulang?” tanya Putri Aurora.

“Tadi saat lonceng berbunyi, aku lihat dia buru-buru pulang,” jawab Putri Medina.

“Kok aneh ya,” gumam Putri Aurora.

Mereka berdua memikirkan mengapa Namira tidak mau bermain lagi selesai belajar.

“Bagaimana kalau kita ke istana Namira?” usul Putri Medina.

Putri Aurora setuju. Namun baru keluar gerbang sekolah, kereta kuda mereka datang menjemput. Putri Aurora dan Putri Medina meminta pengawal menunggu.

Mereka berdua berasal dari kerajaan tetangga. Negeri Sahara, negeri tempat ketiga putri itu tinggal, memiliki beberapa kerajaan. Pusat dari seluruh kerajaan berada di kerajaan Putri Namira. Termasuk sekolah.

Sampai di istana, Putri Aurora dan Putri Medina disambut Bibi Sibil, seorang dayang istana. Putri Medina langsung menanyakan Putri Namira.

“Putri Namira di kamarnya. Tapi maaf, Putri Namira tidak ingin diganggu,” jawab Bibi Sibil.

Putri Aurora dan Putri Medina pulang dengan kecewa.

Keanehan Putri Namira juga membingungkan keluarganya. Tiga hari ini, Putri Namira hanya mau makan di kamar.

“Ratu, ada apa dengan Namira? Kenapa beberapa hari ini dia tidak keluar kamar?” tanya Raja Fairel.

“Saya pun bingung, Paduka. Setiap ditanya, Namira menjawab baik-baik saja,” jelas Ratu Lamitha.

Tiba-tiba Ratu Lamitha teringat sesuatu. Continue reading

[Cerita Anak] Gara-gara Ngambek

Sumber gambar: freedesignfile.com

Sumber gambar: freedesignfile.com

Sudah satu jam Abraar berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Kadang duduk sebentar. Berdiri lagi. Mendesah. Mengeluh.

“Huh. Om Bagas kemana sih? Jam segini kok belum datang?” keluh Abraar.

Abir yang sedang membaca, menurunkan bukunya.

“Kalau kamu mondar-mandir terus, pasti terasa lama. Duduk saja dulu. Baca buku atau nonton TV,” saran Abir.

“Sekarang sudah hampir jam 11 Mbak Abir. Puncak nanti macet.”

“Ya berdoa saja semoga tidak macet,” respon Abir kalem.

Abraar mendengus kesal. Lalu duduk. Tangannya memainkan remote TV.

“Mungkin Om Bagas ada acara mendadak di kampusnya. Sabar sedikit,” sambung Mama sambil meletakkan dua mangkok es pisang ijo. “Nih dimakan dulu.”

Abraar melirik sekilas. Sebenarnya ingin makan. Tapi rasa kesalnya membuat Abraar kehilangan selera.

“Ya sudah buat Mbak Abir semua es pisang ijonya.” Tangan Abir sudah menjulur hendak mengambil kedua mangkok.

“Eh, jangan rakus dong, Mbak.” Abraar buru-buru menyambar mangkoknya.

Abir dan Mama tertawa. Tepat setelah Abraar menghabiskan es pisang ijonya, terdengar suara klakson.

Tiiinnn. Tiinnn.

“Itu Om Bagas datang,” seru Abir. Continue reading

[Cerita Anak] Singkong versus Spaghetti

Sumber gambar: http://images.clipartpanda.com

“Singkong aja.”

“Spaghetti lebih enak.”

“Siapa bilang singkong gak enak.”

“Pokoknya aku mau masak spaghetti.”

“Singkong! Titik. Gak pakai koma.”

Aliya bingung melihat dua sahabatnya yang sedang beradu mata. Laras bertolak pinggang. Sedang tangan Nadine menunjuk-nunjuk ke arah Laras. Mereka sedang berdebat tentang makanan yang akan diikutkan lomba. Jadi minggu depan sekolah mengadakan lomba memasak antar kelas. Masing-masing kelas mengirim lima kelompok sebagai perwakilan. Aliya, Laras, dan Nadine ditunjuk dalam satu kelompok dari kelas empat. Sayangnya Laras dan Nadine tidak satu ide.

Laras yang cinta Indonesia memilih singkong sebagai bahan utama. Namun Nadine lebih suka memasak spaghetti. Menurutnya masakan barat itu keren. Lalu Aliya?

“Stop!” Continue reading

[Cerita Anak] Nasi Kucing Bakar Beranjau

Sumber gambar: http://www.easyvectors.com

Sumber gambar: http://www.easyvectors.com

“Kak, jalannya cepetan sedikit sih. Aku lapar banget nih,” Kirana menarik-narik tangan kakaknya.

“Sabar, Kiran. Enggak lihat bawaan Kakak banyak?” Karina menunjuk tumpukan buku di tangannya.

“Lagian pinjam buku banyak banget,” Kirana terus bersungut-sungut. Karina hanya tersenyum. Kalau ditanggapi, omelan adiknya bisa jadi panjang kali lebar sama dengan luas.

“Tuh rumah sudah kelihatan,” tunjuk Karina.

Kirana langsung berlari. Tampaknya anak itu sangat kelaparan.

“Kok pintunya digembok?” Wajah Kirana semakin kusut. Hah? Digembok? Tidak biasanya Mama pergi siang-siang begini. Karina baru saja mau memeriksa gembok pagar, tetangga mereka memanggil.

“Mbak Karin. Mbak Kiran. Ini kunci gemboknya?”

“Lho Mama kemana, Bu?” tanya Karin.

“Mengantar tetangga yang di ujung jalan ke rumah sakit. Pingsan di kamar mandi.”

“Oh begitu. Terima kasih ya, Bu, kuncinya.” Karina tersenyum.

Di dalam rumah, Kirana tidak menemukan sup jagung pesanannya tadi pagi. Sepertinya Mama belum sempat masak.

“Kak, enggak ada makanan. Aduh bagaimana? Aku lapar.” Kirana meringis sambil memegangi perutnya.

Karina memeriksa lemari tempat Mama biasa menyimpan makanan. Masih ada teri goreng dan orek tempe. Kemudian membuka lemari es dan menemukan telur puyuh. Sayang persediaan beras tinggal sedikit. Mama tidak meninggalkan uang sama sekali. Mungkin perginya sangat buru-buru. Tiba-tiba Karina punya ide.

“Kita buat nasi kucing yuk,” ajak Karina.

“Ya ampun, Kakak. Nasi kucing mana kenyang,” protes Kirana.

“Daripada enggak makan. Hayo pilih mana?” Karina tersenyum jahil. Continue reading