Karena Noda Tak Selalu Kotor

  

Judul Buku : Cerita di Balik Noda 42 Kisah Inspirasi Jiwa
ISBN/EAN:  9789799105257 / 9789799105257
Pengarang:  Fira Basuki
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Terbit:  14 Februari 2013
Pages:  248
Kategori:  Fiksi

 

Noda? Kotor!

Ya, entah kenapa setiap kali tersebut kata noda, selalu diidentikkan dengan kotor. Maka, setiap kali noda hadir, segala upaya dilakukan untuk membersihkannya. Atau mungkin berusaha menjauhi noda. Beberapa ibu bahkan melarang anaknya bermain dengan benda yang dapat memercikkan noda.

“Jangan main tanah. Nanti kotor!”

“Awas cat! Kena baju nanti susah dicuci.”

Padahal bila kita tilik, sejak lahir, anak-anak sudah akrab dengan noda. Noda darah yang mengiringi kelahirannya. Noda ASI saat ia gumoh atau muntah. Noda makanan ketika anak sudah makan. Noda tanah begitu si kecil senang bermain di luar rumah.

Betapa sering saya menyaksikan anak yang sedang bermain kotor-kotoran bersama kawan mereka. Ada tawa kebahagiaan di rona wajahnya. Ah, saya tak bisa membayangkan wajah Aleisha berubah muram ketika saya melarangnya bermain-main dengan noda. Apalagi bila noda itu tercipta saat anak kita menolong temannya.

Adalah Radya. Anak kecil itu membantu Adi, temannya, memunguti beras yang berserakan di jalan. Ternyata saat pulang membeli beras, Adi tersandung. Kemudian jatuhlah beras di tangannya. Radya yang merasa kasihan, berusaha memberikan uang. Namun Adi menolak. Ia pantang menerima uang dari orang lain. Radya pun memikirkan cara untuk menolong Adi.

Akhirnya Radya menawarkan bantuan kepada Adi agar bisa mendapatkan uang. Semula Adi ragu karena Radya anak rumahan. Tapi melihat keseriusan Radya, Adi setuju. Mereka mencari rebung di hutan. Akibatnya, tangan Radya berlumuran noda hitam dan ia dimarahi tantenya. Setelah Radya menjelaskan alasannya, tante Radya berubah menjadi antusias. Bahkan mengizinkan Radya menjual koran bekas dan barang-barang di gudang untuk membantu Adi. Radya senang bisa menolong temannya. Dan ia sangat terharu saat berkunjung ke rumah Adi yang tak layak disebut rumah.

See? Sungguh ketulusan sejatinya milik anak-anak. Benarlah apa yang dikatakan Fira Basuki.

… betapa anak-anak adalah sumber kebijaksanaan hidup yang tak pernah kering jika kita mau melihat dengan cinta. Kenakalan mereka adalah kilau emas, dan kepolosan mereka adalah mentari pagi yang menghangatkan jiwa.

Ya, kepada anak-anaklah seharusnya kita belajar. Tak hanya Radya yang mengajarkan ketulusan, namun masih ada empat puluh satu cerita inspiratif lainnya di buku Cerita di Balik Noda karya Fira Basuki. Penulis buku-buku best seller ini menulis ulang tiga puluh delapan cerita para ibu Indonesia bertema ‘Cerita di Balik Noda’ yang diadakan oleh Rinso Indonesia melalui Facebook. Sedangkan empat cerita lainnya, ditulis sendiri oleh Fira.

Semua kisah di buku Cerita di Balik Noda ditulis dengan bahasa yang begitu ringan dan sederhana. Membuat mata saya tidak ingin beralih sedikit pun dari setiap kata. Fira juga berhasil  mengaduk-aduk perasaan saya. Usai membaca satu kisah, rasa haru selalu saja menyeruak. Bahkan beberapa kali saya menyusutkan air mata dan merasa, “Gue banget.” Semua karena Buku Cerita di Balik Noda dan Berani Kotor Itu Baik, dibangun dari kejadian yang begitu dekat dengan keseharian kita. Anak-anak. Well, sekarang patutkah kita menyebut noda itu kotor?

… hidup itu semakin kaya ketika kita bersentuhan dengan “noda”. Hidup itu seperti baju kotor. Ketika noda dihilangkan dengan mencucinya bersih-bersih, kita ibarat telah memasuki hidup baru, masa depan baru, dan harapan baru. Selalu ada hikmah di dalam sepercik “noda” (Fira Basuki)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 × = seven