Ketika Aleisha Harus Opname

 10904658_10205438445500014_827612176_n

“Udah, di opname aja!”

Sebagai seorang ibu, tentunya sedih ketika buah hati kita sakit. Apalagi saat kita memutuskan untuk opname. Begitu pula dengan saya. Rasanya berat sekali sewaktu memilih opname untuk Aleisha. Kalau bisa, jangan masuk rumah sakit. Kalau bisa, di rumah saja. Ah, tapi jika dirawat di rumah sakit adalah yang terbaik untuk Aleisha, saya harus ikhlas.

Awalnya, kami ke Lampung dalam rangka menengok keluarga suami, sekaligus memperpanjang SIM yang hampir kadaluarsa. Rencana hanya tiga hari saja di Lampung. Rupaya Allah berkehendak lain. Belum sehari di Lampung, Aleisha demam. Saya mengira mungkin mau batuk atau pilek. Ya, seperti biasanya. Namun di hari kedua, setelah batuk dan pileknya muncul, demamnya tidak turun juga. Bahkan hingga hari keempat. Tidak seperti biasanya. Feeling saya sebagai seorang ibu, sakit kali ini beda. Maka tanpa pikir panjang, kami pun membawa Aleisha ke dokter.

Kami berobat ke RSIA Bunda AsySyifa yang kebetulan lokasinya tidak jauh dari rumah. Sebenarnya saya sudah membuat janji untuk bertemu dokter anak. Namun karena ada miss communication, dokter anaknya sudah pulang. Dengan pertimbangan bakal panjang lagi urusan jika mencari DSA ke RS lain, saya dan suami bersedia ditangan dokter umum. Setelah melalui pemeriksaan darah, Aleisha positif tifus. Plus bagian dalam tubuhnya penuh dahak. Dokter juga memberikan surat rujukan untuk rontgen di rumah sakit lain. Menurut dokter, Aleisha tidak perlu dirawat. Cukup minum obat dan makan.

 

Pagi sebelum sakit, sempat makan duren :D

Pagi sebelum sakit, sempat makan duren 😀

Sayangnya, Aleisha tidak mau makan sama sekali. Dari hari pertama sakit, selalu menolak makanan apapun. Kali ini, alarm feeling keibuan saya kembali berbunyi. Aleisha harus di opname! Walau pun eyangnya berusaha membujuk Aleisha makan, saya tetap memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit keesokan harinya. Tapi kami tidak kembali ke RSIA Bunda AsySyifa. Bukan… bukan karena kurang bagus. Tapi karena terlalu mahal. Saya sempat melihat fasilitas ruang inapnya, wow seperti di hotel. Kalau masih kerja di Muamalat sih, it doesn’t matter ya, bisa dirembes. Aleisha juga belum saya buatkan asuransi maupun BPJS. RS Immanuel menjadi pilihan kami. Selain terkenal bagus, biayanya masih terjangkau untuk kami. Dan setelah diperiksa dr Arya Agustino Purba, SPA, Aleisha memang harus di opname. Bila penyakit tifus diberi skala satu hingga sepuluh, tifus Aleisha di skala empat. Seperti dokter sebelumnya, dr Arya juga mengatakan tubuh Aleisha penuh lender dan harus diuap. Ditambah dia tidak mau makan dan minum obat.  Benarlah apa yang diungkapkan Dr Sears di buku The Baby Book, bahwa ibu adalah dokter pertama untuk anak. Seorang ibu yang memiliki kedekatan dengan anak akan merasakan, apakah sakit anak cukup dirawat dengan terapi sendiri di rumah, atau kapan dibawa ke dokter, atau bahkan harus di opname. Saya merasa biasa saja ketika mengatakan opname. Namun ketika ayah menelepon, entah kenapa saya langsung mewek. Ah, I’m still my daddy little girl 😀

 

