[Cerita Anak] Singkong versus Spaghetti

Sumber gambar: http://images.clipartpanda.com

“Singkong aja.”

“Spaghetti lebih enak.”

“Siapa bilang singkong gak enak.”

“Pokoknya aku mau masak spaghetti.”

“Singkong! Titik. Gak pakai koma.”

Aliya bingung melihat dua sahabatnya yang sedang beradu mata. Laras bertolak pinggang. Sedang tangan Nadine menunjuk-nunjuk ke arah Laras. Mereka sedang berdebat tentang makanan yang akan diikutkan lomba. Jadi minggu depan sekolah mengadakan lomba memasak antar kelas. Masing-masing kelas mengirim lima kelompok sebagai perwakilan. Aliya, Laras, dan Nadine ditunjuk dalam satu kelompok dari kelas empat. Sayangnya Laras dan Nadine tidak satu ide.

Laras yang cinta Indonesia memilih singkong sebagai bahan utama. Namun Nadine lebih suka memasak spaghetti. Menurutnya masakan barat itu keren. Lalu Aliya?

“Stop!” Aliya melarai Nadine dan Laras. “Lomba masaknya tinggal seminggu lagi. Tapi kita belum satu suara mau pakai bahan utamanya apa.”

“Singkong.”

“Spaghetti.”

Laras dan Nadine sama-sama tidak mau mengalah. Aliya jadi pusing. Bila terus berantem, kapan latihan masaknya.

“Laras! Nadine! Udah jangan bertengkar terus. Bagaimana kalau kita pakai dua-duanya. Singkong dan spaghetti.” usul Aliya.

“Emang bisa, Al?” tanya Laras.

“Barat dan timur itu beda, Al. Mana bisa disatukan.” Belum-belum Nadine sudah menolak.

Aliya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sendiri juga tidak yakin bisa memadukan singkong dan spaghetti. Ide itu terlontar untuk menengahi pertengkaran Laras dan Nadine.

“Bisa. Pasti bisa.” Aliya berusaha meyakinkan. Dalam hati berdoa semoga resep singkong spaghetti benar-benar ada.

 Keesokan harinya,

“Tara! Ini dia resep singkong spaghetti.” Aliya menyodorkan kertas berisi catatan resep.

Laras dan Nadine bengong tak percaya. “Kamu dapat resepnya dari mana, Al?”

Aliya mengangguk mantap. “Dapat dari Mama.”

“Beneran singkong sama spaghetti bisa dimasak bareng?”

“Ya ampun, Nadine. Gak percaya amat sih. Kita praktek aja nanti pulang sekolah. Di rumahku. Biar kalian percaya kalau singkong dan spaghetti bersatu rasanya yummi.” Mulut Aliya berdecap-decap. Dari pada penasaran, Laras dan Nadine mau praktek membuatnya di rumah Aliya.

 

***

 

“Sini biar aku aja yang kukus singkongnya.” Laras menawarkan diri.

“Ye, itu kan memang bagian kamu. Aku gak mau suruh kukus singkong. Aku rebus spaghetti aja.” Nadine merebus air. Lalu menyiapkan spaghetti yang akan direbus.

Dasar Nadine dan Laras. Masih saja bertengkar soal singkong dan spaghetti. Aliya geleng-geleng kepala. Tidak mau ikutan berantem. Lebih baik Aliya menyiapkan bahan-bahan yang lain dan bumbunya.

“Al, singkongnya sudah empuk nih. Terus diapakan?” tanya Laras.

Aliya tidak menjawab. Hanya menunjuk-nunjuk resep. Laras membaca resep yang ditempel Aliya di tembok.

“Oh dihaluskan ya. Dicampur butter dan dipadatkan di loyang.”

“Sekalian lihatin dong, Ras. Spaghettinya setelah direbus diapakan,” pinta Nadine.

“Ih, lihat sendiri. Kamu kan tadi bilang spaghetti urusan kamu,” sahut Laras cuek.

Nadine mendengus kesal. Kemudian melihat sendiri resepnya.

“Spaghettinya ditiriskan dulu ya, Al?”

Aliya mengangguk. Tangannya masih sibuk menyiapkan bumbu, sayuran, dan daging giling.

“Semua bumbu siap ditumis,” kata Aliya. Ia lalu memasukkan bawang putih dan bawang bombay ke minyak yang sudah panas. Selanjutnya menambahkan daging giling, saus tomat, wortel, dan jagung.

“Nad, bawa sini spaghettinya.”

Aliya mencampur spaghetti, tumis sayur, dan bumbu-bumbu. Kemudian diletakkan di atas singkong.

