Membersamai Anak Bermain, Melejitkan Potensi Kecerdasan Mereka

Anak itu homo ludens, makhluk yang senang dengan permainan dan bermain. Seorang ibu yang profesional harus bisa senantiasa bermain dengan anak dan menunjukkan kegembiraan.

Materi yang disampaikan Bu Septi Peni Wulandani saat saya mengikuti program Matrikulasi Ibu Profesional, benar-benar menohok hati. Bukan… bukan saya tidak pernah bermain dengan anak. Namun dua tahun ke belakang, saya jarang sekali menunjukkan kegembiraan bersama Aleisha. Semua berawal ketika saya hamil anak kedua. Saya mengalami masa trimester pertama yang cukup berat. Mabok parah membuat saya memuntahkan apapun yang masuk ke perut. Bahkan minum air putih saja, saya muntah. Alhasil saya merasa lemah dan lesu. Jika sebelum hamil, saya selalu menemani Aleisha main, ketika hamil saya memanggil teman Aleisha untuk bermain di rumah. Menyediakan banyak mainan dan membiarkan mereka main berdua atau bertiga. Sedang saya tiduran di kursi sambil mengawasi.

Aleisha dan teman-teman mainnya

Kemudian Aldebaran lahir, yang ternyata bau tangan akut dan sakaw nenen. Tidak bisa lepas dari gendongan ibunya. Jujur, saya cukup panik. Anak pertama sedang aktif-aktifnya, anak kedua maunya digendong terus, pekerjaan rumah menumpuk, tidak sempat memasak, suami sedang studi S2, dan tidak ada keluarga yang membantu. Perfect! Hingga Aldebaran berusia 1 tahun, Aleisha lebih banyak bermain dengan temannya. Ya, meski saya menemani, tapi berfungsi sebagai pengawas saja, tidak hadir utuh bermain bersamanya. Saya memang tidak melepaskan Aleisha bermain bebas keluar rumah. Soalnya saya mamak parnoan. Takut anak diculik 😀

Merasa tidak bisa memanage waktu dengan baik, saya mengikuti program perkuliahan di Institut Ibu Profesional. Di sinilah materi-materi yang disampaikan Bu Septi menyadarkan saya, bahwa saya harus menjadi ibu profesional. Dan salah satu ‘tugas’ ibu profesional adalah membersamai anak bermain dengan kegembiraan. Membersamai bukan sekedar duduk dan menemani anak bermain, tapi juga turut bermain bersama anak.

Children don’t need more things. The best toys a child can have is a parent who gets down on the floor and plays with them. (Bruce Perry)

Lalu saya kembali memanage waktu supaya raga, pikiran, dan hati saya fokus kepada anak-anak ketika bersama mereka. Menurut materi yang disampaikan Bu Septi, sejak lahir, anak-anak sudah memiliki empat hal, yaitu Intellectual Curiosity (rasa ingin tahun yang luar biasa), Creative Imagination (daya kreatif imaginasi yang tinggi), Art of Discovery (seni untuk menemukan), dan Nobel Attitude (akhlak mulia). Saya berharap, saya mampu membersamai anak-anak untuk melejitkan dengan dahsyat keempat hal tersebut.

Untuk itulah, saya ingin menyediakan lingkungan bermain kondusif untuk tumbuh kembang mereka. Jika lingkungan bermain anak banyak memberikan stimulasi, dorongan, kesempatan, serta kebebasan yang bertanggung jawab, maka anak dapat melejit dengan pesat (Rangkuti, 2016). Bermain bersama anak, tentu saja bukan sekedar bermain. Namun bermain dengan memberikan stimulus secara terarah, seperti stimulasi visual (penglihatan), verbal (bicara), auditif (pendengaran), dan taktil (sentuhan), agar dapat mengoptimalkan perkembangan anak (Rangkuti, 2016).

