Tumbuhlah Menjadi Anak yang Penuh Empati

Saat NHW #3 Kelas Matrikulasi, kami diminta untuk menuliskan potensi unggul anak-anak. Tapi waktu itu saya nggak mengerjakan. Karena satu rumah sedang sakit. Mulai dari Aldebaran, lalu menulari yandanya, bersambung ke Aleisha, dan terakhir saya ikut terserang flu. Duh… namanya ibu-ibu ya. Sakit pun nggak bisa istirahat. Apalagi anak-anak juga sakit. Nemplok aja sama emaknya.

Tentang potensi unggul anak, saya yakin setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Begitu juga Aleisha. Meski kadang tingkahnya nyebelin. Eiimm… anaknya yang nyebelin apa emaknya yang kurang sabar :p Namun ada satu sifat baik Aleisha yang baru muncul dan membuat saya takjub sekaligus terharu.

Jadi ceritanya kemarin sore, seperti biasa Aleisha main di luar bersama teman-temannya. Sebagai mamak parno, saya ikut menemani dan mengawasi di luar. Sekalian mengajak main Aldebaran yang lagi senang-senangnya berlarian di jalan. Ketika saya sedang mengajak Aldebaran berjalan mengelilingi bundaran perumahan, tiba-tiba ada seorang anak perempuan menghampiri. Usianya mungkin sekitar 2 tahunan. Dia mendekati dan mengajak Aldebaran bermain sambil teriak-teriak, “Dedek… dedek….” Continue reading

Kami di Sini, Nak…

picsart_12-03-03-56-24

Kau tahu Nak… 

Kenapa hari ini 312 Yandamu ini baru akan bercerita soal 212 kemarin.

Yaa… kemarin… 2 Desember 2016.

 

Kemarin disaat yang katanya 4 juta orang berkumpul menjadi satu, kami bukan berdemo, bukan pula beraksi, kami hanya berkumpul memenuhi panggilan hati. Seluruh penjuru negeri ini terpanggil hati-nya, tertarik magnet Al-Quran (kata rombongan Ciamis – yang kami belajar banyak dari mereka, belajar lebih mencintai).

 

Kemarin Jakarta hujan Nak… 

 

Hujan yang membuat airmata-airmata 4 juta orang tersamarkan dalam air hujan-Mu.

Hujan yang membuat 4 juta orang semakin tertunduk dalam khidmat dan syahdunya lantunan doa-doa.

Hujan yang juga akan membawa doa-doa kami menembus langit, menghantarkan doa-doa kebaikan kami untuk bangsa ini.

Hujan yang kami semua yakini, diantaranya adalah waktu yang sangat baik untuk berdoa.

fb_img_1480756378130 

Kemarin Kami satu Nak…. Continue reading

Aleisha Belajar Puasa

Sumber gambar: itunes.apple.com

Sumber gambar: itunes.apple.com

Ramadhan tahun ini Aleisha mulai belajar puasa. Kebetulan usianya 4 tahun. Udah bisa diajak komunikasi 2 arah. Alhamdulillah sampai hari ke 5, Aleisha berhasil puasa sampai bedug a.k.a adzan Dzuhur. Dulu waktu saya kecil bilangnya puasa bedug. Lalu mulai puasa lagi jam 2 sampai Maghrib.

Aleisha kuat? Ya sebenarnya dia bentar-bentar nanya, kapan adzan, kapan boleh minum, atau bilang Cica lapar. Terus bentar-bentar buka kulkas pegang-pegang makanan. Yandanya sampai ketawa ngekek.

“Nduk, perasaan baru kemarin Yanda yang begitu (buka-buka kulkas pas puasa -red). Sekarang ngajarin anak puasa.”

Yang lucu dari proses mengajarkan Aleisha belajar puasa adalah saya sendiri nggak puasa. Awalnya mencoba puasa, tapi kok siang-siang Baran yang masih ASIX rewel. Terus popoknya kering dari jam 2 – 5 sore. Biasanya kan udah penuh. Ya udah saya nggak mau dzolim sama Baran. Nah, sendiri nggak puasa tapi lagi ngajarin anak puasa kayak Tom and Jerry. Kadang saya sembunyi-sembunyi ke kamar makan. Atau diam-diam ke dapur ambil minum. Belum kegap Aleisha sih. Semoga aja nggak ya *lol.

Oh iya untuk mengajarkan Aleisha puasa saya mencoba kiat berikut ini.

1. Tidak Memaksa

Buat saya mengajarkan Aleisha puasa di usia balita adalah untuk mengenalkan dan membiasakan berpuasa. Karena nggak ada kewajiban berpuasa untuk anak yang belum baligh. Disiplin berpuasa kan nggak bisa bim salabim anak langsung mau puasa sehari penuh. Tapi sebagai seorang muslim, Aleisha harus mengerti bahwa puasa di bulan Ramadhan wajib hukumnya. Jadilah saya dan suami memutuskan untuk mulai mengajarkan puasa tahun ini. Continue reading

Anak Perempuan Boleh Main Mobil-mobilan

Sumber gambar dan capture: www.moms365.com

Sumber gambar dan capture: www.moms365.com

Awal bulan ini, Aleisha minta dibelikan mainan mobil-mobilan. Karena sudah lama nggak beli mainan, dan belum pernah punya mobil-mobilan, saya pun mengiyakan. Saat akan berangkat ke toko mainan, tiba-tiba utinya nelpon.

“Ti, nanti ya ngobrolnya,” kata saya begitu mengangkat telepon.

“Emang mau ke mana?” tanya Uti.

“Ini Cica mau beli mobil-mobilan,” jawab saya.

“Perempuan kok dibelikan mobil-mobilan,” terdengar sahutan akungnya. Mungkin teleponnya di loud speaker.

“Iya, Cica. Beli yang lain aja. Masa mobil-mobilan,” tambah utinya.

Ingatan saya melayang ke jaman 20 tahun yang lalu. Continue reading