Halalkan Pesona Cantikmu

 

Waktu kecil, saya paling tidak suka berdandan. Iyalah ganjen amat kecil-kecil dandan *hihihi. Ke sekolah pun saya malas pakai bedak. Walau dimarahin Ayah terus disuruh pakai bedak, saya tetap ogah.

 

“Anak perempuan itu harus pintar dandan. Biar wajahnya segar. Pakai bedak sana. Kalau enggak pakai Ayah enggak mau nganter. Malu punya anak kumal.”

 

Ih ngancem. Maka saya lari terbirit-birit balik ke kamar untuk memoleskan bedak ke wajah. Dari pada tidak diantar. Soalnya dari rumah ke sekolah jaraknya sepuluh kilometer. Alhasil karena malas pakai bedak, muka saya persis kayak kilang minyak. Mungkin bisa ditambang kali ya. Lumayan buat tambahan goreng telur. Dan kilang-kilang minyak itu menumbuhkan bintang-bintang di wajah saya. Alias jerawat. Sampai tidak terhitung bintang-bintang di wajah saya. Persis langit yang dihias bintang-gemintang. Cuma jika langit semakin indah dengan kilau bintang, saya makin terpuruk dengan suram ‘bintang’.

Kebiasaan malas pakai bedak ini saya bawa sampai kuliah. Bodo amat datang kuliah dengan wajah berminyak dan penuh jerawat. Namun tingkat dua, saya mulai malu. Saya pun membeli sedikit kosmetik. Kok sedikit? Iya wong beli pelembab saja yang dipadu dengan bedak. Sudah cukup.

 

Apalagi semasa kuliah saya didoktrin, berdandan berarti tabarruj. Glek! Pernah lagi kajian rutin, seorang teman saya memoles wajahnya dengan bedak setelah berwudhu. Saya tahu, teman saya itu memang suka berdandan. Tapi dandannya tidak berlebihan. Saya juga tahu niatnya bukan untuk pamer kecantikan. Biar pun aslinya dia sangat cantik. Ada teman lain yang menegurnya.

 

“Pakai bedak melulu sih. Tabarruj tahu!”

 

Aduh bagaimana saya tidak gemen (baca: gemetar). Jadi takut dandan. Pakai lipstik saja tidak berani. Pas wisuda saya diomelin ibu gara-gara tidak mau pakai lipstik. Takut dipandang hina. Hiks…. Kasihan ya hidup dalam ketakutan. Belakangan saya tahu. Teman yang bilang dandan itu tabarruj sekarang jualan kosmetik Wardah. Nah lho? Bingung saya. Sampai Jakarta, saya masih belum pede dandan. Pas lagi kajian rutin juga, saya pakai bedak setelah wudhu. Eh dilihatin. Langsung cilik atiku. Tidak berani pakai. Padahal apa sih artinya tabarruj?

 

Secara bahasa tabarruj artinya ke luar dari istana. Dan secara istilah, artinya memperlihatkan dengan sengaja apa yang seharusnya disembunyikan. Kemudian dalam perkembangannya, tabarruj diartikan sebagai keluarnya perempuan dari kesopanan, menampakkan bagian-bagian tubuh yang vital yang mengakibatkan fitnah atau dengan sengaja memperlihatkan perhiasan-perhiasan yang dipakainya untuk umum

 

Berarti boleh dong ya pakai kosmetik. Asal tidak berlebih hingga terlalu menarik. Apalagi berlebihan yang terkesan habis digebukin atau cemong kayak badut *hihihi. Saya mulai aware dengan masalah penampilan ketika bekerja di sebuah bank syariah. Maklum wajah harus terus fresh. Mau tidak mau, saya pun sering-sering memoles bedak begitu tetes-tetes minyak bermunculan. Lalu lebih perhatian lagi, setelah menikah.

 

“Pakai bedak enggak sih? Kumal amat,” komentar suami ketika sedang jalan berdua.

 

Jiah… parah amat komentarnya. Akhirnya saya mulai belajar dandan. Alat-alat pembuat wajah cantik, saya koleksi. Mencoba satu-persatu cara memakainya. Ikut beauty class. Lama-lama tahu juga bagaimana cara memakai foundation yang benar, cara memoles blush on supaya terlihat natural, cara memakai eye shadow dan mascara. Sampai sekarang yang belum saya bisa adalah memakai eye liner untuk garis mata atas. Keculek melulu *hihihi. Terus saya cerita sama teman kuliah. Dia sampai kaget. Enggak percaya temannya yang dulu kumel ini bisa dandan.

