Komitmen Cinta

“Semua cinta butuh komitmen ya, Mbak?”

Pertanyaan itu terlontar saat pertama kalinya kau serius bertanya tentang cinta. Jujur, aku sangat terkejut mendengarnya. Wajahmu bersemu merah saat aku tergelitik ingin tahu, lelaki mana yang berhasil mencuri hatimu.

“Dia baik, Mbak,” jawabmu singkat. Lalu matamu menerawang. Sebaris senyum tersungging di bibirmu.

Namun senyum di wajahmu tak bertahan lama. Tiga bulan kemudian, kau datang kepadaku.

“Mbak.” Suaramu sendu. Matamu sembab. Sisa air mata masih berbekas di pipimu yang halus.

“Kenapa?” Aku mencoba bertanya. Walau aku tahu lelaki itu yang menyebabkan senyum ceriamu pudar.

“Kayaknya dia enggak serius sama aku deh, Mbak. Setiap hari ngajak ketemunya di luar terus. Padahal aku pinginnya di rumah aja. Supaya kenal sama Papa Mama,” ucapmu sesenggukan. “Dia bilang belum siap ketemu orang tuaku. Berarti dia enggak serius kan, Mbak.”

Aku tersenyum. Teringat saat dulu aku menceritakan komitmen cinta kepadanya.

“Kalau seorang laki-laki serius, ia akan datang ke rumah. Dan dengan gentle bertemu orang tua kita.”

Matamu mengerjap. “Masa sih, Mbak? Memang dulu Mas Ari begitu ya?”

Dengan bangga aku mengangguk. “Waktu Mas Ari bilang serius, Mbak tantang aja dia ke rumah. Ngomong langsung ke Bapak Ibu kalau dia serius sama Mbak.”

“Terus Mas Ari berani?” tanyamu.

Aku sengaja diam menunggu reaksimu.

“Mbak, terusin ceritanya,” kejarmu tak sabar.

“Iya dong. Mas Ari datang ke rumah. Mbak sengaja sembunyi di kamar. Menguji nyali Mas Ari bertemu Bapak Ibu. Kamu tahu gak? Keringat Mas Ari mengucur segede-gede jagung.”

“Lho Mbak kan di kamar. Kok tahu keringat Mas Ari segede jagung. Mbak ngintip ya?” tuduhmu.

“Enak aja. Ibu yang cerita.” Aku menarik napas. “Saat pertemuan itu, Mas Ari langsung mengutarakan keinginannya menikah dengan Mbak.”

“Serius, Mbak?” Kau seperti tak percaya pada ceritaku.

“Itulah yang namanya komitmen. Ketika serius, ya menikah. Bukan pacaran. Pernikahan adalah komitmen cinta Mbak dan Mas Ari.”

Kau menunduk. Seperti sedang mencerna semua ceritaku tadi. Dalam hati aku berharap, kau juga akan berkomitmen sama sepertiku. Aku tahu kita hanya sahabat. Tapi aku menyayangimu seperti adikku sendiri.

***

Aku menahan air mataku melihat kondisimu. Lihatlah, tubuhmu penuh perban. Kau terlihat tak berdaya dengan selang-selang yang menancap di beberapa bagian tubuhmu. Tadi pagi mamamu meneleponku. Kau ditemukan terjatuh dari sebuah apartemen. Beruntung saat itu truk sampah sedang lewat. Andai tak ada truk sampah, mungkin nyawamu sudah melayang.

“Kenapa sampai seperti ini?” tanyaku saat kau sudah siuman.

Kau tak menjawab. Air matamu terus mengalir. Aku memegang tanganmu. Mencoba mengalirkan kekuatan.

“Apakah komitmen cinta harus dengan memberikan mahkota wanita, Mbak?”

Aku tersentak mendengar ucapanmu. Jadi kau masih berhubungan dengannya? Bukankah waktu itu kau bilang akan menyudahi hubungan kalian? Kau bilang ia tidak serius. Kenapa kau mempertahankannya? Dan sekarang kau menanyakan tentang mahkota wanita?

“Kamu memberikannya?” Tanpa basa-basi, aku langsung menanyakannya.

Kau membuang muka. Ya Tuhan, jangan sampai jawaban iya yang aku dengar.

“Dia enggak mau putus, Mbak.” Kau memulai ceritamu. “Dia bilang cinta sama aku. Jujur aku juga mencintainya. Akhirnya kami enggak jadi putus. Aku berharap dia berubah pikiran dan mau serius.”

Napasmu tiba-tiba tersengal. Aku menyodorkan air putih. Kau menengguknya sedikit.

“Aku minta dia menemui orang tuaku kalau memang serius. Ia masih enggak mau. Lama-lama aku enggak tahan. Aku benar-benar minta putus. Dia bilang mau putusin aku. Tapi dia minta ketemuan dulu di apartemennya.”

Mendadak kau berhenti bercerita. Air matamu mengalir lagi.

“Di apartemennya, dia memintaku menyerahkan mahkotaku. Aku enggak mau. Aku hanya mau menyerahkannya untuk suamiku. Dia terus memaksa. Ketika aku terdesak, aku melihat jendela kamarnya terbuka. Tanpa pikir panjang aku langsung melompat.”

Kali ini air matamu mengalir lebih deras. Sungguh, aku ingin memelukmu. Sayang, selang-selang yang membelit ini menghalangiku.

“Mbak, aku enggak akan lagi menjalin hubungan seperti ini. Aku pingin seperti Mbak dan Mas Ari.”

Aku tersenyum. “Mbak selalu berdoa untukmu. Semoga kamu bertemu lelaki yang baik. Lelaki yang menjadikan pernikahan sebagai komitmen cintanya.”

Setahun kemudian….

“Mbak, aku sudah menemukannya.” Wajahmu tampak riang saat duduk di pelaminan.

 

7 thoughts on “Komitmen Cinta

  1. Postinannya bagus banget. Coba cerita seperti ini diikut-sertakan dalam sebuah Audisi Menulis Cerpen, pasti lolos deh. Ayoo…Astri….s’mangat buat bikin cerpen ya. Bunda dukung nih.

Leave a Reply to yati rachmat Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


four × 2 =