Secara natural, anak-anak adalah makhluk pembelajar. Tugas saya sebagai ibu dan fasilitator belajar anak-anak adalah membuat mereka bukan hanya sekedar bisa, namun suka belajar. Tentu saja, saya harus menyesuaikan kegiatan bermain dengan usia mereka. Ya, meski kadang saya keteteran karena Aleisha dan Aldebaran berbeda usia. Ketika saya menstimulasi kakaknya, si adek ikut nimbrung dan kakaknya merasa terganggu. Begitu pula sebaliknya. Lalu berantem dan sama-sama menangis 😀

Untuk mainan, apakah saya membeli atau membuat sendiri ala-ala DIY (Do It Your Self)? Sebenarnya, saya tidak terlalu mempermasalahkan apakah beli atau bikin sendiri. Buat saya yang terpenting, saya membersamai anak-anak bermain. Supaya saya bisa memberikan rangsangan kepada mereka. Misalnya Aleisha beli mobil-mobilan. Ketika dia memainkannya, saya akan menceritakan apa saja tentang mobil. Atau kadang dia yang bertanya. ‘Mobil kok rodanya bulat? Bisa nggak kalau rodanya kotak?’, ‘Kenapa naik mobil nggak kehujanan? Ada nggak mobil yang nggak ada atapnya?’ Nah, sambil menjelaskan, saya dudukkan Baran di samping saya atau sambil ngerusuh mbaknya. Jadi kan dia bisa ikut mendengarkan penjelasan saya tentang mobil.

Saat membeli mainan, saya mengacu pada Tips Membeli Mainan dari American Academic of Pediatrics (AAP) di website healthychildren[dot]org.

1) Memilih Mainan Sesuai Dengan Usia Anak dan Perhatikan Labelnya

Label mainan memberikan informasi mengenai cara bermain, peruntukan umur, dan keterangan bahan mainan. Saya selalu memastikan mainan tersebut sesuai untuk Aleisha (5 tahun) dan Aldebaran (1 tahun). Biasanya kan di dus mainannya ada peruntukkan usianya, 1+, 3+, atau 5+. Dan juga disertai keterangan, misalnya mainan tersebut terdiri dari komponen kecil yang berpotensi tertelan atau tersedak jika dimainkan oleh anak yang tidak sesuai usianya. Cuma ya kadang susah juga, karena Baran pasti want to know kalau mbaknya punya mainan baru. Meski di label tertulis 3+, tapi saya lihat Baran bisa ikut main, ya saya izinkan. Tentu saja dengan pengawasan ekstra ketat. Bila benar-benar belum bisa Baran mainkan, contohnya seperti pasir ajaib, ya saya minta pengertian Aleisha. Mainnya nunggu Baran tidur dulu. Atau nunggu yandanya pulang kerja supaya ada yang menemani main. Masalahnya, Aldebaran sekarang 16 bulan dan fase oralnya belum selesai.

2) Memilih Mainan yang Dapat Dimanipulasi

Maksudnya adalah mainan yang dapat merangsang kemampuan motorik dan kognitif, seperti menyortir bentuk, menyusun balok, atau puzzle. Untuk Aleisha, perkembangan motorik halusnya cukup pesat. Sejak usia 1,5 tahun sudah tertarik dengan mainan yang merangsang motorik halusnya. Usia 3 tahun, Aleisha mampu menyusun puzzle sebanyak 20 keping dengan ukuran kecil. Sedangkan Aldebaran di usia mendekati 1,5 tahun lebih suka dengan kegiatan motorik kasar seperti berlari atau memanjat. Kalau saya kasih mainan yang merangsang motorik halus, pasti dilempar-lempar sama dia.

3) Mempertimbangkan Daya Tahan

Salah satu pertimbangan saya membelikan mainan adalah apakah mainan tersebut tahan dalam jangka waktu panjang. Syukur-syukur bisa diwariskan ke adiknya. Soalnya Aleisha tangannya kreatif banget. Entah sudah berapa banyak mainan yang rusak di tangannya. Di satu sisi, saya senang dia belajar mengeksplorasi. Namun di sisi lain, saya sedih karena kantong bisa jebol kalau beli mainan terus *LOL. Makanya beberapa mainan saya buat sendiri atau DIY (Do It Yourself) supaya lebih murah. Dan pastinya nggak nyesek misal rusak sama anak-anak. Tentang membuat sendiri mainan, nanti akan saya bahas terpisah setelah ini.

4) Pastikan Mainan Sesuai Dengan Standar Nasional Indonesia (SNI)

Supaya anak-anak aman bermain, saya memilih mainan yang memiliki logo SNI atau jika mainan impor, memiliki standar keamanan dari negara yang bersangkutan. Saya kan khawatir, misal catnya mengelupas, terus tidak sengaja tertelan anak-anak. Ada lagi yang sampai teriris, tergores, lecet, dan memar karena kecelakaan mainan. Dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pernah melakukan penelitian terhadap 21 sampel mainan lokal dan impor, hasilnya mainan tersebut mengandung zat kimia berbahaya Timbal (Pb), Merkuri (Hg), Krom (Cr), dan Kadmium (Cd). Duh… bahaya kan?

