[Cerita Anak] Hantu Kebun Salak

Sumber gambar: yogyakarta.panduanwisata.id

Sumber gambar: yogyakarta.panduanwisata.id

Rara, sepupuku datang dari Jakarta hari ini. Setiap lebaran, keluarga Rara merayakannya di Jogja. Berhubung sekolah sudah libur, ia diantar duluan ke rumahku.

Orang yang paling senang dengan kedatangan Rara adalah adikku, Lia. Umur mereka tidak beda jauh. Hanya terpaut enam bulan. Sama-sama duduk di kelas tiga SD. Makanya mereka seperti anak kembar. Kalau sudah ketemu, lengket kayak lem. Seperti siang ini.

“Lia, Rara, panas-panas mau ke mana?” tanyaku melihat mereka hendak keluar rumah.

“Ke mbelik bentar, Mbak. Gerah nih. Pingin main air,” jawab Lia.

Siang-siang begini memang enak berendam di mbelik. Sumber mata air yang berasal dari gunung Merapi. Airnya jernih dan segar. Letak mbelik di belakang kebun salak milik keluargaku. Tapi aku sudah berjanji membantu bapak memanen salak.

Tak lama setelah mereka pergi, aku bergegas menuju kebun. Namun baru setengah perjalanan, aku mendengar suara berisik.

Kresek! Kresek!

Suara apa ya? Tanyaku dalam hati. Aku mendekati asal suara itu. Namun kakiku tersandung batu.

“Aduh!”

Aku mengelus kakiku yang sakit. Anehnya, suara tadi mendadak hilang. Mungkin aku salah dengar. Aku pun melanjutkan perjalananku. Salak yang mau dipanen, letaknya di kebun paling ujung. Perlu waktu delapan menit berjalan kaki. Sampai di sana, bapak dan ibu sedang sibuk memanen salak.

“Ran, Lia sama Rara di rumah atau main?” tanya bapak ketika aku tiba di dekatnya.

“Ke mbelik, Pak,” jawabku. Lalu jongkok di dekat bapak.

“Pakai sarung tangan dulu. Ada di tenggok,” suruh bapak sambil menunjuk keranjang dari anyaman rotan. “Sekalian sabitnya ya.”

Setelah itu, bapak mengajari aku cara memetik salak.

“Pegang salaknya pakai tangan kiri. Hati-hati pegang sabit di tangan kanan. Terus potong pelan-pelang batangnya.”

Mencari batang salak harus sabar. Letaknya kadang tersembunyi. Tapi dengan diajari bapak, aku berhasil menemukan batang salak dan memotongnya.

“Alhamdulillah, panen kita kali ini banyak. Ibu bisa belikan kamu dan Lia baju baru untuk lebaran,” kata ibu.

Tak terasa hari menjelang sore. Kami pun bersiap pulang. Tapi tiba-tiba ada yang memanggil.

“Bapak, Ibu, Mbak Rani, tunggu!”

Aku menoleh. Ternyata Lia dan Rara. Mereka berlari-lari mendekat.

“Segar habis mandi di mbelik?” tanya bapak.

“Iya, Pak,” jawab Lia. “Puasa jadi enggak berasa.”

“Kamu minum air mbelik ya?” godaku.

Raut wajah Lia tampak tidak terima. “Enak aja. Mbak Rani nih sukanya nuduh.”

“Betul, Mbak. Ini bulan Ramadhan lho. Enggak boleh bohong. Eh, salah. Enggak boleh menuduh sembarangan,” tambah Rara.

Bapak dan ibu tertawa melihat Lia dan Rara sewot.

“Kalau memang enggak benar ya jangan marah-marah dong, Lia,” kata ibu lembut.

“Jangan-jangan….” Aku terus menggoda mereka.

“Mbak Rani!”

Aku semakin senang melihat mereka marah-marah. Oh iya, aku jadi teringat sesuatu.

“Eh, aku kan tadi berangkat ke kebun enggak lama setelah kalian. Terus aku dengar ada suara kresek-kresek gitu. Kalian dengar juga enggak?”

Lia dan Rara berpandangan. Lalu keduanya menggeleng bersamaan. Huh! Benar-benar mirip anak kembar.

“Pencuri kali, Mbak,” tebak Rara.

“Enggak mungkin,” sergahku cepat. Di kampungku, hampir semua penduduknya bertani salak. Masa petani salak mencuri salak.

“Atau ada yang mau meracuni tanaman salak kita, Mbak,” cerocos Lia.

Aku segera menowel pipinya. “Tadi bilang enggak boleh menuduh.”

“Berarti hantu dong.” Rara langsung mengambil kesimpulan.

Aku, bapak, dan ibu tergelak.

“Mana ada hantu siang-siang, Rara,” ujarku. “Andai benar hantu, biar nanti malam gigit kamu.”

Rara mencubitku gemas. “Mbak Rani tanggung jawab antar aku ke kamar mandi malam-malam.”

Aku justru menakutinya dengan suara hantu. “Hiii… Hiii… Hiii….”

Keesokan harinya, aku masih penasaran dengan bunyi kemarin. Aku bertekad menyelidikinya. Setelah Lia dan Rara pamit mau ke mbelik, aku berangkat ke kebun. Sengaja berjalan mengendap-endap. Siapa tahu bunyi itu muncul lagi. Tebakanku tepat.

Kresek! Kresek!

Langkah kakiku semakin pelan agar tidak terdengar.

Kresek! Kresek!

Bunyinya semakin keras. Berarti sudah dekat. Aku melihat bayang-bayang di balik pohon salak. Mulutku ternganga saat bayangan itu terlihat jelas.

“Jadi kalian hantu di kebun salak!” kataku geram.

Mereka kaget melihatku dan tampak ketakutan. Di bawah mereka bungkus jajanan berserakan.

“Batal puasa ya?” Kali ini aku tidak menuduh. Bungkus makanan menjadi buktinya.

“Habis kita enggak kuat, Mbak.” jawab Lia.

“Kita batalnya pas adzan Dzuhur kok, Mbak. Puasa setengah hari.” Rara nyengir.

Aku menatap mereka satu-persatu.

“Lia, Rara, kalau memang enggak kuat ya bilang aja. Enggak usah sembunyi-sembunyi begini.” Aku maklum jika mereka belum kuat berpuasa seharian.

“Soalnya….” Kalimat Lia menggantung.

“Soalnya papa mama mau ajak kita jalan-jalan ke Tawangmangu. Tapi syaratnya enggak bolong puasa.” Rara meneruskan kalimat Lia.

Aku tidak bisa menahan tawaku mendengar alasan mereka.

“Jadi kalian bohong biar diajak jalan-jalan ke Tamangmangu?”

Mereka mengangguk pelan.

“Kemarin ada lho yang bilang. Puasa itu enggak boleh bohong.” Aku melirik Lia dan Rara.

“Iya deh kita minta maaf,” ucap Lia.

Aku jadi punya ide.

“Dimaafkan. Tapi kalian harus bantu panen salak. Kan udah makan. Pasti punya tenaga dong.”

“Yaaa….” Wajah Lia dan Rara langsung tidak bersemangat.

Aku tidak peduli. Segera aku pegang tangan keduanya. Kemudian menarik mereka ujung kebun.

“Bapak, Ibu, aku dapat tenaga bantuan nih buat memanen salak.”

11 thoughts on “[Cerita Anak] Hantu Kebun Salak

Leave a Reply to Ranii Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 + = twelve