Inilah Aku Tanpamu

Aku benar-benar terkejut mendapati kamar kosanmu kosong. Kata ibu kos, kamu buru-buru pergi tadi pagi. Ada apa sebenarnya, Fan? Kalau punya masalah kita bisa bicarakan baik-baik bukan?

Satu tahun. Ya, hari ini tepat satu tahun kebersamaan kita. Aku sengaja datang ke kosanmu karena aku tunggu dari semalam kamu tidak juga menelepon aku. Sungguh aku hanya khawatir. Makanya aku datang kesini.

“Mas Fandi cuma nitip ini Mbak Raya.” Ibu kosmu memberikan sebuah amplop putih.

Aku baru berani membukanya ketika sudah sampai di rumah.

 

Raya, belajarlah hidup tanpaku. Begitu pun aku akan belajar hidup tanpamu. Jangan cari aku ya. Kamu pasti baik-baik saja.

 

Aku tak mengerti isi suratmu, Fan. Apa maksudnya? Aku berusaha mencari kabarmu pada semua teman dekatmu. Tapi mereka sama tak tahunya denganku. Hingga tahun kedua kamu tiba-tiba hilang, aku belum tahu kabarmu.

 

“Ra, anterin Mama check up ke rumah sakit yuk.”

“Bukannya besok jadwal Mama check up?”

“Iya. Tapi tadi dokternya telepon. Besok dia mau ke Jepang. Jadi Mama disuruh datang hari ini.”

“OK deh.”

 

Aku tidak ikut mengantar Mama ke dalam ruangan pemeriksaan. Lebih baik menunggu di luar. Aku memang tidak terlalu suka dengan aroma rumah sakit yang membuatku pusing dan mual. Namun tiba-tiba aku melihat seseorang yang sedang di dorong masuk ke kamar perawatan.

 

“Fandi?”

 

Nekat aku masuk dan mendapati Fandi tergolek tak berdaya.

 

“Raya? Ka… Kamu ngapain di sini?” tanyamu tak percaya saat melihatku.

“Lagi nganterin Mama check up. Kamu sendiri?”

Pertanyaan bodoh. Sudah jelas-jelas Fandi sakit. Harusnya aku tanya sakit apa.

“Inilah aku tanpamu, Ra. Tergolek tak berdaya di rumah sakit. Dulu aku bertahan karena ada kamu. Tapi aku sadar. Aku tidak bisa terus menerus bergantung padamu menghadapi ganasnya virus HIV dalam tubuhku.”

Tubuhku mendadak beku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


2 × four =