Dot Pilihan Genduk

 

Bunda galau, Nduk, menjelang cuti melahirkan habis. Rasanya Bunda tidak siap berpisah darimu walau sedetik. Selama masa maternity, kamu tidak pernah lepas dari Bunda. Makanya Bunda parno membayangkan akan meninggalkanmu dua belas jam selama lima hari. Ya memang ada Eyang (mertua – red) yang nanti akan membantu Bunda merawatmu. Tapi tetap saja beda, Nduk. Ingin Bunda menjadi stay at home mommy. Tapi Yanda masih membutuhkan bantuan Bunda untuk mencari nafkah. Kalau Bunda enggak kerja, siapa yang bayar cicilan rumah. Lho kok Bunda jadi curhat ya. 😀

 

Akhirnya, setelah melalui air mata yang berderai-derai, Bunda ikhlas kembali bekerja. Sayangnya sepuluh hari menjelang bekerja, Bunda belum mengajarimu minum ASIP. Padahal Bunda sudah membelikan botol sendok.

 

Khawatir Bingung Puting

Kenapa botol sendok? Ya, sewaktu kamu masih di perut, Bunda berkunjung ke klinik laktasi. Bunda berkonsultasi dengan dokter karena puting Bunda inverted. Alhamdulillah, kata dokter, Bunda tetap bisa menyusui. Lalu Bunda pun banyak bertanya tentang pemberian ASIP saat kamu ditinggal kerja.

 

“Kalau Ibu bekerja dan ingin terus memberikan ASI, jangan pernah pakai dot. Buang dot jauh-jauh dari daftar perlengkapan bayi yang akan dibeli. Berikan ASI ibu menggunakan sendok,” saran dokter di klinik laktasi.

 

“Kenapa, Dok?” tanya Bunda.

 

“Ketika bayi akan menyusu, dia harus melewati empat tahapan. Menangkap puting, berusaha memasukkan ke mulutnya, melekatkan puting di langit-langit mulut, dan menghisapnya. Jadi ia menggunakan banyak tenaganya untuk bisa menyusu. Kalau pakai dot, ASI akan mengucur seperti keran. Nanti bayi tidak mau menyusu lagi kepada ibunya karena dot lebih mudah.”

 

Berbekal saran dokter, Bunda menjelma menjadi sangat idealis. Kamu tidak akan Bunda perkenalkan kepada dot. Sewaktu kamu belum pandai menyusu, Bunda bersikeras memberikan ASI yang diperah menggunakan sendok. Bunda takut kamu tidak mau menyusu jika sudah kenal dot.

 

Namun, memberikan ASIP dengan sendok dan gelas sangatlah repot. Belum tentu Eyangmu memiliki kesabaran ekstra karena membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyuapimu. Maka Bunda belikan botol sendok khusus untuk ASIP. Harganya mahal sekali, Nduk. Hampir tiga ratus ribu. Bahannya dari silikon lembut. Jadi sendoknya bisa kamu kenyot. Harapan Bunda, Eyangmu tidak akan merasa repot.

 

Sayangnya, kamu menolak, Nduk. ASIP Bunda banyak yang terbuang. Bunda pikir, kamu baru belajar. Besok dan besoknya, Bunda coba lagi. Hasilnya tetap sama. Hanya sedikit yang bisa kamu telan.

 

Berdamai dengan Dot

Utiemu (ibu – red) membujuk Bunda agar menggunakan dot. Awalnya Bunda bersikeras menolak. Tapi melihatmu kesulitan memakai botol sendok, hati Bunda mulai goyah.

 

“Nanti kebutuhan ASInya enggak terpenuhi lho. Kasihan juga yang momong. Kelamaan cuma nyuapin ASI,” bujuk Utiemu.

 

Kekerasan hati pun melumer. Bunda mengajakmu bicara.

 

“Nduk, maaf ya Bunda kasih dot. Kasihan Eyang kerepotan kalau pakai botol sendok. Jadi siang minum pakai dot. Malamnya minum langsung sama Bunda. Enggak apa-apa ya, anak pintar.”

