Lupa Membawa Apes

Sumber gambar: www.ferhatt.com

“Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi kuncinya.” Klontang! Klontang!

Kalau Kuburan Band menyanyikan lagu Lupa dengan sangat kocak, gue nyanyi pakai suara sendu-sendu sember. Tangan gue mukul-mukul gembok ke pagar rumah. Di antara syair-syair lagu Lupa, gue ngomong ke gembok.

“Gembok, gue mohon, Mbok. Kebuka dong.”

Terus gue sebul ala mbah dukun.

Buuhhh!

Betapa gue berharap gembok rumah gue berubah jadi gembok ajaib. Tapi apa dikata. Si gembok tetap hening. Diam seribu bahasa.

“Kenapa gue?” teriak gue dalam hati. Gue enggak berani teriak beneran. Gue takut kedengeran tetangga gue yang produser musik. Gue yakin kalau dia dengar, pasti gue ditawari masuk dapur rekaman. Suara gue bakalan direkam buat backsound gembreng diseret.

Kenapa gue yang harus menderita sih. Padahal biasanya kalau gue lupa bawa kunci, suami gue lho yang ketiban apes. Hah? What the maksud?

Hihihi…. Jadi begini ceritanya. Gue adalah penderita penyakit lupa yang udah amat sangat akut sekali banget. Setiap hari pasti ada yang gue lupa. Untungnya gue punya alarm yang berbunyi setiap jam enam pagi.

“Kunci kantor.”

“Kunci rumah.”

“Dompet”

“Ongkos.”

“Bekal.”

“HP.”

“Kacamata.”

Akibat penyakit lupa gue, banyak korban berjatuhan. Dan yang paling sering kena apes adalah suami gue. Doi pernah jadi penjaga rumah. Enggak kerja buat cari puluhan bungkus nasi dan berbongkah-bongkah berlian. Hanya karena kunci rumah. Memang doi berangkat kerja agak siang. Jam tujuh baru berangkat. Pagi itu gue gondok banget. Gue ngomel minta buruan diantar sampai lampu merah, eh doi masih asyik sama BBnya. Gue makin ngomel. Soalnya gue takut ketinggalan bus. Sambil ngomel, gue kunci pintu. Belum lama naik bus, doi telepon gue.

“Kunci rumah kamu bawa ya?!” tanyanya sadis.

“Enggak…,” jawab gue sambil meraba-raba kantong jaket. Biasanya cuma ada dua kunci. Kunci kantor dan gembok rumah. Tapi ini kok ada…. Ada tiga. Gue langsung menariknya dari kantong jaket. Gue terpana menyadari kunci di tangan gue. Kunci rumah

“Heee…. Ternyata ada nih kebawa,” kata gue dengan suara lugu. Lucu dan dungu.

“Gimana sih. Makanya lupa jangan dipiara.”

Hehehe…. Alhasil doi pinjam linggis sama tetangga buat nyongkel pintu rumah. Dan seharian doi cuma bisa manyun di rumah.

***

Sejak itu, keapesan bertubi-tubi menghampiri hidup gue. Dan yang paling parah waktu gue mengantar mamake ke Solo. Continue reading

[TULISAN] Mengajarkan Keberanian dengan Berpetualang

[07 Mei 2013] Buah Hati, Leisure, Republika

Sebagai orang tua, saya dan suami memiliki banyak harapan pada putri kecil kami, Aleisha. Salah satunya adalah Aleisha tumbuh menjadi anak pemberani dan percaya diri. Karena itulah, sejak dalam kandungan, saya sudah mengajaknya berpetualang. Hamil tiga bulan, saya terpaksa loncat dari kereta ketika Prameks mogok di tengah sawah. Hamil lima bulan, saya motor-motoran dengan suami dari Bekasi Timur ke Kranggan. Hamil tujuh bulan, plesiran ke Lampung. Sebulan sebelum melahirkan, saya jalan-jalan ke Bandung. Continue reading