Jadilah Milikku, Mau?

 

Jadilah milikku, mau?

 

Kalimat romantis yang aku temukan ketika membaca suratmu. Tahukah kamu? Musim semi di negaramu telah pindah ke hatiku. Aku seperti melihat tulip-tulip bermekaran. Indah sekali.

 

Jadilah milikku, mau?

 

Aku ingat saat pertama kamu datang ke kampungku. Aku hanya mampu berdiri tegak bagai patung. Bibirku terkunci rapat. Aku seperti melihat kesempurnaan yang belum pernah aku lihat. Biru bola matamu. Putih kulitmu. Cokelat rambutmu. Dan senyummu yang merekah.

 

“Maaf, apakah ini rumahnya Pak Kepala Desa?”

 

Aku tersentak. Kamu bisa bahasa Indonesia? Tapi entah, aku tak mampu menjawabnya. Aku benar-benar terpesona. Sampai akhirnya bapak datang memecah kekakuanku.

 

“Nduk, ada tamu kok ndak disuruh masuk? Ayo nak, silakan masuk.”

 

“Terima kasih.” Kamu tersenyum. Oh tidak. Bukan padaku. Namun aku suka melihatmu tersenyum.

 

“Nduk, kamu mau berdiri di pintu saja? Ayo buatin the anget buat tamu kita. Eh udah pada kenalan belum?” Bapak menegurku.

 

Kamu mengulurkan tanganmu. Ragu aku menyambutnya.

“Daniel.”

 

“Emmm… Rrr… Rani.” Apa aku bilang. Ya Tuhan, aku malu sekali dia tahu getaran suaraku.

 

Jadilah milikku, mau?

 

“Oh jadi kamu sedang koas dokter. Kenapa ke Indonesia? Bukannya di Belanda aja bisa.” tanyaku saat menemaninya berkeliling desa.

 

“Aku suka Indonesia. Negeri penuh budaya. Aku banyak membaca tentang budaya Jawa di perpustakaan kampus. Di Belanda, temanku banyak orang Indonesia. Dan aku belajar bahasa Indonesia kepada mereka.”

 

Aku tidak tahu bagaimana awalnya. Tapi kita menjadi begitu dekat. Bahkan aku jatuh cinta padamu.

 

“Rani, aku ingin sekali bisa tinggal disini. Aku juga senang kalau kamu mau mendampingiku.” katamu.

 

Tahukah Daniel, aku sangat bahagia mendengar kata-katamu. Kamu bilang akan melamarku pada bapak. Sebelum itu terwujud, mendadak kamu harus pulang ke Belanda. Ibumu sakit keras.

 

“Tunggu aku, Ran. Aku pasti datang menjemputmu.”

 

Aku mengangguk. Percaya pada janjimu. Dan kamu menepati janjimu melalui sepucuk surat yang aku terima hari ini.

 

Rani, aku sangat mencintaimu. Jadilah milikku, mau? Aku akan datang menjemputmu dengan satu syarat. Balaslah surat ini. Ketika aku sudah menerima balasannya, aku akan datang ke Indonesia. Kita menikah.

 

Aku menyusutkan air mataku. Namun aku tak tahu apakah aku harus bahagia atau bersedih. Aku melipat surat darimu, Daniel. Surat yang tertanggal 30 tahun yang lalu.

6 thoughts on “Jadilah Milikku, Mau?

    • ayo berimajinasi 😀
      ide ceritanya dari surat2 yg gak pernah sampai ke tangan penerimanya
      ngirimnya kapan
      nerimanya kapan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 2 = four