Hati-hati Mengimingi Anak Dengan Uang

Sumber gambar: www.goodenoughmother.com

Sumber gambar: www.goodenoughmother.com

“Mama, minta duit!”

Seorang anak perempuan berusia delapan tahun memasuki teras rumahku. Sore itu mamanya, yang juga tetanggaku, sedang duduk dan mengobrol denganku. Melihat anaknya datang dan meminta uang, ibu tetangga sontak menolak.

“Apa sih, Na, minta uang terus. Kan tadi pagi sudah dikasih duit.”

Tapi sang anak seperti tidak mau tahu. Ia terus merengek. “Nayla mau jajan, Ma!” Mamanya bergeming. Mungkin berharap, jika dicuekin, Nayla akan berhenti merajuk. Ternyata tidak. Nayla justru menangis. Bahkan ia sampai ndeprok di lantai. Kakinya menghentak-hentak. Ia terus memaksa mamanya memberikan uang untuk jajan.

Aku yang sedang memangku Aleisha, mencoba menenangkannya. “Mau jajan apa, Na? Nggak usah jajan ya. Dede Al punya banyak kue. Nayla mau?”

“Nggak mau! Aku maunya jajan,” jawabnya sambil berteriak.

Akhirnya, sang mama mengalah. Ia memberikan uang dua ribu rupiah kepada anak keduanya itu. Nayla langsung tertawa dan mengambil uang dari tangan mamanya. Kemudian ngeloyor pergi.

Aku mengira Nayla suka jajan karena mungkin dibiasakan jajan oleh mamanya. Aku pun mencoba bertanya, “Memang nggak pernah disediakan jajan di rumah, Bu?”

Ibu tetangga menggeleng. “Ah, saya nggak sempat kalau bikin-bikin kue. Anaknya tiga sih jadi repot. Yang penting nyiapin nasi sama lauk aja udah cukup.”

“Beli kan bisa. Banyak juga jajanan yang sehat. Asal pintar memilih. Kalau di rumah ada makanan, anak nggak jajan di luar,” aku menawarkan solusi. Tapi sepertinya beliau tidak berkenan. Ya sudah.

Lain waktu, mama mertua yang sementara tinggal denganku bercerita tentang perilaku anak pertama ibu tetangga.

“Tadi Rio ngamuk. Ih ngeri deh Mama lihatnya. Semua baju di lemari dikeluarin. Terus diludahi semua. Mamanya dipukulin.”

Keningku berkerut. Memang sudah biasa anak-anak ibu tetangga itu bertengkar. Tapi belum pernah mendengar sampai mengamuk. Bahkan melukai sang mama.

“Ngamuk kenapa, Ma?” tanyaku.

“Biasalah minta duit buat jajan,” jawab mama mertua.

Aku menghela napas. Duit lagi. Aku kadang ngeri sendiri setiap melihat ketiga kakak beradik itu suka sekali jajan. Masalahnya, jajanan yang dibeli itu nggak sehat. Aku sering melihat jajanan apa yang mereka beli. Dan yang membuat aku kaget, mamanya pernah cerita, satu anak sehari bisa habis dua puluh ribu. Bayangkan, dua puluh ribu dikali tiga selama sebulan.

Cukup lama aku mengira perilaku jajan, sampai memaksa minta uang, karena di rumahnya tidak pernah disediakan kudapan. Setiap kali mereka bermain bersama Aleisha di rumah, aku selalu menawarkan kudapan yang aku buat. Kadang mereka mau, tapi lebih sering menolak. Makanan buatanku memang tak semanis atau segurih jajanan di luar yang entah bahannya dari apa saja. Aku selalu berusaha membuat makanan maupun kudapan sehat agar Aleisha tidak terbiasa jajan.

Namun, ternyata ada penyebab lain mengapa ketiga anak tetangga itu suka memaksa minta uang. Suatu sore aku mengajak Aleisha bermain di depan rumah. Tiba-tiba ibu tetangga keluar rumah dan menanyakan anak ketiganya. “Astri, lihat Ali nggak?”

“Kayaknya tadi main ke sana,” jawabku sambil menunjuk rumah di blok seberang. Ibu tetangga bersiap melangkah untuk mencari anaknya. Tapi kemudian, Ali muncul. Ia berlarian mengejar temannya.

“Ali! Pulang!” teriak ibu tetangga.

Ali cuek. Ia tetap mengejar temannya. Lama-kelamaan, ibu tetangga tidak sabar. Ia lalu mengambil sesuatu dari kantong dasternya.

Uang dua ribu!

“Ali! Ayo pulang! Ini Mama kasih duit.”

Sontak aku terkejut. Bahkan sempat melongo. Ternyata… Ya, ternyata memang sang mama suka ‘memancing’ anaknya dengan uang. Saking penasarannya, aku pun bertanya kepada ibu tetangga. Dari situlah aku semua mengapa anak-anaknya ‘doyan’ duit. Bila anak-anaknya tidak mau belajar, mamanya memberi iming-iming duit. Lalu ketika menyuruh anaknya mengerjakan sesuatu, atau meminta pulang saat kelamaan bermain, selalu ada imbalan duit.

Ah, memang aku tidak berhak menghakimi ibu tetangga itu salah. Karena aku bukan ibu yang sempurna. Aku juga belum tahu kerempongan memiliki tiga anak dengan jarak berdekatan. Ya, aku hanya bisa berdoa, semoga Allah selalu menuntunku untuk terus belajar, agar aku bisa mendidik anak-anakku dengan baik.

Regards,

Facebook : Astri Hapsari | Twitter : @AstriHapsari_ | Instagram : AstriHapsari_ | www.rumah-astri.com | www.AstriHapsari.com

12 thoughts on “Hati-hati Mengimingi Anak Dengan Uang

  1. setuju tuh makk.. anak2 yang terbiasa melakukan sesuatu karena materi besarnya nanti mereka juga akan seperti itu.. bisa2 mereka melakukan segala cara atas nama uang.. na’udzubillahiminzalik.. semoga anak ku di jauhkan dari sifat demikian .. aamiin

  2. Alhamdhulilah anakku ga kubiasakan jajan klo pun bawa uang ke sekolah paling seribu/dua ribu aja.. dirumah jg nyetok biskuit2 gitu jd klo pengen ngemil tinggal buka kotak harta karun :p

  3. Ponakanku dulu juga gitu mak, cuma karena lingkungan. Waktu dikontrakan lama tidak begitu karena teman-temannya tidak pernah pegang uang, jadi main bareng aja. Pas pindah kontrakan baru, onakan ku yang benar-benar nggak bida di rem gitu, karena dia mau “Kaya temanku” sambil ngamuk. Tapi sekarang sudah kelas 6 dan mulai dewasa, secara alami sudah tidak pernah begitu lagi, kadang malah nggak minta kalau ga dikasih
    tapi tiap anak beda-beda kali ya 😀

  4. aku pernah baca artikel, perilaku kaya gini kalau dibiasakan bisa kebablasan loh. sekarang minta dua ribu nggak dikasih ngamuk, ibunya dipukuli. 20 tahun lagi minta motor minta mobil, nggak dikasih, ibunya dibunuh. banyak berita semacam itu kan mak. ngeri. semoga kita selalu bisa menjauhkan anak-anak dari iming-iming duit ya. aamiin. 🙁

Leave a Reply to @AstriHapsari_ | Astri Hapsari Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 9 = twenty seven