Mengubah Keisengan Anak Menjadi Positif

Sumber gambar: blog.carnivalkids.com

Sumber gambar: blog.carnivalkids.com

Siang itu, seperti biasa Aleisha ingin main ke rumah temannya di sebelah rumah.

“Bunda, bawa Yuppie ya? Cica mau maem Yuppie sama Teteh Caca.”

Oh, baiknya Aleisha. Mau makan Yuppie ingat temannya. Jadilah saya mengambilkan enam bungkus Yuppie dan saya masukkan ke kantong kecil. Karena saya tahu, selain Raisya (Teteh Caca – red), ada Daru juga, teman Aleisha yang lain.

“Nanti kasih Teteh Caca dua, Mbak Daru dua ya,” pesan saya. Aleisha mengangguk.

Sampai di rumah Raisya, Aleisha hanya memberikan satu Yuppie untuk Raisya dan satu untuk Daru.

“Lho kok cuma satu yang dikasih?” tanya saya.

“Iya, Bunda. Biar habis dulu. Nanti Cica kasih lagi kok,” jawabnya. Hmm… baiklah.

Namun tiba-tiba, Raisya menarik tangan Aleisha masuk ke kamar. Saya melihat dari luar. Dan betapa terkejutnya saya ketika Raisya ‘memalak’ Aleisha.

“Cica, kalau mau main di sini, kasih Caca satu lagi permennya!” kata Raisya.

Waduh, anakku dipalak *qiqiqi. Continue reading

Mendidik Anak Bergolongan Darah B

Asyik Main Finger Painting

Asyik Main Finger Painting

Yup, akhirnya saya tahu golongan darah Aleisha. Setelah dulu saya pernah menulis status di Facebook kalau saya belum tahu golongan darah Aleisha. Padahal usia Aleisha sudah dua tahun. Kok bisa? Hihihi… Pasti masih ada yang pada nanyain. Iya, jadi Aleisha lahirnya di bidan. Terus kontrol tumbuh kembangnya di posyandu kompleks rumah. Dan imunisasinya di Posyandu Eksklusif Summarecon Bekasi. Memang jarang sekali kami membawa Aleisha ke rumah sakit. Pertama ke rumah sakit, waktu Aleisha kena virus roseola, sepulang dari Raja Ampat. Tapi baik saya maupun suami, tidak terpikir mengecek golongan darah sekalian. Barulah saat Aleisha di opname di Lampung karena tipus, kami meminta pemeriksaan golongan golongan darah. Dan golongan darah Aleisha ternyata B. Sama seperti yandanya.

“Tuh kan B,” kata suami.

“Terus kenapa? Bangga gitu?” jawab saya sewot. Hihihi… Yahhh kalah deh. Enggak apa-apa, masih ada kesempatan anak-anak berikutnya untuk bergolongan darah O :p

Begitu tahu golongan darah Aleisha, saya jadi teringat sebuah artikel di Mommies Daily yang berjudul Mendidik Anak Lewat Golongan Darahnya.

Menurut artikel tersebut, anak bergolongan darah B mudah tertarik akan suatu hal. Tanpa ketertarikan, mereka tidak akan mau melakukannya sekalipun kita memaksanya. Haha… kok bener banget ya? Aleisha itu tidak terlalu suka nonton kartun. Misalkan lagi di rumah tetangga dan disetelkan film kartun, dia tidak mau nonton. Padahal temennya itu nonton dengan anteng. Tapi kalau dia sudah klik sama film kartun tertentu seperti Little Baby Bum atau Seri Diva dari Kastari Sentra, dia mau nonton. Cuma tetep yaaa… hanya dua – tiga kali saja. Setelah itu bosan dan tidak mau nonton lagi. Makanya kadang saya suka bingung mau menyambi melakukan pekerjaan rumah. Upin Ipin, enggak suka. Laptop si Unyil, enggak mau. Masha and the Bear, kadang mau, kadang enggak. Terus yaaa kalau dibelikan mainan, dimainkan sebentar doang. Habis itu dia bosan dan ditinggalkan begitu saja.

Jadi, sekarang ini yang menjadi PR besar buat saya adalah menemukan ketertarikan Aleisha. Karena anak bergolongan darah B, bila sudah tertarik, tanpa disuruh akan mengerjakan dengan sepenuh hati. Doakan yaaa semoga saya cepat menemukannya. Semangat!

Artikel Mendidik Anak Lewat Golongan Darahnya bisa dibaca di sini.

Ketika Aleisha Harus Opname

 10904658_10205438445500014_827612176_n

“Udah, di opname aja!”

Sebagai seorang ibu, tentunya sedih ketika buah hati kita sakit. Apalagi saat kita memutuskan untuk opname. Begitu pula dengan saya. Rasanya berat sekali sewaktu memilih opname untuk Aleisha. Kalau bisa, jangan masuk rumah sakit. Kalau bisa, di rumah saja. Ah, tapi jika dirawat di rumah sakit adalah yang terbaik untuk Aleisha, saya harus ikhlas. Continue reading

Perubahan Aleisha

3

 

Belakangan ini working mom versus stay at home mom ngeheitz lagi. Padahal menurut saya itu lagu lama. Ya, mau dibahas dari segi mana pun, tidak akan ada titik temunya. Karena masing-masing memiliki alasan.

Ah, tidak. Di sini saya tidak ingin membahasnya. Sudah banyak kok yang menulis artikel untuk menghargai ibu  bekerja. Tapi saya ingin cerita tentang perubahan Aleisha pasca saya resign. Gara-garanya saya tergelitik membaca postingan di kompasiana tentang ibu bekerja.

Blogger tersebut menuliskan bahwa anak sebenarnya menyesuaikan kondisi  ibunya. Anak yang ibunya bekerja, suka bangun pagi. Supaya bisa say hello dengan sang ibu. Pun ketika malam. Setia menunggu ibunya pulang, meski hanya menyapa beberapa menit. Lalu terlelap tidur.

Kebalikannya, anak yang ibunya di rumah, mungkin lebih suka bangun agak terlambat. Seolah memberi waktu kepada ibunya untuk berbenah.

Entahlah, tapi kepala saya otomatis mengangguk. Continue reading