Di beberapa negara maju, seperti Amerika dan Eropa, regulasi mainan memang sangat ketat. Indonesia sebenarnya telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian No. 55/M-IND/PER/11/2013/ yang merupakan perubahan dari Peraturan Menteri Perindustrian No. 24/M-Ind/PER/4/2013 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Mainan Secara Wajib. Sayangnya, belum banyak produsen, distributor, maupun penjual mainan yang aware pada keamanan mainan anak.

Badan Standardisasi Nasional (BSN) selaku lembaga pemerintah yang mengkoordinasikan kegiatan di bidang standarisasi secara nasional, telah menetapkan lima SNI berkenaan dengan keamanan dan keselamatan mainan anak. Aturan SNI tersebut yaitu : (1) SNI ISO 8124-1:2010, Keamanan Mainan – Bagian 1: Aspek keamanan yang berhubungan dengan sifat fisis dan mekanis, (2) SNI ISO 8124-2:2010, Keamanan Mainan – Bagian 2: Sifat mudah terbakar, (3) SNI ISO 8124-3:2010, Keamanan Mainan – Bagian 3: Migrasi unsur tertentu, (3) SNI ISO 8124-4:2010, Keamanan Mainan – Bagian 4: Ayunan, seluncuran dan mainan aktivitas sejenis untuk pemakaian di dalam dan di luar lingkungan tempat tinggal, dan (5) SNI IEC 62115:2011, Mainan elektrik – Keamanan.

Sumber: www[dot]bsn[dot]go[dot]id

5) Memilih Mainan yang Dapat Merangsang Multisensori

Sensori anak sangat perlu dirangsang. Menurut artikel di website AyahBunda[dot]co[dot]id,  semakin banyak input sensori yang diterima, semakin banyak pula output motorik yang ditimbulkan. Untuk mainan yang merangsang sensori, saya lebih suka membuat sendiri. Karena sebenarnya untuk merangsang sensori ini cukup mudah. Misalnya dengan memberikan beras, kacang hijau/merah, kayu manis, kapal, dan agar-agar atau jelly. Untuk Aleisha, tidak terlalu sulit merangsang sensorinya. Sejak awal saya berikan rangsangan sensori, dia memang langsung tertarik. Berbeda dengan Aldebaran yang cuma memegang sebentar. Mending mau megang, kadang dilihat doang, terus anaknya kabur. Jadi untuk Aldebaran, rangsangan sensorinya saya lakukan di luar rumah. Saya biarkan dia berlarian tanpa alas kaki supaya bisa merasakan sensasi tanah/pasir. Kemudian dia akan memungut batu, ranting, atau dedaunan. Ya, meski harus diawasi ekstra ketat. Soalnya Baran kan masih suka masukin apa pun ke mulut. Eh tapi dia pintar lho. Kalau mau masukin batu ke mulut, dia lari dulu, menghindar dari bundanya. Lalu diam-diam batunya sudah berada dalam mulutnya.

Meski senang membeli mainan, terkadang saya juga membuat sendiri mainan ala-ala DIY. Memang sih kadang tidak sebagus mainan yang dijual di toko. Tapi Alhamdulillah, Aleisha selalu berbinar setiap kali saya buatkan mainan sendiri. Apalagi kalau dia terlibat dalam proses pembuatannya.

Berikut Adalah Manfaat Membuat Mainan Sendiri.

1) Lebih Hemat

Yess, saya satu alasan saya ber-DIY karena save my money *LOL. Anak-anak kan cepat bosan ya. Dimainkan 2-3 kali, terus ditaruh gitu aja. Lebih gemes lagi kalau belum lama beli, udah rusak. Maklum lah, anak-anak kan suka eksplorasi. Nah, dengan membuat sendiri, saya tidak terlalu gemes lagi ketika Aleisha atau Aldebaran bosan sama mainannya. Misal dirusak pun, kesel dikit sih, tapi agak mending. Soalnya saya kalau buat mainan dari bahan seadanya aja di rumah. Atau kalau ada bahan yang harus dibeli, harganya tidak mahal.

2) Memanfaatkan Barang Tak Terpakai

Kardus adalah barang favorit saya untuk membuat mainan. Memang kardus kan gampang banget ya didapatnya. Pas beli peralatan, ada kardusnya. Belanja bulanan di supermarket, dikasih kardus. Kalau lagi tidak punya kardus, minta ke warung tetangga. Selain kardus, biasanya saya pakai botol bekas, kertas koran, dan lainnya.

