[Cerita Anak] Nasi Kucing Bakar Beranjau

Sumber gambar: http://www.easyvectors.com

Sumber gambar: http://www.easyvectors.com

“Kak, jalannya cepetan sedikit sih. Aku lapar banget nih,” Kirana menarik-narik tangan kakaknya.

“Sabar, Kiran. Enggak lihat bawaan Kakak banyak?” Karina menunjuk tumpukan buku di tangannya.

“Lagian pinjam buku banyak banget,” Kirana terus bersungut-sungut. Karina hanya tersenyum. Kalau ditanggapi, omelan adiknya bisa jadi panjang kali lebar sama dengan luas.

“Tuh rumah sudah kelihatan,” tunjuk Karina.

Kirana langsung berlari. Tampaknya anak itu sangat kelaparan.

“Kok pintunya digembok?” Wajah Kirana semakin kusut. Hah? Digembok? Tidak biasanya Mama pergi siang-siang begini. Karina baru saja mau memeriksa gembok pagar, tetangga mereka memanggil.

“Mbak Karin. Mbak Kiran. Ini kunci gemboknya?”

“Lho Mama kemana, Bu?” tanya Karin.

“Mengantar tetangga yang di ujung jalan ke rumah sakit. Pingsan di kamar mandi.”

“Oh begitu. Terima kasih ya, Bu, kuncinya.” Karina tersenyum.

Di dalam rumah, Kirana tidak menemukan sup jagung pesanannya tadi pagi. Sepertinya Mama belum sempat masak.

“Kak, enggak ada makanan. Aduh bagaimana? Aku lapar.” Kirana meringis sambil memegangi perutnya.

Karina memeriksa lemari tempat Mama biasa menyimpan makanan. Masih ada teri goreng dan orek tempe. Kemudian membuka lemari es dan menemukan telur puyuh. Sayang persediaan beras tinggal sedikit. Mama tidak meninggalkan uang sama sekali. Mungkin perginya sangat buru-buru. Tiba-tiba Karina punya ide.

“Kita buat nasi kucing yuk,” ajak Karina.

“Ya ampun, Kakak. Nasi kucing mana kenyang,” protes Kirana.

“Daripada enggak makan. Hayo pilih mana?” Karina tersenyum jahil.

Kirana diam. Pulang sekolah dia sudah membayangkan Mama masak sup jagung kesukaannya. Ternyata Mama belum masak apa-apa. Mau tidak makan, sudah lapar. Keroncongan di perutnya terdengar.

“Mau enggak?” tawar Karina.

Kirana hanya mengangguk.

“Ganti baju dulu yuk. Nanti Mama marah seragamnya bau asap.”

 

***

 

Karina dan Kirana sibuk di dapur. Kirana bertugas menanak nasi. Karina merebus telur puyuh. Lalu memberi bumbu kecap.

“Eh, Ran. Bagaimana kalau nasi kucingnya kita bakar?” usul Karina.

“Kayaknya enak tuh, Kak.”

“Kamu ambil daun pisang ya di belakang.”

Kirana bergegas melangkah ke belakang rumah. Rumah mereka memang mungil. Tapi halamannya luas. Halaman depan dibuat taman. Sedangkan halaman belakang untuk berkebun. Ada pohon pisang, mangga, rambutan, cabai, dan beberapa pohon lainnya. Jadi kalau butuh daun pisang tinggal ambil saja.

“Segini cukup enggak, Kak?” Kirana menunjukkan selembar panjang daun pisang.

“Cukup. Tolong sekalian dilap ya, Ran. Nasinya sudah matang nih. Mau Kakak bungkus.”

Kirana mengelap perlahan daun pisang. Lalu memberikan kepada kakaknya. Karina menyobek menjadi beberapa bagian. Kemudian memasukkan nasi, teri, orek tempe, dan cabai rawit.

“Kak, kok pakai cabai sih?” protes Kirana.

“Kakak kan suka pedas,” jawab Karina.

“Tapi aku enggak suka pedas.”

“Ya sudah punya kamu Enggak dikasih cabai. Ingat-ingat ya, punya Kakak yang daunnya disobek.” Karina menyobek ujung daun.

Setelah dibungkus, Karina membakar nasi kucing dalam wajan double pan.

“Nah, tinggal kita tunggu nasi kucingnya matang. Mau jus jeruk enggak?” tawar Karina.

“Mau dong.”

Karina tertawa mendengar jawaban adiknya yang penuh semangat.

 

***

 

“Eh, kok tiba-tiba mendung.” Karina menengok keluar. “Kakak angkat jemuran dulu ya. Sebentar lagi kamu periksa nasi kucingnya. Kalau sudah bau harum, berarti sudah matang. Matikan kompornya. Terus diangkat. Bisa kan?”

“Beres, Kak.” Kirana mengacungkan jempol.

Lima menit setelah kakaknya keluar, Kirana memeriksa bakaran nasi kucingnya. Begitu wajan double pan terbuka, bau harum langsung menyeruak. Wah sedapnya. Kirana mematikan kompor. Dua bungkus nasi kucing bakar dipindahkan ke piring.

Kok Kak Karina lama ya? Batin Kirana. Ia sudah tidak sabar mau makan. Perutnya meronta-ronta minta diisi. Akhirnya Kirana duluan makan. Kak Karina bisa menyusul.

Kirana membuka bungkusan nasi kucing bakar dengan semangat. Lalu menambahkan telur puyuh kecap di atas nasi. Berhubung lapar berat, Kirana cepat-cepat menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Namun saat kunyahan ketiga, tiba-tiba Kirana berteriak.

“Huaaaaa. Ada ranjaunya.”

Karina yang baru masuk ke dapur kaget.

“Kiran, ranjau apaan?” tanyanya bingung.

“Ada ranjau di nasi kucing, Kak.” Kirana berdecap kepedasan. Jus jeruk segelas besar langsung ditenggaknya.

Karina memeriksa nasi kucing yang dimakan Kirana. Lantas tertawa.

“Pantas kamu kepedasan. Ini punya Kakak. Tadi kan Kakak bilang, yang daunnya disobek ada cabainya.”

“Habis… Huah… Keburu… Huah… Lapar. Tukeran dong, Kak.”

“Enak saja. Itu yang kamu makan tinggal setengah.” Karina menunjuk nasi kucing bakar yang dimakan Kirana.

“Terus bagaiamana? Pedas nih, Kak, kena ranjau cabai.” Kirana mengipas-ngipas mulutnya dengan tangan.

Karina mengaduk-aduk nasi kucing bakar milik Kirana. Mencari cabai rawit yang tersembunyi dalam nasi.

“Sudah Kakak ambil semua cabainya. Lanjutin gih makannya.”

Karina ikut makan di sebelah Kirana.

“Ternyata makan masakan sendiri lebih enak ya, Kak,” kata Kirana. “Lain kali kita masak bareng lagi, yuk.”

Karina tidak menjawab. Ia mengulurkan tangannya yang disambut Kirana. Tos!

2 thoughts on “[Cerita Anak] Nasi Kucing Bakar Beranjau

Leave a Reply to Ani Berta Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 2 = twelve