7 Perbedaan Aleisha dan Aldebaran

13181176_10209254480058493_686603224_n

Hari kedua tantangan ngeblog dari mamak-mamak Rumah Puspa. Temanya unik deh. Ambilah sembarang buku di dekatmu, buka halaman 2 dan mulailah bercerita dengan ‘kata pertama’ yang kamu baca.

Kebetulan banget lagi baca ulang buku Mendidik dengan Cinta, karya Bunda Irawati Istadi. Eh tapi begitu saya buka halaman 2 ternyata kosong *LOL. Berarti halaman 3 ya. Dan saya memilih kalimat pertama, bukan kata pertama. Soalnya kata pertama cuma ‘setiap’. Lha jadi bingung kan menulis apa. Jadilah saya ambil kalimat pertama. Setiap anak berbeda dan unik.

13236193_10209254479658483_577752517_nYess, semua mamak pasti setuju lah setiap anaknya punya perbedaan. Kembar aja beda. Apalagi kakak-adik. Berhubung lagi malas nulis yang berat-berat, mau cerita aja perbedaan Aleisha dan Aldebaran. Bukannya Baran baru 3 bulan? Emang udah kelihatan bedanya? Udah dong. Tapi ya belum banyak. Makanya cuma 7. Itu pun saya tulis sejak dari hamil.

1. Kehamilan

Aleisha hadir melalui program hamil. Iya, jadi karena 1,5 tahun kosong, saya mencoba untuk menjalani program kehamilan. Alhamdulillah sih 4-5 bulan berhasil hamil. Kalau kelamaan bisa jebol deh rekening.

Baca: Ngesot Gara-gara HSG

Nah, kalau Aldebaran hamilnya nggak direncanakan. Saya kan pinginnya tahun ini baru hamil dan tahun depan melahirkan. Kebetulan akhir tahun ini orang tua saya pensiun dan pindah ke Klaten. Saya pinginnya melahirkan di Bidan Kita. Ternyata emang rezekinya lahiran di Rumah Puspa lagi. Tapi beruntung karena bisa kenalan sama mamak-mamak Rumah Puspa yang super kece. Continue reading

Hamil Sehat Membuat Bahagia

www.rumah-astri.com“Yik, nanti kalau Teteh ke Bekasi, ajari program anak cowok ya,” ungkap seorang sahabat saat saya mengabarkan kelahiran Baran via WA. Saya membalas dengan mengirimkan emoticon tertawa. Kenapa tertawa? Karena jujur kehamilan kedua ini unplanned. Lho bukannya Aleisha umurnya 3 tahun. Udah waktunya punya adek. Iya sih. Tapi sebenarnya saya berencana hamil pertengahan atau akhir tahun ini dan melahirkan tahun 2017. Nyatanya, bulan April 2016 test pack menunjukkan dua garis. Dan hasilnya anak lelaki. Buat saya itu anugerah karena memang nggak diprogram 😀

Kenapa punya rencana melahirkan tahun depan? Karena baru akhir tahun ini orang tua saya pensiun dan pindah ke Jawa. Iya, saya ingin ditemani ibu saat melahirkan. Kebayang bakal rempong punya bayi, sedangkan kakaknya super aktif. Setidaknya ibu bisa menemani sampai kondisi saya pulih pasca melahirkan. Tapi memang saya dan suami super duper dudul. Sudah tahu belum berencana menambah momongan, eh hampir dua bulan kami tidak pakai ‘sarung’. LOL…. Malahan seminggu setelah selesai haid terakhir, saya pecicilan di Dufan sama Aleisha. Dua hari kemudian, Aleisha diopname karena rotavirus. Pas telat haid beberapa hari, saya masih gendong-gendong Aleisha sampai Blok M. Tapi ya kalau Allah sudah berkehendak, kun fayakun, tetap saja hamil meski saya pecicilan maksimal. Continue reading

Merajut Kisah Kelahiran Aleisha

alei

Bekasi, malam hari ketika hujan mengguyur.

Saat akan beranjak ke tempat tidur, menyusul Aleisha yang telah terlelap, handphone saya berdering. Menandakan sebuah pesan Whatsapp masuk. Saya langsung membukanya. Khawatir pesan tersebut penting. Ah, ternyata dari seorang teman karib saya.

 

“Ai, lu dulu lahirin Neng Ale nggak sakit kan? Gimana sih bisa nggak sakit?”

 

Saya tertegun. Saya memang pernah menuliskan kisah kelahiran Aleisha dengan gaya tulisan yang kocak. Bahkan di situ saya ceritakan di pembukaan tiga masih naik motor menuju klinik Mbak Yuli. Beserta foto saya yang tersenyum lebar di atas gymball ketika sudah pembukaan lima. Mungkin teman saya itu terinspirasi ingin memiliki pengalaman yang sama.

 

“Emang perkiraan dokter kapan?”

“Minggu depan?”

“Wah bentar lagi dong. Udah persiapan apa aja? Yoga? Hypnobirthing? Relaksasi? Udah semua?”

“Hehehe. Nggak pakai begitu-begituan, Bu. Udah sih kasih tahu tips praktisnya aja.”

 

Saya biarkan pesan Whatsapp tak terbalas cukup lama. Jujur, saya bingung ingin menjawab apa. Tips praktis? Ah, andai dia tahu, bukan dalam sekejap mata saya mempersiapkan proses kelahiran impian saya. Andai dia tahu, semua proses ini tidak instan. Bukan hanya sekedar tips praktis. Namun sebuah pemberdayaan diri dengan mengerahkan seluruh fisik dan batin saya. Dan yang terpenting, stok sabar tak boleh habis saat menjalani semua proses pemberdayaan diri. Continue reading

Siapa yang Harus KB?

 

 

“Ay, lu KB nggak?”

Pertanyaan ini pasti akan terlontar untuk ibu-ibu yang baru melahirkan. Saya juga mendapatkan pertanyaan tentang KB usai melahirkan Aleisha. Saya dan suami memang memutuskan untuk menunda program anak kedua. Saya ingin Aleisha full mendapat ASI hingga dua tahun tanpa intervensi. Tapi untuk menunda kehamilan kedua, saya memutuskan untuk tidak KB. Continue reading