 

“Nenek, pakai blush on bener enggak? Entar kayak Jeng Kelin lho.”

 

Wah merendahkan! Saya sendiri merasa, berdandan membuat wajah lebih fresh dan bersih. Kilang minyak di wajah mulai berkurang.

Kalau di rumah dandan enggak? Selalu diusahakan. Tapi tidak komplit pakai alas bedak segala. Cuma bedak dan parfum. Nah untuk parfum, saya tidak diizinkan suami pakai di luar rumah. So, jika di rumah, puas-puasin semprot parfum. Biar suami senang sampai di rumah. Yang dilihat bukan mirip-mirip pembantu. Tapi wanita cantik yang harum mewangi sepanjang hari. Aih… Aih… Aih….

Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidaklah seorang mukmin lebih mengambil manfaat setelah ketaqwaan kepada Allah yang baik baginya, daripada istri shalihah. Jika diperintah ia taat, jika suaminya melihatnya akan menyenangkannya.” (Ibnu Majah).

Walaupun saat ini saya sudah terbiasa berdandan, bukan berarti saya sembarangan memilih kosmetik. Sebagai seorang muslimah, saya harus aware dengan sesuatu yang masuk ke tubuh. Halal menjadi syarat mutlak bagi saya untuk tampil cantik.

 

Pada Dasarnya, Segala Sesuatu Hukumnya Mubah *)

Pada asalnya, segala sesuatu yang diciptakan Allah itu halal. Tidak ada yang haram kecuali jika ada nash (dalil) yang shahih (tidak cacat periwayatannya) dan sharih (jelas maknanya) dari pemilik syariat (Allah swt.) yang mengharamkannya. Jika tidak ada nash shahih – seperti beberapa hadits dha’if – atau tidak ada nash sharih yang menunjukkan keharamannya, maka sesuatu itu dikembalikan kepada hukum asalnya: halal. Penghalalan dan pengharaman hanyalah wewenang Allah.

“Dia-lah yang telah menciptakan untuk kalian segala sesuatu di bumi.” (QS. Al Baqarah: 29)

“(Allah) telah menundukkan untuk kalian apa-apa yang ada di langit dan di bumi, (sebagai rahmat) dari-Nya.”

(QS. Al Jatsiyah: 13)

“Tidakkah kalian melihat bahwa Allah telah menundukkan untuk kalian apa-apa yang di langit dan di bumi dan menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya, lahir maupun batin.” (QS. Luqman: 20)

 

Apakah hukum halal dan haram pada makanan dan kosmetik sama? Jawabannya, ya. Kosmetik memang tidak langsung masuk ke tubuh seperti makanan. Namun, sekitar 60% produk perawatan kulit yang kita pakai, meresap ke dalam aliran darah. Bisa dibayangkan bila kosmetik mengandung bahan yang haram. Ibadah kita sebagai seorang muslimah tidaklah sempurna. Lalu berdasarkan hukum halal dan haram tersebut, kosmetik yang halal itu bagaimana?

 

  1. Tidak Mengandung Zat atau Bahan Berbahaya

Saya hobi menonton program investigasi yang ditayangkan di sebuah televisi swasta. Tayangan yang membuat orang parno. Takut makanan yang dimakan mengandung boraks, formalin, zat pewarna tekstil, dan zat berbahaya lainnya. Begitu pula dengan kosmetik. Bedak dibuat dari batu bata. Pemutih yang dicampur dengan merkuri. Haduh… saya tidak bisa membayangkan bahan-bahan berbahaya itu masuk ke tubuh. Apalagi merkuri yang telah merenggut banyak korban dalam tragedi Minamata di Jepang tahun 1950. Kejadian ini diakibatkan pembuangan limbah industri yang mengandung methyl mercury ke laut. Penduduk yang mengkonsumsi ikan dan kerang dari Teluk Minamata, sistem saraf pusatnya teracuni methyl mercury. Gejala awal yang dialami berupa kaki dan tangan menjadi gemetar dan lemah, kelelahan, telinga berdengung, kemampuan penglihatan melemah, kehilangan pendengaran, bicara cadel, serta gerakan menjadi tidak terkendali. Bahkan penderita beratnya mengalami kegilaan, tidak sadarkan diri, dan sebulan kemudian meninggal.