3) Mengembangkan Daya Imajinasi

Saya suka mengajak Aleisha terlibat dalam pembuatan mainan. Ya, meski dia cuma bantu gunting dan menempel, tapi dia selalu happy. Dengan mengetahui proses pembuatan mainan, saya berharap Aleisha, dan nantinya Aldebaran, menjadi lebih kreatif dan daya imajinasinya berkembang. Bikin emaknya juga lebih kreatif sih. Jujur sebenarnya saya mah nggak kreatif-kreatif amat. Andalan saya setiap bikin mainan adalah nyontek di Pinterest.

4) Bisa Memilih Bahan yang Aman Untuk Anak-anak

Tulang dinosaurus dari homemade play dough dan tanahnya dari homemade sand dough

Walau ada mainan yang di labelnya tertulis aman, tidak mengandung toksik dan zat kimia, untuk beberapa jenis mainan, saya prefer membuat sendiri. Contohnya playdough. Merek tertentu memang aman. Cuma ketika anak-anak masih fase oral, saya memilih membuat sendiri dari campuran tepung, pewarna makanan, garam, minyak, dan air. Aldebaran belum tertarik sih dikasih playdough. Tapi dia sering gangguin mbaknya main. Aleisha juga kalau main playdough masih berceceran ke mana-mana. Nah, Baran tuh suka memungut yang berceceran itu. Playdough yang buat sendiri kan aman jika tidak sengaja tertelan sama Baran.

Dunia anak-anak memang bermain. Bahagia rasanya melihat mereka happy, aktif, dan tumbuh semakin pintar. Namun terkadang keceriaan mereka terganggu ketika tiba-tiba demam menyerang. Ya, namanya anak-anak kan suka lupa waktu ketika bermain. Jadi mungkin tubuhnya kelelahan, tapi tidak dirasa. Aleisha dan Aldebaran kalau demam itu kelihatan banget. Matanya celong dan telihat agak loyo meski tetap bermain. Malah kadang Aleisha yang ngomong sendiri, “Bunda, Mbak Cica kayaknya panas nih badannya.” Kalau udah begitu, saya langsung minta Aleisha istirahat.

Waktu Aleisha diopname karena sakit tipus

Ketika anak demam, yang terpenting harus tenang, jangan panik. Karena sebenarnya demam bukanlah penyakit. Demam diciptakan oleh tubuh untuk tujuan baik. Sebagai pertanda sistem pertahanan tubuh anak sedang bekerja melawan serangan kuman atau bakteri. Sehingga terjadi respon inflamasi (peradangan) dan menyebabkan tubuh mengalami demam.

Suhu tubuh manusia diatur oleh sebuah organ di dalam otak, yaitu hipotalamus. Agar suhu tubuh tetap normal di suhu 37 °C, hipotalamus mengirim sinyal ke seluruh organ tubuh untuk bekerja sama menjaga suhu tubuh. Menurut penjelasan dr Arifianto Apin, saat ada serangan kuman, berbagai sitokin seperti interleukin-1, interleukin-6, dan tumor necrosis factor (pirogen endogen), akan meningkatkan kadar prostaglandin E2 dihasilkan oleh hipotalamus anterior. Itu berarti suhu tubuh akan naik dan terjadi demam.

Hal yang harus diperhatikan ketika anak demam menurut pengalaman saya selama ini, juga sesuai dengan petunjuk dokter anak, adalah…

Sumber gambar: FB @OneThousandSmile

1) Mengecek Suhu Tubuh

Yup, begitu Aleisha mengeluh sakit atau Aldebaran kok berasa tubuhnya panas, saya langsung memastikan suhunya dengan termometer. Di rumah, kami memakai termometer digital. Dan memang termometer digital sekarang ini lebih disarankan. Menurut penjelasan dr. Annisa Karnadi di web duniasehat[dot]net tentang suhu tubuh demam sebagai berikut,

Suhu tubuh normal rata-rata 37°C (98,6°F), suhu normal tubuh berkisar antara 36,4°C (97,5°F) dan 37,5°C (99,5°F). Anak dikatakan demam jika:

