Ini Bukan Judul Terakhir

Aku selalu menanti Senin pagi. Sebagian teman-teman kerjaku membenci Senin. Itu berarti mereka harus bertemu lagi dengan macet dan deadline kantor yang menumpuk. Tapi I love Monday. Tepatnya sejak enam bulan yang lalu. Ketika aku pertama kali menemukan sebuah kado bersampul Tweety.
“Kado siapa nih?” tanyaku.
“Ya punya lu dong, Tan. Udah jelas-jelas di meja lu,” jawab Wulan yang mejanya sebelahan denganku.
“Dari siapa ya? Mana kertas kadonya norak gini. Masa Tweety sih,” aku bersungut-sungut sambil mengamati kado misterius itu.
“Bukannya kartun sukaan lu? Buka aja sih. Siapa tahu nama pengirimnya di dalam,” usul Wulan.
Betul juga. Maka aku langsung menyobek kertas bergarmbar Tweety. Aku kaget saat tahu isinya. Hafalan Sholat Delisa.
“Buku apaan nih?”
Wulan menengok sekilas. “Ya ampun itu novel keren. Lu harus baca, Tan.”
Masa sih? OK deh aku baca. Walaupun aku tidak tahu siapa pengirimnya. Esoknya mataku bengkak gara-gara Delisa. Wulan tertawa ngakak.
Senin pagi berikutnya, aku kembali menemukan kado bersampul Tweety. Isinya Moga Bunda Disayang Allah. Dan aku termehek-mehek lagi. Setelah itu, setiap Senin aku selalu mendapatkan buku karangan Tere-Liye. Nama yang baru aku kenal. Tapi langsung membuatku jatuh hati. The Gogont, Bidadari-Bidadari Surga, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Burlian, Pukat, Eliana, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, dan masih banyak judul lainnya. Aku mulai tidak peduli siapa pengirimnya.

***

Brukkk!
“Eh kalau jalan pakai mata dong.”
“Kamu yang berdiri sembarangan.”
“Enak aja. Lu tuh. Sengaja nabrak-nabrak gue.”
“Idih sok kecantikan.”
Hhhhh, selalu membuatku kesal. Namanya Chandra. Sejak kehadirannya disini, kami selalu bertengkar. Apapun kami ributkan. Bahkan kami pernah bertengkar di depan dewan direksi. Bagiku Chandra itu songong dan sok pintar. Aku tidak suka.
“Berantem terus sama Chandra. Ntar jodoh lho,” goda Wulan.
“Ih amit-amit. Biar laki-laki di dunia sisa dia, ogah gue,” kataku sambil pura-pura jijik.
“Eh gak boleh begitu. Gak boleh ngomong sembarangan,” Wulan mengingatkan.
Entahlah, aku bawaannya bete kalau dekat-dekat Chandra. Jangankan dekat-dekat, melihat saja aku akan buang muka. Kadang aku berdoa semoga Chandra dipindahkan ke cabang Korea. Dan ternyata doaku terkabul.
“Tan, Chandra dipindahin ke Korea.” Wulan memberi kabar.
Aku yang sedang minum langsung tersedak. “Serius?”
Wulan mengangguk. Tiba-tiba aku merasa tidak enak. Tapi ah biarkan saja. Malah bagus tidak biang ribut.

***

Tepat di hari Chandra akan meninggalkan kantor, aku menerima lagi bungkusan bergambar Tweety. Aku melirik kalender. Hari Jumat. Tumben bukan hari Senin. Aku bergegas pergi. Tidak mau ikut pesta perpisahan Chandra. Sampai di kosan, aku langsung membuka si sampul Tweety. Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Baru hendak membaca, selembar kertas jatuh.

Tan, maafkan aku jika selama ini kasar padamu. Aku hanya tidak tahu bagaimana menunjukkan perasaanku.

Hah? Siapa yang punya perasaan sama aku?

Ini bukan judul terakhir. Selama Tere-Liye masih menulis, aku akan terus mengirimkannya padamu. Sampai kapan? Sampai kau membuka hati untukku.

Chandra

Chandra? Aku melihat tumpukan buku Tere-Liye. Jadi semua buku itu….

Merindukanmu itu Seru

Akhir-akhir ini, Mas Danu, suamiku, terlihat cuek. Teleponku gak pernah diangkat. SMS gak dibalas. BBM gak direspon. Padahal Mas Danu tahu aku mudah sekali khawatir. Apalagi kalau ia sedang keluar kota. Sungguh pelit berita. Dulu awal menikah, Mas Danu setiap detik selalu absen. Bertanya sedang apa, sudah makan, sudah sholat, atau yang lainnya. Tapi sekarang kenapa cuek? Lama-kelamaan aku gak tahan lagi.

“Mas, kenapa sih gak pernah lagi ngangkat telpon? Balas SMS atau BBM juga gak?” tanyaku.

“Sengaja.” jawab Mas Danu santai.

Aku kaget mendengar jawabannya. Apa jangan-jangan….

“Mas, bosan sama aku?” Aku bertanya menahan tangis.

Mas Danu tersenyum. “Siapa yang bilang begitu.”

“Trus kenapa?”

“Mas sengaja gak ngangkat telepon, balas SMS, atau BBM biar kangennya numpuk.”

“Hah?”

“Merindukanmu itu seru, Sayang. Jadi sampai rumah kangennya udah segunung deh.”

Aku mencubit Mas Danu gemas.