Hiyyy… saya bergidik sendiri andaikan merkuri masuk ke tubuh kita melalui kosmetik yang kita pakai. Padahal Islam mengajarkan bahwa halal adalah sesuatu yang dianggap baik oleh jiwa yang sehat dan dinilai baik pula oleh umumnya manusia.

 

“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang dihalalkan bagi mereka. Katakanlah, ‘Dihalalkan bagi kalian segala yang baik-baik.’ Pada hari ini telah Kami halalkan bagi kalian segala sesuatu yang baik.”

(QS. Al Maidah: 4 – 5)

 

Maka ketika suami menawarkan kosmetik pemutih yang katanya dari dokter, saya langsung curiga. Mana mungkin resep dokter bisa dijual bebas.

 

“Benar kok dari dokter. Temen Kakak ada yang pakai, mukanya langsung bersih.”

 

Nah lho, langsung bersih. Kalau pakai bahan yang alami kan prosesnya lama. Ini dalam waktu singkat bikin muka kinclong. Sudah pasti bahan yang dipakai untuk membuat kosmetik tersebut mengandung zat berbahaya. Buktinya, begitu temannya suami berhenti pakai, wajahnya kembali ke warna asalnya.

Saya lebih memilih kosmetik yang aman walaupun hasilnya tidak langsung tampak nyata. Contohnya Wardah. Kosmetik ini sudah terbukti mengandung bahan yang aman bagi kulit. Bahkan bahan-bahan dasar pembuatan kosmetik Wardah disesuaikan dengan kulit sensitif wanita Asia. Wardah juga menyediakan produk lightening series untuk wanita yang ingin kulitnya lebih cerah namun tetap aman digunakan. Produk lightening series Wardah tidak mengandung merkuri dan hydroquinone. Memang hasilnya tidak langsung putih bak batu pualam. Wardah lightening series membantu meregenerasi kulit secara alami. Sel-sel kulit mati dan bercak hitam terangkat perlahan hingga wajah menjadi bersih dan cerah.

 

  1. Animal Free

Dewasa ini, banyak digembor-gemborkan kosmetik dengan label 100% alami. Apakah yang 100% alami itu berasal dari tumbuhan? Ternyata tidak. Bahan yang berasal dari hewan pun alami. Hanya saja pertanyaan, halalkah bahan dari hewan yang digunakan?

Semua bahan yang berasal dari tumbuhan (botanical ingredient) dapat dipastikan kehalalannya. Kecuali, tercampur dengan bahan turunan dan ektrak dari hewan yang jelas hukumnya haram, yaitu babi.

Bagaimana dengan penggunaan bahan dari hewan seperti sapi atau domba? Apalagi sekarang banyak kosmetik yang dibuat dari plasenta atau kolagen. Pada dasarnya, sapi atau domba adalah hewan yang halal dimakan. Namun, hukum penggunaannya sebagai kosmetik, masuk dalam kategori mashbooh atau perlu penelusuran lebih lanjut (questionable). Dikhawatirkan proses penyembelihannya tidak sesuai dengan syariah.

 

“Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami telah mengharamkan semua hewan yang berkuku; dan dari sapi dan domba Kami haramkan atas mereka lemak dari keduanya, kecuali yang melekat pada punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan karena kedurhakaan yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya Kami adalah Mahabenar.”

(QS. Al Maidah: 146)

 

  1. Alcohol Free

“Benar enggak sih Wardah itu halal?” tanya seorang teman. Wajahnya menyiratkan keraguan.

Halal dong,” jawab saya. “Lihat noh ada logo halal dari MUI.”

“Iya tahu. Tapi masih ada alkoholnya nih,” katanya sambil menunjuk bahan-bahan pembuat soft scrub strawberry.

Cetyl alcohol.

Stearyl alcohol.

Saya terdiam. Iya ya ada kata-kata alkoholnya. Tapi masa sih MUI sembarangan mengeluarkan sertifikat halal. Saya pun berburu informasi tentang alkohol dalam kosmetik.