  • Pengukuran suhu dengan termometer di rongga mulut menunjukkan suhu di atas 37,5°C (99,5°F)
  • Pengukuran suhu dengan termometer di dalam anus menunjukkan suhu di atas 38°C (100,4°F)
  • Pengukuran suhu dengan termometer di ketiak menunjukkan suhu di atas 37,2°C (99°F)

2) Memastikan Anak Cukup Istirahat

Biasanya ketika anak-anak demam, saya meminta mereka untuk banyak istirahat supaya kondisi tubuh cepat pulih. Sebelum benar-benar reda demamnya, saya melarang mereka bermain. Saya juga izinkan Aleisha menonton kartun kesukaannya lebih lama. Supaya dia mau berbaring. Kalau Baran mah lagi sakit, tak gendong ke mana-mana.

3) Memastikan Anak Cukup Cairan

Alhamdulillah meski demam, Aleisha masih mau makan. Jadi saya tidak terlalu khawatir. Ya, meski makannya tidak sebanyak kala dia sehat. Yang penting sebentar-sebentar saya kasih minum supaya tidak dehidrasi. Sedangkan Aldebaran, karena masih menyusu, tempelin terus ke nenen supaya kebutuhan cairannya tetap tercukupi. Soalnya Baran kalau sakit, bener-bener nggak mau makan sama sekali.

4) Membangun Imunitas Dengan Asupan Makanan Bergizi

Meski makannya sedikit saat sedang demam, saya selalu mengusahakan untuk memberikan makanan bergizi. Prinsip saya sih walau hanya sedikit yang masuk ke perut, tapi mengandung nutrisi tinggi. Misalnya saya memasak sop. Untuk kuahnya saya pakai kaldu yang terbuat dari tulang sapi atau ayam kampung.

5) Memandikan dan Mengompres Dengan Air Hangat

Dulu saya selalu mengikuti nasehat orang tua, jangan memandikan anak ketika sakit. Namun sewaktu Aleisha berusia 2 tahun dan harus opname, dokter anaknya menyuruh saya tetap memandikan Aleisha dengan air hangat. Tujuannya untuk memperlancar aliran darah dan supaya badan bersih dari kuman. Selain itu, untuk memberikan rasa nyaman, saya juga mengompres anak-anak dengan handuk yang direndam di air hangat.

6) Menjaga Suhu Ruangan Tetap Nyaman dan Memakaikan Pakaian yang Ringan

Saya selalu mematikan AC saat Aleisha atau Aldebaran demam. Karena ketika badan demam, suhu ruangan sebaiknya sama dengan suhu tubuh. Lalu saya pakaikan baju yang tipis, ringan, dan mudah menyerap keringat. Tapi kadang Aleisha suka minta AC dinyalakan sih. Kalau gitu biasanya saya pakaikan selimut dan memastikan asupan cairannya cukup.

7) Memberikan Obat Penurun Panas

Selama Aleisha dan Aldebaran tidak rewel dan suhu badannya antara 37-38°C, saya tidak berikan obat penurun panas. Tapi bila suhunya lebih dari 38,3°C dan mereka rewel, saya pun memberikan obat penurun panas. Pilihan obat penurun panas biasanya mengandung parasetamol atau ibuprofen. Untuk dosis pemberiannya, menurut dr Annisa Karnadi, adalah sebagai berikut:

  • Parasetamol (acetaminophen) 10 – 15 mg/kg BB/kali yang bisa diberikan setiap 6 jam – 8 jam bila diperlukan. Jangan memberikan parasetamol lebih dari 5 kali sehari.
  • Ibuprofen juga bisa sebagai obat penurun panas dan pengurang rasa nyeri. Boleh diberikan pada anak yang berumur di atas 6 bulan. Dosis pemberian 5 – 10 mg/kg BB/kali yang bisa diberikan setiap 6 jam – 8 jam dalam bila diperlukan.

Kalau saya sih lebih memilih obat penurun panas yang mengandung parasetamol. Dan biasa saya menggunakan 2 merek, salah satunya Tempra. Aleisha suka rasa anggurnya. Tapi dia memang pada dasarnya suka minum obat. Jadi nggak perlu pakai drama. Malah saking sukanya minum obat, dia suka coba-coba sendiri. Untung tutup Tempra itu berdesain CRS (Child Resistant Child). Jadi tidak mudah dibuka oleh anak-anak. Tapi tetap ya harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak.

