[Cerita Anak] Gara-gara Ngambek

Sumber gambar: freedesignfile.com

Sumber gambar: freedesignfile.com

Sudah satu jam Abraar berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Kadang duduk sebentar. Berdiri lagi. Mendesah. Mengeluh.

“Huh. Om Bagas kemana sih? Jam segini kok belum datang?” keluh Abraar.

Abir yang sedang membaca, menurunkan bukunya.

“Kalau kamu mondar-mandir terus, pasti terasa lama. Duduk saja dulu. Baca buku atau nonton TV,” saran Abir.

“Sekarang sudah hampir jam 11 Mbak Abir. Puncak nanti macet.”

“Ya berdoa saja semoga tidak macet,” respon Abir kalem.

Abraar mendengus kesal. Lalu duduk. Tangannya memainkan remote TV.

“Mungkin Om Bagas ada acara mendadak di kampusnya. Sabar sedikit,” sambung Mama sambil meletakkan dua mangkok es pisang ijo. “Nih dimakan dulu.”

Abraar melirik sekilas. Sebenarnya ingin makan. Tapi rasa kesalnya membuat Abraar kehilangan selera.

“Ya sudah buat Mbak Abir semua es pisang ijonya.” Tangan Abir sudah menjulur hendak mengambil kedua mangkok.

“Eh, jangan rakus dong, Mbak.” Abraar buru-buru menyambar mangkoknya.

Abir dan Mama tertawa. Tepat setelah Abraar menghabiskan es pisang ijonya, terdengar suara klakson.

Tiiinnn. Tiinnn.

“Itu Om Bagas datang,” seru Abir.

Tidak sampai dua menit, Om Bagas muncul di ruang tengah.

“Halo, anak-anak. Maaf ya Om yang paling ganteng ini terlambat. Tadi ada yang harus dibereskan di kampus.” Om Bagas menyapa sekaligus minta maaf.

“Ayo kita pergi sekarang,” ajak Om Bagas.

Abir segera menyambar tas ransel yang tergeletak di dekatnya. Abraar juga sama. Bedanya Abir tersenyum, Abraar cemberut.

“Let’s climb, kids!” Om Bagas menaikkan ransel Abir dan Abraar ke mobil jeepnya.

“Gas, hati-hati ya. Jaga anak-anak,” pesan Mama.

“Siap!”

Abir melambaikan tangan ke Mama. Wajahnya terlihat senang. Akhirnya bisa juga pergi kemping dengan Om Bagas, adik bungsu Mama. Om Bagas pernah janji akan mengajak Abir dan Abraar kemping di Cibodas. Gara-garanya Abir sebal hanya mendengar cerita Om Bagas yang sering kemping dan naik gunung. Om Bagas kuliah semester akhir. Di kampusnya, Om Bagas aktif di klub pecinta alam. Setelah berdiskusi panjang lebar dengan Mama dan Papa, Sabtu ini mereka boleh pergi kemping. Kebetulan sekolah pulang cepat karena guru rapat.

 

***

 

Sampai di Cibodas sudah jam tiga sore.

“Alhamdulillah ya enggak terlalu macet,” kata Om Bagas

Abir mengangguk.

“Eh jagoan kok masih cemberut saja?” Om Bagas melirik Abraar.

“Iya nih. Kita kan disini mau senang-senang, Dek.” Abir mencolek bahu adiknya. Abraar cuma mesem sedikit.

“Bagaimana kalau yang cemberut kita tinggal.” Om Bagas menarik tangan Abir. Mengajak lari.

“Mbak. Om. Jangan tinggalin aku dong.” Abraar berlari mengejar. “Iya janji enggak cemberut lagi.”

Om Bagas tertawa. “Eh beli talas yuk. Om Bagas pingin.”

“Aku mau strawberry, Om,” pinta Abir.

“Boleh. Kamu mau beli apa, Abraar?”

“Aku mau minta saja,” jawab Abir.

“Yeee. Sukanya minta-minta.” Abir mencubit pipi adiknya.

Usai membeli talas dan strawberry, mereka melanjutkan perjalan ke bumi perkemahan. Ternyata sudah banyak tenda berdiri. Kata Om Bagas, Sabtu-Minggu memang ramai. Ada yang kemping satu keluarga. Ah sayang Mama dan Papa tidak bisa ikut. Om Bagas segera mendirikan tenda selagi hari belum gelap

 

***

 

“Mbak Abir!” Tiba-tiba Abraar berteriak.

