Janji Kepada Allah untuk Menyusui Dua Tahun

Sumber gambar di sini

“Iya nih, Mbak, aku udah nggak pumping lagi.”

“Lho bukannya masih tujuh bulan? Terus dikasih sufor?”

“Nggak kok masih ASI. Tapi malam aja. Kalau pagi sampai sore dikasih makan terus. Jadi sehari makannya bisa sampai lima kali.”

 

“Anak gw udah makan dari lima bulan. Habis kayaknya beratnya kurang.”

“Yakin aja, Mbak, ASInya cukup.”

“Ah DSA gw kok yang nyaranin. Terus sekarang gw juga malas pumping. Paling sore aja. Anak gw kan udah sebelas bulan. Banyakin aja makannya. Jadi kalau lapar, kasih biskuit.”

 

Saya terdiam. Sebenarnya ingin sekali mengatakan, MPASI itu Makanan Pendamping ASI, bukan Makanan Pengganti ASI. Apalagi bayinya belum satu tahun. ASI tetap menjadi asupan utama. Tapi… ya sudahlah. Setiap ibu punya pilihan masing-masing. Saya tidak ingin menghakimi. Hanya saja, percakapan tersebut menjadi penyemangat untuk saya memperjuangkan ASI hingga dua tahun.

Menyusui memang fitrah seorang wanita yang telah menjelma sebagai ibu. Namun saya tahu, menyusui itu sangat tidak mudah. Andai menyusui mudah, nggak akan ada Ayah ASI, AIMI, atau komunitas ASI lainnya yang memberikan support ke para ibu menyusui. Saya juga mengalaminya berbagai tantangan berat menyusui. ASI tidak langsung keluar, tidak punya puting, tekanan keluarga, dan puting yang ‘merekah’. Tapi saya keras kepala. Saya bisa menyusui!

 

Saat kembali bekerja, tantangan masih terus berlanjut. Sebagai ‘penjaga warung’, posisi saya sebenarnya sulit sekali untuk bisa memerah. Ketika di kantor cabang, memang lebih mudah karena ada dua ‘penjaga warung’. Jadi saya bisa meninggalkan ‘warung’ dengan tenang bila tiba waktunya pumping. Tapi kemudian saya ‘dibuang’ ke kantor kas yang sangat ramai. Dan di kantor kas hanya boleh punya satu ‘penjaga warung’. Awalnya saya stress. Kapan saya memerah bila nasabahnya nyaris tidak pernah berhenti.

 

Lalu sejak di kantor kas, jumlah ASI perahan saya berkurang. Dari 125, 100, 80, 60, dan sekarang paling banyak hanya 50 ml sekali perah. Andai saya ingin menyerah, bisa saja saya berhenti pumping. Namun ada satu kekuatan yang membuat saya bertahan.

 

Saya sudah JANJI kepada ALLAH akan menyusi titipanNya hingga dua tahun.

Saya sudah JANJI kepada ALLAH untuk hanya memberikan nutrisi terbaik untuk amanahNya.

 

Janji itulah yang membuat lisan dan hati saya berdoa agar Allah mencukupkan ASI untuk Aleisha. Doa supaya saya bisa tetap memerah di tengah antrian nasabah. Janji itu juga yang memberikan saya kekuatan untuk bertahan memerah ASI tiga kali selama jam kerja.

 

Delapan bulan lagi. Ya, delapan bulan lagi JANJI saya akan tertunaikan dengan tuntas. Saya hanya perlu bertahan dan terus berjuang. Delapan bulan bukan waktu yang lama. Dan saya tahu, saya akan selalu merindukan masa-masa Aleisha menyusu. Doakan Bunda selalu ya, Nduk. Bunda akan berjuang mengantarkanmu menjadi profesor ASI.

Regards,

 

One thought on “Janji Kepada Allah untuk Menyusui Dua Tahun

  1. Pingback: 7 Cara Mengasuh Anak Dengan Penuh Kasih | @AstriHapsari_ | Astri Hapsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 8 = forty eight