Ketika Cooler Bag Tertinggal

Sumber gambar di sini

Penyakit lupa memang selalu memakan korban. Yup, akibat lupa akut yang saya derita, kanjeng romo sering kena imbasnya. Kejadian terparah akibat lupa bisa dibaca lho di buku antologi saya yang akan terbit bulan depan, Toilet I’m in Love *eh promosi. Aslinya saya tuh mau cerita penyakit lupa saya yang kambuh pagi ini. Dan parahnya, yang tertinggal adalah… jreng… jreng… alat tempur alias cooler bag dan of course isinya.

“Botol susu!” Tiba-tiba kanjeng romo meminggirkan motor. Mata saya langsung mengarah ke bagian depan. Tas pink bermotif sapi yang setiap hari bertengger di situ tidak ada.

“Mau balik nggak?” tawar kanjeng romo.

Saya melirik jam. Waduh sudah separuh perjalanan. Kalau balik lagi mau sampai kantor jam berapa. Nggak lucu kan izin telat karena cooler bag ketinggalan. Aduh takut digigit bu bos.

“Nggak lah. Lanjut aja.” Saya memutuskan meneruskan perjalanan. Tapi saya terus berpikir nanti simpan ASIPnya gimana ya. Sempat terpikir cari baby shop terdekat dan beli cooler bag baru. Hmmm… kayaknya sayang duit *emak medit. Akhirnya terpikir minta teman kantor membawakan tas yang bisa untuk menyimpan makanan panas dan dingin. Pendinginnya pakai es batu yang beli di warung sebelah. Wadah ASIP untuk sementara pakai plastik seperempatan. Ketika sampai kantor, kanjeng romo SMS.

Ali bisa jemput cooler bag gak di stasiun? Kalau gak di halte busway Manggarai. Kalo gak bisa ya kakak anterin ke kantor. Ini udah di kereta.

What? Jadi kanjeng romo balik lagi ke rumah. Ya ampun terharu banget. Huhuhu… *ngelap ingus. Lebih speechless lagi ketika kanjeng romo muncul dan menyerahkan cooler bag di kantor.

Makasih ya, Hunz. Makasih sudah menjadi Ayah ASI terbaik untuk Aleisha. Big hug… ^_*

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ 1 = three