Kehilangan Jati Diri

“Kalau emang pingin hamil, siapin mental dulu. Hamil itu nggak mudah lho. Apalagi anak udah lahir. Waktu akan banyak tercuri anak. Nggak bebas ngapa-ngapain lagi.”

 

Kata-kata itu sering terlontar ketika ada teman yang curhat ingin punya anak. Yup, menjadi ibu rasanya seperti kehilangan jati diri. Cieee… kayak alay aja kehilangan jati diri. Saya jadi teringat ucapan seorang kenalan dari Inggris saat saya bilang akan melahirkan bulan depan.

“Your life will become different. A lot.”

Waktu itu, saya hanya senyum-senyum. Tapi begitu Aleisha diletakkan di dada saya untuk pertama kalinya, saya baru menyadari hidup saya akan berubah.

 

Dulu… Nggak pernah ada film bagus yang terlewat. Saya dan suami memang suka nonton. Sewaktu masih tinggal di Matraman, kami sering nonton hingga malam.

Sekarang… Semua film bagus terlewat *hiks. Saya cukup puas bisa menonton drama Korea malam di antv. Ya ampun kasian banget ya. Sebenarnya suami nggak melarang saya nonton di hari libur. Tapi waktu dua jam pas weekend itu harganya bagai sekilo berlian. Nggak tega meninggalkan Aleisha di hari libur.

 

Dulu… Saya dan suami bisa menghabiskan empat sampai lima jam belanja bulanan di Carefour. Suami senang melihat peralatan rumah tangga. Kalau nggak bisa beli bulan ini, kami masukkan ke daftar wishlist bulan depan.

Sekarang… Saya lebih memilih belanja di Giant dekat rumah. Kecil sih. Tapi saya bisa membawa Aleisha dengan aman dan nyaman. Maklum nggak ada eskalatornya. Pernah suatu hari saya mengajak suami membeli kado ke Carefour sepulang kerja. Rencana cuma sebentar. Ternyata suami mengajak belanja sekalian. Begitu waktu lewat satu jam, saya langsung minta pulang.

“Entar dulu sih,” kata suami memohon. “Kita kan udah lama nggak jalan berdua. Masa anak melulu yang diurusin.”

Oh ceritanya minta diperhatiin nih. Hihihi… OK baiklah. Tapi tetep. Dikit-dikit saya lihat jam.

 

Dulu… Setiap pagi saya selalu menyiapkan pakaian kerja suami.

Sekarang… Pagi-pagi rempong pumping dan menyiapkan ASIP buat Aleisha. Malah suami yang menyiapkan bekal saya ke kantor. Kadang merasa bersalah sama suami. Semoga suatu hari bisa memperbaiki semuanya.

 

Dulu… Hampir setiap malam bisa buka laptop dan online.

Sekarang… Hampir setiap malam kelonan sama Aleisha.

 

Dulu… Nggak kenal makna sabar. Ya, saya orangnya mudah emosi. Kesalahan sedikit bisa membuat saya marah-marah.

Sekarang… Saya nggak percaya bisa melahirkan dengan tenang. Saya nggak percaya bisa sabar meladeni Aleisha.

 

Dulu… Saya marah bila dibangunkan saat tidur.

Sekarang… Dengan sukarela bangun saat Aleisha ingin menyusu.

Saya memang kehilangan jati diri. Tapi saya bahagia melihat beberapa milestone saya tercapai. Aleisha lulus ASIX. Tumbuh sehat dan pintar. Jarang rewel. Kebahagiaan itu hampir tak bisa diungkapan dengan kata-kata seindah apapun. Biarlah saya kehilangan jati diri. Kebersamaan dengan anak tidak dapat diulang. Sedangkan film yang terlewat di bioskop bisa ditonton dengan DVD. Ketika nanti Aleisha dewasa dan ingin mandiri, saya pasti akan sangat kehilangan. Jadi sekarang, saya ingin menikmati setiap detik waktu saya bersama Aleisha.

2 thoughts on “Kehilangan Jati Diri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


2 × nine =