 

“Apabila alkohol tersebut sedikit dan larut di dalamnya sehingga tidak meninggalkan bekas sama sekali apalagi memberikan efek atau pengaruh maka itu tidaklah mengapa. Adapun apabila alkohol tersebut terdapat di dalam obat sehingga memberikan pengaruh terhadap pemakai apakah karena dosisnya di dalam obat tersebut 50% atau kurang maka hukumnya tidak boleh”

(Syaikh Yahya Al-Hajuri)

 

Bagaimana dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang kehalalan alkohol dalam kosmetik? Berikut ini adalah ketentuan hukum Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 11 Tahun 2009 Tentang Hukum Alkohol point enam dan tujuh.

 

Penggunaan alkohol/etanol hasil industri non khamr (baik merupakan hasil sintesis kimiawi [dari petrokimia] ataupun hasil industri fermentasi non khamr) untuk proses produksi produk makanan, minuman, kosmetika, dan obat-obatan, hukumnya: mubah, apabila secara medis tidak membahayakan.

 

Penggunaan alkohol/etanol hasil industri non khamr (baik merupakan hasil sintesis kimiawi [dari petrokimia] ataupun hasil industri fermentasi non khamr) untuk proses produksi produk makanan, minuman, kosmetika dan obat-obatan, hukumnya: haram, apabila secara medis membahayakan.


Alhamdulillah sekarang kita menjadi tahu mengenai halal dan haram dalam Islam tentang kosmetik. Sayangnya banyak di antara kita yang tidak mengerti bahan-bahan yang tercantum dalam kemasan. Maklum, untuk mengenal semua bahan-bahan tersebut secara terperinci, kita harus belajar kimia hingga mendalam. Tapi jangan khawatir. Berikut ini tips-tips untuk memilih kosmetik yang halal dan sehat.

  1. Berlogo Halal dari Majelis Ulama Indonesia

Alhamdulillah Indonesia sudah memiliki lembaga sertifikasi produk halal, yaitu Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Lembaga ini didirikan berdasarkan keputusan MUI No. 018/MUI/1989 pada tanggal 26 Jumadil Awal 1409 Hijriah atau 6 Januari 1989. Di dunia internasional, LPPOM MUI diakui kiprahnya dalam sertifikasi produk makanan, obat-obatan, dan kosmetika. Bahkan LPPOM MUI mengadakan kerjasama sertifikasi halal dengan Dewan Halal Dunia (World Halal Council) yang dirintis sejak 6 Desember 1999. Nah, produk yang sudah mendapat sertifikat halal dari LPPOM MUI pasti mencantumkan logo halal pada kemasannya.

Sumber: www.halalmui.org

Namun saat ini, logo halal sudah banyak yang dipalsukan. Jangan khawatir. Bila ragu keaslian logo halal MUI, kita bisa cek ke website resmi LPPOM MUI. Tinggal ketik saja nama produknya. Jika sudah mendapat sertifikat halal, pasti langsung muncul nama produk, nomor sertifikat, produsen, dan tanggal berlakunya.

Sumber: www.halalmui.org

Kosmetik Wardah telah mendapat sertifikat halal dengan nomor 00150010680899. Nama produsennya PT. Pusaka Tradisi Ibu. Sertifikat halal tersebut berlaku hingga tanggal 5 November 2012. Wah sebentar lagi expired dong. Tapi saya yakin, Wardah pasti memperpanjang sertifikat halal untuk produk-produk mereka.

 

  1. Terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI)

Penggunaan bahan berbahaya dalam kosmetik memang meresahkan. Oleh karena itu, suatu produk harus mendapat sertifikat aman dari BPOM RI. Dengan adanya sertifikat aman tersebut, kita akan lebih tenang dan nyaman menggunakan suatu produk. Sertifikat aman dari BPOM RI biasanya berupa nomor yang dicantumkan pada kemasannya. Namun, supaya lebih yakin, kita bisa mengecek di Notifikasi Kosmetika Online System. Ketik saja nama produk di kolom pencarian. Maka akan muncul nomor notifikasi, nama produk, tanggal berlaku, alamat, dan telepon perusahaan. Misalnya Wardah Rose Soft Scrub terdaftar dengan nomor notifikasi NA18110700605. Diproduksi oleh PT. Pusaka Tradisi Ibu yang beralamat di Jl. Kampung Baru V No.44 Rt 004/02 Kel. Ulujami, Kec.Pesanggrahan Jakarta Selatan Indonesia. Berlaku hingga 9 Juni 2014.

