Cita-citamu, Masa Depanku

 

Dear 10 years old Astri,

Semalam aku bermimpi. Rasanya aku seperti terlempar di sebuah lorong yang sangat menyilaukan mataku. Aku terus berputar di dalamnya. Anehnya kepalaku tidak pusing. Tapi aku terus memejamkan mata karena cahaya yang silau. Saat aku sedikit membuka mata untuk mengintip, aku melihat sebuah titik hitam yang semakin lama semakin membesar. Tubuhku terseret makin kuat. Lalu tiba-tiba….

Buk!

Aku terjatuh. Di mana aku? Pikirku. Aku melihat sekeliling. Tampaknya aku mengenali tempat ini. Ya, aku sedang terduduk di tepi sawah. Tak jauh dariku terjatuh, aku melihat beberapa anak sedang berkerumun. Aku penasaran. Kemudian aku mendekati kerumunan itu. Hei, bukankah itu kamu? Apa yang kamu lakukan di tepi sawah dengan teman-temanmu? Tapi aku tidak mungkin bertanya padamu. Kamu dan teman-temanmu tidak bisa melihatku. Jadi baiklah, aku akan memerhatikanmu saja.

Kamu menyusun enam bata membentuk huruf U. Dua bata di kanan, dua bata di kiri, dan dua bata di depan. Lalu kamu meletakkan ranting-ranting kering di antara bata kanan dan kiri. Temanmu meletakkan panci kecil berisi air di atas bata. Kemudian kamu membuka kantong kresek. Aku lihat di dalamnya banyak bahan-bahan membuat kue. Ah iya aku ingat. Kamu mau memasak biji salak. Kamu dan teman-temanmu kompak membuat adonan, memasaknya, dan… you did it. Kalian memakan biji salak dengan daun pisang. Tampak riang sekali.

 

10 years old Astri with her dad

 

Tapi aku heran, kenapa kamu masak di pinggir sawah? Keherananku pun terjawab ketika dari jauh nenekmu memanggil pulang. Kamu sedikit takut. Khawatir dimarahi. Benar saja, kamu dimarahi karena bermain-main di sawah. Wajahmu sedih sekali.

Sebenarnya kamu tidak perlu sembunyi-sembunyi masak di pinggir sawah. Sayang, nenekmu tidak pernah mengizinkanmu memakai dapurnya. Nenekmu takut melihatmu bermain api. Padahal kamu hanya ingin memasak. Aku tahu, kamu pernah diam-diam memasak di rumahmu. Rumah yang belum di huni karena kamu dan orang tuamu tinggal di kota lain. Namun ketahuan karena kamu meninggalkan bekas hitam di tembok bata. Nenekmu marah habis-habisan.

Aku sedih sekali melihatmu dimarahi nenek karena memasak. Padahal mungkin saja itu passionmu. Sayang orang tuamu tidak menyadarinya. Kurang bisa menyalurkan keinginanmu. Tapi aku tidak ingin menyalahkan orang tuamu. Mungkin mereka belum belajar tentang pendidikan anak.

Kamu tahu, aku sering sekali mengikuti acara memasak untuk anak-anak. Aku paling suka Australia Junior Master Chef. Bayangkan, ada anak umur sembilan tahun yang sudah pandai memasak. Ia terampil sekali menggunakan alat-alat dapur. Ia juga hafal bahan-bahan makanan yang buatku sulit. Aku senang melihat ekspresi mereka ketika memasak dan dinilai juri. Mereka masih polos namun sudah bisa menunjukkan bakatnya. Orang tua mereka sangat mendukung. Aku ikut gembira saat Isabella menjadi pemenangnya. Anak itu cantik. Dia mampu memasak makanan kelas hotel internasional. Isabella menuai banyak pujian dari para juri.

Aku ingin sekali kamu seperti mereka. Jadi saranku, katakan pada ayah dan ibu kalau kamu ingin belajar memasak. Aku yakin orang tuamu mengerti. Mereka akan mencarikan kursus untuk anak-anak belajar memasak. Atau mungkin mencarikan lomba memasak untuk anak-anak agar kamu bisa ikut. Dengan begitu, kamu tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi memasak di pinggir sawah.

OK, sekian dulu ya surat dariku. Aku berharap kamu bisa membujuk orang tuamu. Dan aku berdoa, semoga kamu bisa mewujudkan semua keinginan dan cita-citamu. Tolong kejar passionmu itu ya. Agar di masa sekarang aku menjadi chef terkenal yang akan muncul di TV :p

 

26 years old Astri with her ... ^_~

 

Salam sayang untukmu.

Astri, 26 tahun, dirimu di masa depan.

4 thoughts on “Cita-citamu, Masa Depanku

  1. Pingback: [#ForYoungerMe] ~ Cita-citamu, Masa Depanku | 15 Hari Menulis Flash Fiction

  2. asssssssssssstriiiiiiiiiiiiii…..masa kecil yg g terlupakan… dibawah pohon sukun ma jambu….with master chef mb ari…makasih dah ngajarin qta masak wktu itu…. aq masih inget betul resep nya,bij salak dr ubi…yummmi.!

    om karman HAU 10 th lbih aq tidak bertatap muka dgn beliau..sehat kan as?

    next story maybe (bln romadhon,maem salak di tengah kebun,siang bolong)…
    🙂

    • *tutup muka*

      aihhhhh mbak lina jangan buka2 kartu yang di tengah kebon salak itu lah
      masa kecil yang memalukan tapi asyik yahhh
      kangen banget loh mbak *peluukkkkk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


2 × five =