“Kenapa, Dek?” tanya Abir.

Wajah Abraar pias. Seperti takut disalahkan.

“Tas yang isinya makanan ketinggalan di rumah.” Pelan Abraar menjelaskan.

“Kok bisa?” Abir menahan diri untuk tidak marah. Kasihan adiknya. Apalagi melihat wajahnya yang pucat.

“Kalau memang ketinggalan mau bagaimana lagi.” Om Bagas mengangkat bahu.

“Terus kita makan apa dong, Om? Aku lapar.” Abraar memegang perutnya.

“Bukannya tadi kita beli talas dan strawberry.”

“Siapa yang masak?”

Om Bagas menepuk dadanya. “Om Bagas lah. Di tas Om Bagas ada kompor gas kecil dan panci. Kita masak sekarang saja yuk.”

Abir langsung mengambil talas dan strawberry yang tergeletak di dalam tenda. Kemudian menyerahkannya kepada Om Bagas. Dengan cekatan, Om Bagas mengupas bersih talas.

“Nah, Abraar. Kamu bantu potong-potong talas ya. Harusnya diparut. Berhubung tidak ada parut, pakai pisau saja.”

Om Bagas mencontohkan caranya. Talas dipotong tipis dan kecil. Supaya mirip hasil parutan.

“Abir, bisa minta tolong mengiris gula aren dan strawberry?”

Abir heran kenapa Om Bagas membawa gula aren. “Om Bagas kok bawa-bawa gula aren?”

“Gula aren atau gula merah wajib dibawa setiap naik gunung, Bir. Untuk menambah stamina. Biar kuat.” Om Bagas mengangkat lengannya seperti binaraga.

“Om Bagas ambil air dulu ya.”

Setelah talas, gula aren, dan strawberry dipotong, Om Bagas mencampurnya menjadi satu. Lalu dimasukkan ke sarangan alumunium berukuran kecil.

“Adonannya kita kukus dulu ya. Tunggu sampai empuk.” Om Bagas menjelaskan.

Abir dan Abraar mengangguk.

“Memang kita masak apa sih, Om?” tanya Abraar.

“Sawut talas gula aren strawberry,” jawab Om Bagas.

“Lho bukannya sawut dari singkong, Om?”

“Iya sih. Tapi karena yang ada talas, ya kita pakai yang ada saja.” Om bagas tersenyum.

“Nih ya, Om kasih tahu. Kalau nanti Abir dan Abraar naik gunung dan kehabisan perbekalan, harus mau makan apapun yang ada. Om Bagas pernah cuma makan daun.”

Om Bagas terus bercerita tentang makanan apa yang yang pernah dimakan ketika naik gunung. Mereka lupa adonan talasnya. Sampai panci mengeluarkan asap.

“Eh, talas kita.” Om Bagas yang tersadar buru-buru mematikan kompor. Mereka pikir masakan mereka gosong. Namun begitu dibuka, jadinya bagus. Strawberry dan gula arennya tercampur rata. Ternyata asap tadi muncul karena airnya habis. Om Bagas terlalu sedikit menaruh air.

“Cobain deh. Enak enggak?” Om Bagas menyodorkan sawut talas kepada Abir dan Abraar. Mereka beredua tampak ragu. Pelan tangannya terjulur. Mengambil sedikit dan memasukkan ke mulut.

“Enak, Om. Rasanya manis agak asem.” Abir mengacungkan jempol.

“Iya enak. Mau lagi,” kata Abraar.

Tidak sampai sepuluh menit, sawut talas gula aren strawberry ludes. Mereka bertiga terduduk kekenyangan.

“Alhamdulillah kenyang. Besok makan sawut talas lagi, Om?” tanya Abraar.

“Sayang talasnya habis,” jawab Om Bagas.

“Terus kita enggak sarapan?”

“Terpaksa makannya agak siangan. Sekalian kita pulang.”

Abraar langsung menepuk keningnya. “Enggak lagi-lagi deh ngambek. Jadi lupa semua. Enggak enak enggak ada makanan begini.”

Om Bagas dan Abir tertawa melihat Abraar yang manyun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


nine × 8 =