Jujur, saya sangat puas dengan pelayanan di RS Immanuel. Walau dokter dan perawatnya berbeda keyakinan dengan kami, mereka melayani dan merawat Aleisha dengan apik. Tidak grusa-grusu atau bersikap kasar. Apalagi saat pemasangan infus dan orang tua tidak boleh menemani, Aleisha tidak terlihat trauma. Dia menangis hanya karena merasa tidak nyaman. Wajar ya, saya saja yang sudah hampir kepala tiga, ketika sakit lebih nyaman ditemani orang tua. Dan di RS Immanuel jadwal kunjungannya sangat ketat. Di luar jam besuk benar-benar tidak boleh masuk. Anak di bawah dua belas tahun juga tidak boleh besuk. Kebetulan kami mengajak anak tetangga yang berusia sembilan tahun ke Lampung. Tapi dia tidak bisa ikut masuk ke kamar perawatan. Jadi Aleisha benar-benar bisa istirahat. Begitu pula dengan yanda – bundanya. Memang ya menjaga orang sakit itu menguras tenaga. Maka begitu Aleisha tidur, saya buru-buru istirahat supaya tetap fit. Kebayang kan kalau terlalu banyak orang yang berkunjung tanpa dibatasi jam besuk?

10877656_10205438445740020_1081176953_n

Alhamdulillah, di hari ketiga Aleisha boleh pulang. Sebenarnya siang sudah diizinkan pulang, tapi karena masih demam, ditunggu observasi sampai sore. Padahal demamnya karena AC. Iya, jadi pagi itu Aleisha mandi pakai air hangat. Nah, air hangat kan membuat pori-pori tubuh terbuka. Kami tidak sadar AC dalam kamar dua puluh derajat celcius. Kontan Aleisha langsung kedinginan dan badannya demam lagi. Lega ketika akhirnya kami benar-benar meninggalkan rumah sakit.

 

Sehari setelah keluar dari RS udah bis main bola

Sehari setelah keluar dari RS udah bisa main bola

Satu hikmah yang saya ambil dari kejadian ini, sakit adalah kekuasaan Allah. Jika Allah menakdirkan sakit, meski kita sudah berupaya hidup sehat, maka kita akan sakit. Sama seperti Aleisha. Banyak yang menanyakan kenapa masih kecil sudah kena tifus? Apakah makanannya? Saya hanya tersenyum dan menjawa, “Takdir.” Ya, memang karena takdir Allah. Aleisha tidak pernah makan sembarangan. Saya yang memasaknya dan memastikan kebersihannya. Kalau pun terpaksanya jajan atau makan di luar, saya selalu memastikan tempatnya higienis. Jadi, apalagi namanya jika bukan takdir. Right? Semoga sakitnya Aleisha bisa membuat kami orang tuanya menjadi lebih sabar dan bersyukur. Amiin….

Sekarang tinggal PR mengembalikan berat badan yang turun dua kilogram karena sakit seminggu. Kalau menuruti ego pinginnya nggak ikhlas ya. Secara menaikkan lima ratus gram sebulan saja harus bercucuran air mata, menguras keringat, dan tarik ulur urat emosi *hahaha lebay. Tapi memang kenyataannya sih. Hayuk siapkan menu double karbo, double protein, dan double kalori.

 

 

8 thoughts on “Ketika Aleisha Harus Opname

  1. Bunda,semoga sekarang Aleisha sudah sehat ya…
    Membaca tulisan bunda yang punya PR untuk menaikkan berat badan Aleisha, bunda bisa coba produk S.LUTENA. Apa dan bagaimana nya, bisa ditanyakan ke saya.
    Bisa hubungi saya di 085284703132.
    Kesehatan, memang salah satu karunia terbesar dari Allah yang terkadang kita (termasuk saya)sering khilaf menjaganya.
    Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya.
    Peluk dan cium untuk Aleisha,bunda.
    Terima kasih.

  2. Halo bunda Aleisha.. Terima kasih kepercayaan yg diberikan kepada saya dan tim medis-paramedis RS Imanuel utk pengobatan dan perawatan Aleisha. Sehat selalu ya. Salam

Leave a Reply to Dewi Rieka Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


two + = 8