Notifikasi Kosmetika Online System

 

  1. Mencantumkan Alamat dan Email Perusahaan

Saya pernah mendapat oleh-oleh cokelat dari Australia. Semua teman di kantor langsung menyantapnya dengan suka cita. Tapi saya ragu karena tidak ada logo halalnya. Walaupun pada kemasannya tercantum bahan nabati. Saya pun googling untuk mencari informasi kehalalan cokelat tersebut. Sayangnya, saya tidak menemukan informasi apapun. Lalu saya mencoba mengirimkan email ke alamat yang tercantum di kemasan untuk menanyakan status halalnya. Dan saya terkejut karena tidak sampai satu jam email saya dibalas. Mereka memberikan daftar produk yang sudah halal. Ternyata cokelat oleh-oleh itu tidak tercantum dalam daftar.

Ya, terkadang perusahaan tidak mencantumkan beberapa kandungan bahan produk mereka. Kalau ada logo halal MUI, tidak menjadi masalah. Namun bila tidak, kita harus menanyakannya langsung ke perusahaan pembuatnya. Perusahaan pun mesti kooperatif saat konsumen menanyakan bahan-bahan yang terkandung dalam produk mereka.

 

  1. Membeli di Counter Resmi

Kosmetik palsu yang mengandung bahan berbahaya beredar bebas di pasaran. Saya sendiri takut membeli kosmetik di sembarang toko. Rasanya lebih yakin jika membeli langsung di counter resminya. Apalagi sekarang counter resmi Wardah mudah ditemui. Saya juga bisa konsultasi kosmetik dengan beauty consultant di counter resmi Wardah.

 

  1. Mengenali Daftar Komposisi Bahan

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, komposisi bahan kosmetik ditulis dalam bahasa kimia yang tidak mudah dipahami. Tapi tetap sebagai konsumen cerdas, kita harus paham bahan yang halal, haram, dan mashbooh (perlu ditelusuri lebih lanjut).

Bahan yang telah jelas dinyatakan haram oleh LPPOM MUI adalah sodium heparin dan plasenta. Sodium heparin berasal dari babi. Sedangkan plasenta biasanya berasal dari manusia, kambing, atau sapi. Namun produsen sering menyembunyikan istilah. Misalnya plasenta diganti menjadi protein. Jadi kita wajib berhati-hati.

Bagaimana dengan bahan yang dikategorikan mashbooh? Berikut ini adalah daftar komposisi bahan yang dikategorikan mashbooh. Allantoin (alantoin), asam amino, cholesterol, kolagen, colours/dye, cystine (sistina), elastine, gelatine (gelatin), glycerine (gliserin), hyaluronic acid (asam hialuronat), hydrolysed animal protein, keratin, lanolin, lypids, oleic acid (asam oleat), stearic acid (asam stearat), stearyl alcohol, tallow (lemak hewan), dan vitamin A. Untuk memastikan apakah bahan mashbooh sudah ditelusuri lebih lanjut, kita bisa melihat dari logo halal MUI yang tercantum di kemasannya. Karena untuk mendapatkan sertifikat halal dari MUI harus melewati beberapa proses yang tergambar dalam bagan di bawah ini (klik gambar untuk memperjelas).

 

Sumber: www.halalmui.org

Semoga tulisan tentang kehalalan kosmetik di blog ini bermanfaat untuk para muslimah agar menjadi konsumer yang bijak dan cerdas. Sehingga para muslimah dapat tampil cantik, sehat, dan halal.

 

Sumber tulisan:

Halal Haram dalam Islam. 2001. Dr. Yusuf Qardhawi.Era Intermedia. Solo.*)

Bagaimana Memilih Kosmetik Halal. 2012. Ketupatkartini. www.fashionesedaily.com.

Sekilas tentang Tragedi Minamata. 2011. Tim Radar Lampung. www.radarlampung.com.

www.halalmui.org

www.wardahbeauty.com

www.notifkos.pom.go.id

www.halaljournal.com

8 thoughts on “Halalkan Pesona Cantikmu

  1. Ngakak baca tulisan ini. ngik ngik ngik…

    Seperti de jave pernah baca artikel tentang ini tapi dengan merk kosmetik yang beda.

    Pindah cluster nih yee… ciee…cieee…

  2. Pingback: Pengumuman Pemenang Kontes Blog #KosmetikHalal

Leave a Reply to ika shofa Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


3 + two =