Dicari Potret Polos Dibalik Musik Anak Indonesia

Untuk Sumber Silakan Klik Gambar

“Baby, I love you. Love you. Love you so much.”

Saya terlonjak mendengar sebuah suara cempreng menyanyikan lagu Cherry Belle. Sepupu saya yang masih TK itu dengan fasih menyanyikannya. Lalu saya tanyakan pada ibunya.

“Bulik, kok anaknya boleh nyanyi lagu begituan sih?”

Apa jawab ibunya? “Biarin aja. Namanya juga anak-anak.”

Hah? ‘Namanya juga anak-anak’? Duh kasihan sekali ya anak-anak jaman sekarang. Tak ada lagi hiburan untuk usia mereka. Hiburan yang seharusnya membantu perkembangan psikologi dan kecerdasannya. Mereka kan masih baru mau mengenal dunia. Tapi dunia justru mengenalkannya pada fase dewasa sebelum waktunya. Fase kehidupan yang seharusnya mereka kenal 10 tahun lagi. Bukan hanya dari sepupu. Tapi saya sering mendengar anak-anak yang menyanyikan lagu dewasa. Saya miris sekali ketika menonton acara musik di TV, begitu banyak anak yang ikut berjingkrak-jingkrak. Mengikuti musik dan menirukan nyanyian sang boy band atau girl band idolanya. Beginikah realita musik anak Indonesia saat ini?

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah tayangan kontes menyanyi anak di sebuah stasiun televisi swasta. Herannya, hampir semua lagu yang dinyanyikan adalah lagu orang dewasa. Sungguh sedih hati saya melihat wajah-wajah polos itu harus mengekspresikan isi lagu orang dewasa. Saya yakin anak-anak itu tidak mengerti makna lirik cinta dari lagu yang dinyanyikannya.  Duh, adik-adikku sayang. Belum saatnya kalian berekspresi seperti itu. Di usia yang belum saatnya mereka mengenal cinta kepada lawan jenis. Saya semakin sedih ketika melihat kepolosan mereka seakan hilang.

Acara lainnya seperti kuis tebak lagu yang pesertanya anak-anak dan artis cilik. Padahal untuk anak tapi kenapa yang dipakai sebagai pertanyaan lagu dewasa. Saya semakin kasihan melihat mereka bisa menebak dan terlonjak girang saat tebakannya benar.

Bukankah lagu anak-anak yang berjaya di tahun 80 dan 90-an itu banyak sekali? Liriknya pun bagus-bagus. Tak hanya menghibur tapi juga mengajarkan nilai-nilai kebaikan atau pengetahuan untuk anak-anak. Misalnya lagu Semua Ada Disini yang dinyanyikan oleh Enno Lerian. Lagu itu mengenalkan anak-anak pada makanan yang ada di Indonesia. Contoh lainnya Trio Kwek-Kwek yang menyanyikan lagu berjudul Katanya. Mereka mengenalkan kekhasan tiap negara melalui lagu. Saya rasa lagu seperti itulah yang dibutuhkan anak-anak di usia perkembangannya.

Kadang saya berpikir. Betapa beruntungnya masa kecil saya dulu. Saya dihibur oleh Susan dan Ria Enes, Melisa, Enno Lerian, Bondan Prakoso, Trio Kwek-Kwek, Chikita Meidi, dan penyanyi cilik lainnya. Kenapa tidak ada regenerasi untuk penyanyi-penyanyi cilik itu?

Menyanyi sebenarnya bermanfaat sekali bagi anak-anak seperti yang ditulis di sebuah situs psikologi. Dengan menyanyi dan berjoget akan meningkatkan dan melatih gerakan motorik anak. Menyanyi juga menjadi kegiatan yang menyenangkan sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan diri mereka. Bahkan orang tua bisa menemukan bakat pada anak. Ditambah lagi lirik lagu yang dapat meningkatkan perkembangan bahasa anak. Bila saya jadi orang tua, saya tidak rela anak-anak saya dewasa sebelum waktunya. Walaupun saya tahu sangat sulit mendidik anak karena saat ini banyak pengaruh buruk dari sebuah ‘kotak ajaib’ bernama televisi. Namun setidaknya ada usaha untuk mencetak generasi terbaik minimal untuk kita sebagai orang tuanya.

One thought on “Dicari Potret Polos Dibalik Musik Anak Indonesia

  1. haloo..salam berkunjung..yaa.sebenanrnya apuapn yang akan kita apresiasikan kepada dunia semua berasal dari fondasi awal-keluarga..namun miris yaa melihat kenyataan bahwa keluargalah yg justru mengajari kita untuk menolak perbedaan..kita gak boleh bergaul dengan orang ini,itu,suku ini itu,dan lain2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


8 − four =