Putriku Penggemar Dinosaurus

she-isdinosaurlovers

“Nda, kok Cica bisa suka banget sama dinosaurus sih?” tanya umminya temen sekolah Aleisha. Dan jujur, itu pertanyaan yang berulang kali ditanyakan. Eimm… saya tahu sebenarnya maksud pertanyaan itu adalah… Aleisha kan perempuan, masa anak perempuan sukanya dinosaurus. Kenapa nggak suka princess atau tokoh kartun lain yang girly. Duh, jangan-jangan saya kena karma nih. Gara-gara pernah nulis anak perempuan boleh main mobil-mobilan.

Baca: Anak Perempuan Boleh Main Mobil-mobilan

Awalnya Aleisha gandrung sama Frozen. Ketularan teman mainnya. Apa-apa maunya Frozen. Baju, sandal, sepatu, tas, maupun pernaik-pernik lainnya. Mamak juga dodol sih, kenapa diturutin. Lalu saya berpikir gimana supaya Aleisha nggak suka Frozen lagi. saya kura sreg aja kalau ruang imajinasi Aleisha terisi tentang princess ala Disney. Saya minta ke suami untuk mengunduh banyak film anak-anak. Franklin, Dora, Upin Ipin, Boboi Boy, Dino Dan, The Good Dinosaur, Diva, The School Magical Bus, dan mbuh wis lah banyak banget pokoknya. Ternyata Aleisha kesengsem sama Arlo, si dino hijau di film The Good Dinosaur. Sejak saat itu… dadah bai bai Frozen. Sebagian baju Frozennya malah udah diwariskan ke anak tetangga.

Dan efek dari kesukaannya pada dinosaurus, Aleisha mulai mengoleksi mainan figur dinosaurus. Lebih parah lagi, emaknya disuruh ngapalin nama-namanya dinosaurus.

“Bunda, dino yang kayak badak apa?”

“Triceraptops.”

“Kalau yang lehernya panjang banget?”

“Brachiosaurus.”

“Yang ekornya ada kayak batunya apa?”

“Ankylosaurus.”

Ealah, Nduk. Emakmu ini otaknya pas-pasan mbok suruh menghapal nama dinosaurus. Untunglah Bunda punya contekan. Continue reading

Siapa yang Makan Lebih Dulu, Ibu Atau Anak?

Eh ya ampun kurang kerjaan banget kamu, Sist. Bikin blogpost kok tentang siapa yang makan duluan. Dibikin gampang ajalah. Emak dulu boleh, anak dulu nggak masalah. Lemesin aja tsayyy…

Hahaha iya ya iseng banget mamaknya duo Al. Masalah makan aja dibahas segininya. Mmmm… nganu… soalnya saya pernah dikasih wejangaan sama sesepuh.

“Kalau makan yang penting anak dulu. Ibu mah gampang belakangan.”

Saya sih cuma mengangguk sambil senyum aja. Padahal dalam hati, itu nggak berlaku dalam kamus saya. Sebab bagi saya, urusan perut berbanding lurus dengan tanduk dan taring. Membiarkan perut kosong ketika menghadapi anak-anak, ibarat membangunkan macan tidur. Auuummmm… Buk… buk… macan nggak ada tanduknya. Halah… wis ben 😀 😀 😀 Apalagi saya menyusui bayik yang sakaw nenen. Bayangin gimana rasanya kalau mamak kelaparan.
Continue reading

Mengapa Aldebaran Bau Tangan Akut?

 

Nggak kerasa ya udah sebulan aja blog ini nggak tersentuh. Sejak tantangan ngeblog bareng mamak Rumah Puspa usai, blog jadi mangkrak lagi *mamak males 😀 Kali ini saya mau nulis curhatan aja tentang Aldebaran.

Menjelang lebaran, banyak berseliweran di timeline FB kalau momen lebaran pasti ditanya pertanyaan nggak penting.

“Kapan nikah?”

“Kok belum hamil?”

“Kapan si kakak dikasih adek?”

Saya juga kena kok. Tapi memang agak beda dikit sih. Bukan pertanyaan mainstream ala ala lebaran. Udah bisa nebak pasti. Kan saya tulis di judul blogpost. Yup, kenapa Aldebaran bisa bau tangan akut?

Sebenarnya saya nggak masalah sih ketika ditanya kenapa kok sampai Baran gendongan melulu. Tapi yang bikin saya baper, komentar-komentar yang seolah menunjuk saya sebagai biang keladinya.

“Dibiasain sih!” Continue reading

Berani Mengambil Keputusan Resign dan Allah Mencukupkan Rezeki Kami

Mama, Adik, Aleisha, dan Aku. Sebelum Mama Sakit

Sebelum Mama Sakit

Mama sakit!

Aku terdiam membaca kabar yang dikirimkan suamiku melalui pesan Whatsapp. Ah, hal yang selama aku takutkan terjadi juga. Fisik mama tentunya tidak berimbang dengan tenaga Aleisha yang super aktif. Sejak awal, aku tidak setuju usul suami saat meminta tolong mama untuk menjaga Aleisha. Bukan kewajiban mama menjaga cucunya. Tapi aku dan suami tak punya pilihan lain. Kami tidak mempercayai orang lain mengasuh Aleisha. Kami juga tidak tega menitipkan Aleisha di day care. Dan pada akhirnya mama sakit karena kelelahan menjaga Aleisha. Perasaan berdosa terus menyelimuti hatiku. Maafkan kami, Mama.

Sebenarnya ketika Aleisha lahir, aku sudah mengajukan proposal resign kepada suami. Namun suamiku menolak. Ya, aku mengerti. Kondisi keuangan kami belum memungkinkan aku berhenti bekerja. Kami masih memiliki banyak tanggungan. Terus sekarang bagaimana? Mama tidak mungkin lagi mengasuh Aleisha. Kata dokter, mama harus bed rest dalam jangka waktu lama. Keinginan untuk resign terlintas lagi. Tapi tetap saja keraguan meliputi hatiku. Apakah dengan satu pintu pendapatan, kami dapat membayar cicilan rumah? Kami tetap dapat hidup layak? Kami bisa memberi kepada orang tua? Dan juga untuk menabung? Dalam keadaan ragu, aku teringat sebuah ayat dalam Al Qur’an, bahwa Allah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Continue reading