Cerita GTM dan GMM Aldebaran


Mamak lagi stres berat! Duh GTM (Gerakan Tutup Mulut) dan GMM (Gerakan Mulut Melepeh) tuh bener-bener ya bikin hati para emak rontok. Udah masaknya susah payah, berusaha bikin menu yang enak dan bernutrisi, ehhh… anaknya mingkem sak mingkem-mingkeme. Lebih kesel lagi kalau udah susah payah masuk mulut, dihempas a.k.a dilepeh begitu saja. Ya Tuhan! Apalagi pas tanggal tua, dibela-belain beli daging, jebul anaknya GTM dan GMM. Duhhh… maunya sih ikhlas. Tapi kok berat yaaa… berat banget. Dek, daging mahal, Dek. Hiks…

Yang bikin stres tuh apa, khawatir banget Baran kurang nutrisi. Kan dia lagi masa pertumbuhan yang butuh banyak protein. Mana bocahnya pecicilan, maunya playon di depan rumah. Ya ampun mamak senewen banget tauk setiap lihat timbangan, jarumnya nggak geser ke kanan. Masih bagus ajeg. Gimana kalau malah geser ke kiri alias turun. Kebayang dulu Baran seret banget naik BBnya, dan nyaris suplementasi sufor, mamak rasanya pingin jambak-jambak rambut.

Sebenarnya dari awal MPASI, Baran emang kelihatan nggak selahap Aleisha. Mbaknya mah yaaa dari pertama makan juga udah telap-telep. Kalau pun lagi GTM diajak keluar, mau makan lagi. Terus dibencandain, ‘Ada helikopter… ngung… ngung…’ langsung mangap. Baran… hadeuh. Disuapin tuh susah banget. Maunya menu daging. OK, mamak turutin. Meski harga daging waktu itu mencekik. Tapi lama-lama bosen. Karbonya udah ganti-ganti. Mulai dari beras putih,  merah, jagung, kentang, endebrai, nggak mangap juga. Buah juga milih-milih. Sukanya pisang sama mangga. The most ya mangga. Cuma kalau nggak musim gimana, Nang. Sekarang pisang bosen. Melon mau dibikin jus. Lalu bosan. Alpukat mentega yang legitnya kebangetan pun ditolak. Hhhh… simbokmu ini kudu piye tho Nang? Nanti kalau kamu kurus, bundamu iki yang disalahin. Dikomentarin nggak jelas. Nggak tahu aja perjuangan mamak nyuapin anak lanang. Please… maem dong. Entar Bunda beliin cokelat deh *muuaaahhahahaa ngerayu.

Lagi galau segalau-galaunya, saya ingat pembahasan dr Sears tentang bayi susah makan. Saya coba baca-baca lagi, dan… langsung tarik napas lega. Alhamdulillah… Lho… lho… kenapa kok jadi lega. Hmmm… saya tulis ulang deh di sini. Biar ibu-ibu yang anaknya lagi GTM dan GMM, tapi nggak punya The Baby Book bisa tahu juga.

Kebiasaan makan yang tak menentu adalah ciri khas perkembangan normal anak-anak batita yang dipengaruhi oleh suasana hatinya. Anak Anda makan dengan baik hari ini dan tidak makan sama sekali di hari lainnya. Dia begitu senang menikmati sayurannya kali ini dan menolak sayuran tersebut di lain hari. Seperti kata seorang ibu, “Satu-satunya yang konsisten dalam diri anak-anak usia ini adalah ketidakkonsistenan itu sendiri.” Kebiasaan makan yang terpola ini adalah normal, meski kadang mengkhawatirkan. Bila Anda menghitung rata-rata jumlah makanan yang dikonsumsi anak Anda selama seminggu atau sebulan, Anda akan terkejut ketika mendapati bahwa pola makannya ternyata begitu seimbang, lebih dari yang Anda perkirakan. Anak-anak batita ini membutuhkan rata-rata 1.000-1.300 kalori per hari, tetapi mereka tidak aka makan sejumlah itu setiap harinya. Mereka hampir tidak makan apa-apa pada satu hari tertentu, namun keadaan itu diimbangi pada kesempatan lainnya. Asupan gizi menjadi seimbang untuk periode waktu tertentu. Seorang ibu menyelesaikan masalah perilaku keseimbangan gizi ini, “Ketika selera makannya rendah, saya hanya menyajikan makanan yang berbeda-beda pada setiap jam makan. Daripada menghkhawatirkan soal penyajian makanan yang seimbang untuk tiap-tiap waktu makannya, saya lebih berkonsentrasi pada keseimbangan gizi mingguan.”

~The Baby Book, dr Sears

Nah, berarti no matter ya kalau anak lagi susah makan. Ya memang selama ini, Baran susah makan. Tapi sekalinya mau makan tuh, banyak banget makannya. Lalu saya pakai aji mumpung. Iya, mumpung anaknya mau makan, saya boost protein banyak-banyak. Malah bukan lagi double protein hewani. Triple protein hewani, bo. Hahaha… untung anaknya nggak mblenek ya. Mau-mau aja tuh kalau momennya emang lagi doyan makan. Triple protein hewani contohnya apa? Telur dadar ayam kampung campur daging giling (udah ditumis), terus pas disajikan taburin keju parut. Atau nasi goreng isinya udang, scrambled egg, dan sosis. Bisa juga bikin bakso, dalam satu mangkok ada bakso isi telur puyuh dan bakso isi keju. Ya pinter-pinter emaknya aja deh mengolah menu tripple protein hewain yang nggak eneg.

Selain cara di atas, kadang saya pakai triknya seorang ibu yang disebut dr Sears di atas. Yaitu memberikan makanan sedikit demi sedikit. Misalnya saya kasih bakwan udang. Dua-tiga jam kemudian saya coba tawarin, perkedel isi daging cincang, bitterballen, atau bola-bola nasi goreng. Tapi cara ini bikin hayati lelah. Hiks… Dan kalau udah lelah, bodo amat lah, Dek. Ntar juga mau makan sendiri. Jadi saya bener-bener nggak nyiapin makanan apapun. Lelah… lelah….

Bakwan Teri Basah

Saya hanya yakin aja, badai GTM dan GMM pasti berlalu. Ya kan? Ya kan? Mommies lainnya gimana kalau anak GTM dan GMM? Boleh sharing dong.

 

2 thoughts on “Cerita GTM dan GMM Aldebaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


nine − = 4