“Terakhir kasih parutan keju. Dipanggang deh.” Aliya memasukkan loyang ke microwave.

“Aduh semoga jadinya bagus ya dan gak gosong,” harap Laras.

Laras dan Nadine menunggu tak sabar. Sebentar-sebentar menengok ke dalam microwave. Malah Nadine iseng inging membuka tutupnya.

“Eh, Nadine. Sabar sih. Sebentar lagi juga matang,” tegur Aliya.

Tring….

Microwave berbunyi. Tanda adonan mereka sudah matang. Bergegas Aliya mengeluarkannya dari microwave. Mereka bertiga berdecak senang.

“Asyik gak gosong.”

“Aduh aromanya bikin laper.”

“Enak nih makannya ditambah mayonese sama saus sambal.”

 

***

 

Hari perlombaan tiba. Semua heboh. Termasuk kelompok Aliya, Laras, dan Nadine. Mereka nyaris terlambat. Laras bangun kesiangan.

“Maaf, Al. Semalam aku menyiapkan peralatan lomba sampai jam 11.”

OK, alasan bisa diterima. Namun Nadine lebih parah. Semua bahan-bahan masakan tertinggal di rumahnya. Padahal Nadine sudah sampai sekolah. Mau tidak mau, Nadine pulang lagi. Sebenarnya Aliya kesal pada dua sahabatnya. Tapi lomba sudah mau dimulai. Kalau bertengkar malah tidak bisa ikut lomba.

“Ya sudah. Ayo siap-siap masak,” kata Aliya. “Nadine, tolong periksa lagi bahan-bahannya jangan sampai ada yang kurang ya.”

Aliya membantu Laras yang sedang meyiapkan peralatan memasak.

Priiiitttt….

Suara peluit membuat semua peserta diam. Kepala sekolah mengumumkan peraturan lomba. Waktu untuk memasak adalah 60 menit. Dilarang curang dengan membawa makanan yang sudah jadi. Selain cita rasa, kebersihan, kerapihan, dan penyajian juga dinilai.

Priiiitttt….

Peluit kedua berbunyi. Berarti waktu memasak dimulai. Keriuhan terjadi. Ada beberapa peserta lomba yang lupa membawa salah satu bahan. Ada pula yang menjatuhkan wajan. Lain lagi dengan kelompok di sebelah Aliya. Bawang putih mereka loncat saat akan dihaluskan. Sialnya mengenai kepala Nadine yang langsung mencak-mencak. Aliya bersyukur kelompoknya sudah latihan. Jadi mereka memasak dengan tenang. Laras dan Nadine tumben kompak. Mereka berdua bisa bekerja sama menyiapkan singkong dan spaghetti. Aliya senang melihatnya. Semoga mereka tidak bertengkar lagi gara-gara makanan.

Waktu tinggal 20 menit lagi. Kehebohan menjadi-jadi.

“Hyaaa, adonannya tumpah.”

“Kamu tadi kasih ladanya kebanyakan. Rasanya jadi pedas begini.”

“Sambalnya asin banget.”

Aliya berusaha tenang. Ia mengingatkan Laras dan Nadine untuk membersihkan meja. Ia sendiri sedang menghias hasil masakan mereka.

Priiiitttt….

Waktu telah habis. Guru-guru yang menjadi juri mulai berkeliling. Mencicipi masakan dari tiap peserta. Aliya tersenyum geli melihat ekspresi guru-gurunya saat mencoba setiap masakan.

“Asin sekali.”

“Ini malah gak ada rasanya.”

“Ya ampun kalian habis masak atau perang.”

Tiba giliran masakan Aliya, Laras, dan Nadine yang dicicipi. Mereka bertiga deg-degan. Takut rasanya tidak enak.

“Nah, yang ini baru enak.”

“Dibuat dari apa?” tanya seorang guru.

“Campuran singkong dan spaghetti, Bu. Nama masakannya Spaghetti Singkong Panggang,” jawab Aliya.

“Kalian kreatif ya. Memadukan masakan Indonesia dan barat. Bagus.”

Saatnya pengumuman pemenang. Juara pertama adalah Spaghetti Singkong Panggang. Aliya, Nadine, dan Laras bersorak senang.

“Pasti singkongnya yang bikin enak.”

“Sembarangan! Spaghettinya dong.”

Aliya bengong. Dia kira perang singkong dan spaghetti telah usai. Ternyata masih berlanjut.

“Singkong!”

“Spaghetti!”

2 thoughts on “[Cerita Anak] Singkong versus Spaghetti

Leave a Reply to Riski Fitriasari Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 2 = four