Aleisha Belajar Minta Maaf

Sumber gambar: https://www.pinterest.com/pin/128000814383794316/

Sumber gambar: https://www.pinterest.com/pin/128000814383794316/

Baru 15 menit kegiatan bermain Aleisha di sekolah dimulai. Tiba-tiba saja terdengar salah seorang anak bernama Sasa menangis. Saya yang duduk di teras, reflek menoleh. Ruang kelas di sekolah Aleisha memang terbuka dan nggak ada pintunya. Jadi orang tua yang sedang menunggui bisa melihat langsung aktivitas anak-anaknya. Awalnya saya nggak tahu penyebab Sasa menangis. Barulah ketika gurunya bilang, “Jangan ya, Cica. Temannya nggak mau.”

Waduh… anak gw nih yang bikin nangis temennya 😀 Mana nangisnya kenceng dan lama. Sampai harus digendong gurunya untuk menenangkan. Kebetulan Sasa sekolah nggak ditungguin sama mamanya.

Tapi karena aktivitas bermain masih berlangsung, saya tetap duduk di teras. Nantilah kalau pas Aleisha keluar, baru saya tanya. Kebetulan hari Rabu itu jadwalnya bermain flying fox. Sepuluh menit kemudian, anak-anak keluar kelas. Aleisha menghampiri saya dulu sebelum dia menuju halaman. Saya coba bertanya apa yang dilakukannya kepada Sasa. Continue reading

7 Cara Mengasuh Anak Dengan Penuh Kasih

Tiga tahun yang lalu saat menjadi seorang ibu baru, saya masih meraba-raba gaya pengasuhan seperti apa yang akan saya praktekkan kepada Aleisha. Gaya pengasuhan yang membuat saya mengenali anak, membantu anak merasa nyaman, dan menikmati menjadi orang tua. Dan ketika membaca buku The Baby Book, saya merasa cocok dengan konsep yang dikemukakan Dr William Sears dan Martha Sears, penulisnya. Mereka menyebutnya gaya ‘mengasuh anak dengan penuh kasih.’

Memang gaya pengasuhan ini nggak saklek. Dr Sears mengatakan bahwa pengasuhan anak adalah pekerjaan sepanjang hayat dan membutuhkan pengalaman secara langsung. Jadi sebenarnya gaya ‘mengasuh anak dengan penuh kasih’ adalah kiat awal agar kita bisa menemukan dan mengembangkan gaya pengasuhan sendiri. Beliau sendiri mempelajari gaya pengasuhan ini dari para orang tua yang tampak selaras dengan anak-anak mereka, yang bisa membaca isyarat bayi mereka, dan orang tua yang menikmati perannya sebagai orang tua. Bahkan meski sudah diterapkan pada delapan anaknya, Dr Sears dan Martha, istrinya mengaku masih terus belajar.

Kebetulan saya sendiri sreg dengan gaya pengasuhan ini. Karena ada sebagian gaya pengasuhan yang – sependek pengetahuan saya – sepertinya diadopsi dari kearifan lokal bangsa timur.

Lalu seperti apa sih gaya ‘mengasuh anak dengan penuh kasih’? Dr Sears dan Martha menjabarkannya dalam 7 poin.

7 CARA MENGASUH ANAK DENGAN PENUH KASIH Continue reading

[Seminar Menuntun Anak Menyongsong Surga] : Membangun Keluarga Robbani – Ibu Yayah Komariah

Bu Yayah Komariah, memulai pendidikan di rumah untuk anak-anaknya sejak tahun 2004. Tepatnya ketika Bilal, anak pertamanya memasuki usia SD. Namun, saat itu, Bu Yayah belum mengetahui bahwa yang dilakukannya disebut homeschooling. Dari situlah, Bu Yayah kemudian mendirikan Komunitas Homeschooling Berkemas (Berbasis Keluarga Masyarakat).

Ingin lebih mengenalkan agama adalah alasan utama Bu Yayah meng-HS-kan anak-anaknya. Sebenarnya ibu dari 4 putra dan 1 putri ini mulai mengajarkan agama, terlebih tauhid, sejak anak-anaknya berumur 1 – 2 tahun. Caranya cukup mudah. Bu Yayah sering sekali mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Masya Allah kepada anak-anaknya. Bahkan ketika melakukan kegiatan apapun, seperti makan, Bu Yayah selalu melafalkan dengan suara keras. Tujuannya agar anak-anaknya terbiasa mendengar kalimat Allah. Selain itu, Bu Yayah juga mengenalkan tulisan nama Allah sejak anak-anaknya masih bayi. Beliau menulis dalam ukuran besar dan berwarna. “Itu tulisan nama Allah, Nak,” ucap Bu Yayah kepada anak-anaknya. Dan hasilnya, begitu anak-anaknya sudah bisa bicara, kalimat Allah lah yang pertama terucap. Continue reading

Hati-hati Mengimingi Anak Dengan Uang

Sumber gambar: www.goodenoughmother.com

Sumber gambar: www.goodenoughmother.com

“Mama, minta duit!”

Seorang anak perempuan berusia delapan tahun memasuki teras rumahku. Sore itu mamanya, yang juga tetanggaku, sedang duduk dan mengobrol denganku. Melihat anaknya datang dan meminta uang, ibu tetangga sontak menolak.

“Apa sih, Na, minta uang terus. Kan tadi pagi sudah dikasih duit.”

Tapi sang anak seperti tidak mau tahu. Ia terus merengek. “Nayla mau jajan, Ma!” Mamanya bergeming. Mungkin berharap, jika dicuekin, Nayla akan berhenti merajuk. Ternyata tidak. Nayla justru menangis. Bahkan ia sampai ndeprok di lantai. Kakinya menghentak-hentak. Ia terus memaksa mamanya memberikan uang untuk jajan.

Aku yang sedang memangku Aleisha, mencoba menenangkannya. “Mau jajan apa, Na? Nggak usah jajan ya. Dede Al punya banyak kue. Nayla mau?”

“Nggak mau! Aku maunya jajan,” jawabnya sambil berteriak.

Akhirnya, sang mama mengalah. Ia memberikan uang dua ribu rupiah kepada anak keduanya itu. Nayla langsung tertawa dan mengambil uang dari tangan mamanya. Kemudian ngeloyor pergi.

Aku mengira Nayla suka jajan karena mungkin dibiasakan jajan oleh mamanya. Aku pun mencoba bertanya, “Memang nggak pernah disediakan jajan di rumah, Bu?” Continue reading