 

Kemudian Bunda memberikan ASIP menggunakan dot wideneck berbentuk bulat. Buatan Inggris lho, Nduk. Sama seperti botol sendok, kamu menolaknya. Bahkan meronta dan menolak. Bunda bingung, Nduk. Empat hari lagi Bunda harus kembali ke kantor.

 

Ketika Bunda sholat, Utie mengajakmu main di depan rumah. Bunda dengar Utie sedang mengobrol dengan tetangga.

 

“Oh mau dikasih ASI perah ya. Saya dulu juga perah ASI waktu ninggalin anak kerja. Coba pakai yang gepeng, Bu. Anak saya enggak bingung puting,” saran tetangga kita.

 

Ternyata Kamu Suka yang Murah

Utie langsung menyuruh Bunda mencari dot yang bentuknya gepeng. Bunda coba cari di online shop langganan. Tapi sedang kosong. Bunda justru menemukannya ketika belanja di minimarket. Harganya murah. Hanya enam belas ribu lima ratus rupiah. Bunda membeli dengan mata yang berbinar. Semoga kamu suka, Nduk.

 

Sampai di rumah, Utie mencoba memberikan ASIP pakai dot gepeng. Kamu tetap meronta. Tapi dengan mulut berdecap. Dan tak lama kemudian, Alhamdulillah kamu mau mengenyot. Bunda buru-buru mengambilmu dari Utie. Lalu menyodorkan payudara Bunda. Kamu tetap mau menyusu kepada Bunda. Selama tiga hari, Bunda bergantian memberikan ASI menggunakan dot dan menyusu langsung. Alhamdulillah kamu tidak bingung puting. Sayangnya, botol dot yang gepeng tadi belum BPA free. Bunda pun mengganti botolnya dengan yang BPA free agar kamu tidak menelan zat karsinogenik. Oalah, Nduk, ternyata kamu senangnya yang murah-murah. Baguslah. Berarti kamu mengajak Bunda berhemat.

 

 

Kamu tahu, Nduk, kenapa Bunda khawatir bingung puting? Bunda ingin sekali menyusuimu dengan sempurna. Dan kalau Allah menghendaki, Bunda ingin memberikannya lebih dari dua tahun. Makanya, Bunda bersyukur kamu tetap mau menyusu langsung saat Bunda pulang kerja. Kita kerjasama yuk, Nduk. Kita sukseskan ASImu hingga dua tahun lebih. Semangat!

 

Genduk: panggilan anak perempuan untuk orang Jawa

11 thoughts on “Dot Pilihan Genduk

  1. Kl boleh tau pake merk apa bunda pake dot-nya? Babyku kesulitan nih minum asip pke dot, aq dah pke dot merk h*ki yg ceper nipplenya. Babyku mau sih tp msh kesulitan kdg sambil nangis2, pdhl 4 hr lg aq dah masuk kerja.. Jd galau bunda.. :'(

  2. wuaah.. sama ni.. my baby hana.. udah dibeliin botol n dot replacementnya smpe ke level 3 eeehhh..trnyata ngga mau… huhu… manalg beli botolnya sekalian.yg isi 2… hiks yg merk d*br**n… sdh hampir 300 ribu jg. ..smg hana menemukan yg cocok utknya..

  3. mbak, boleh tau sendok botolnya yg merek apa n beli di mana? anak sy jg sulit minum asip pake feeder cup, musti perang dulu pake acara nangis dan keselek.

    tulisan2 mbak bikin sy semangat deh, sy msh dikit asipnya, sekali merah cm dapet 30-70ml. tp ini baru sebulanan. moga2 ke depannya makin bnyk.

    • saya awalnya pakai botol sendok merk nursin smart
      belinya di ASI bayi
      tapi aleisha ndak mau
      akhirnya terpaksa pakai dot karena yg momong juga kurang telaten nyuapin asip

      ayo semangat terusss yaaa
      insya allah asi akan semakin banyak kalau terus diperah 😉

  4. waaahhhh seru sekali ceritanya, kebetulan saya ayah baru yg sedang mecoba belajar ngasih asi pake sendok ternyata memang butuh kesabaran yang ekstra

    oh iya sekedar share panggilah anakmu dengan sebutan terbaik yaitu namanya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


six + 2 =