Tempra memiliki 3 varian, yaitu:

  • Tempra Drop. Untuk anak usia 0-1 tahun. Setiap 0,8 ml Tempra Drop mengandung 80 mg paracetamol.
  • Tempra Syrup. Untuk anak usia 1-6 tahun. Setiap 5 ml Tempra Syrup mengandung 160 mg paracetamol.
  • Tempra Forte. Untuk anak usia 6 tahun ke atas. Setiap 5 ml Tempra Drop mengandung 250 mg paracetamol.

Sumber Gambar: FB @OneThousandSmile

Untuk dosis, saya lebih mengikuti petunjuk dari dr Annisa Karnadi jika belum berobat ke dokter anak. Untuk contoh perhitungan dosisnya sebagai berikut:

Berat badan Aleisha 16 kg

Dosis obat yang diperlukan 10 mg x 16 = 160 mg

Tempra Syrup mengandung paracetamol 160 mg/5 mL sehingga tiap 1 mL sirup terdapat 32 mg parasetamol. Maka saya harus memberikan Tempra Syrup sebanyak 5 mL untuk memenuhi kebutuhan 160 mg paracetamol. Oh iya, pakai sendok takar ya. Jangan pakai sendok makan dapur. Di dalam kemasan Tempra Syrup sudah ada kok sendok takarnya.

Sebenarnya dari Tempra sendiri sudah ada panduan dosis berdasarkan BB anak. Tapi lebih baik lagi kan memastikan dengan menghitung berdasarkan petunjuk dari dokter. Namun bila sudah ke dokter anak, saya menggunakan dosis yang diberikan oleh dokter tersebut.

Sumber gambar: IG @tempra.ots

Sumber gambar: IG @tempra.ots

Sumber gambar: IG @tempra.ots

Paracetamol bekerja sebagai antipiretika pada pusat pengaturan suhu di otak dan analgetika dengan meningkatkan ambang rasa sakit. Obat penurun panas yang diproduksi oleh PT Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk ini memiliki indikasi untuk meredakan demam, rasa sakit dan nyeri ringan, sakit  kepala dan sakit gigi, demam setelah imunisasi atau atas petunjuk dokter.

Selama pemakaian, Alhamdulillah Aleisha dan Aldebaran aman-aman saja. Dengan catatan tidak melebihi dosis pemberian. Aleisha pernah lho minum Tempra melebihi dosis. Jadi ceritanya saya baru lahiran Baran. Aleisha demam 3 hari dan saya meminta yandanya bawa periksa ke dokter anak. Kebetulan neneknya juga lagi di rumah. Sepulang periksa, saya minta tolong neneknya meminumkan obat ke Aleisha. Neneknya nggak baca dosis dari dokter. Aleisha dikasih Tempra setutup botol takaran atau sekitar 15 ml. Ndilalah, kok saya pas nggak melihat. Lalu dia pun tertidur hampir 5 jam. Ya Allah, Alhamdulillah Aleisha nggak kenapa-kenapa. Saya sempat was-was karena di kemasan tertulis, paracetamol dalam dosis berlebih dapat menimbulkan keracunan hati pada beberapa penderita. Bila hal ini terjadi, segera hubungi Rumah Sakit terdekat.

Oh iya, Tempra ini turun-temurun banget lho. Dulu sewaktu kecil, ibu memberikan Tempra ketika saya demam.

8) Periksa ke Dokter

Sumber gambar: FB @OneThousandSmile

Apabila sudah melakukan penanganan di rumah, namun selama 3 hari demam belum turun, saya segera membawa Aleisha ke dokter. Sedang untuk Aldebaran, karena masih berumur 1 tahun, saya bawa periksa ke dokter bila 2 hari demam belum turun. Tapi jika suhu tubuh lebih dari 39°C, saat itu juga saya langsung membawa Aleisha atau Aldebaran ke dokter.

Meski demam merupakan proses alami tubuh melawan virus dan bakteri, saya sih berharap anak-anak selalu sehat. Karena itu, mencegah lebih daripada mengobati. Berikut adalah upaya kami menjaga kesehatan anak-anak:

Sumber gambar: FB @OneThousandSmile

1) Cuci Tangan Setelah Bermain

Cuci tangan pakai sabun setelah bermain hukumnya wajib. Apalagi kalau mau memegang makanan. Saya dan suami sudah kayak polisi pegang pentungan untuk urusan cuci tangan. Soalnya Aleisha suka ngeyel tangannya nggak kotor. Trauma saya ingat Aleisha diopname karena sakit tipus dan rotavirus.

2) Makan dan Minum yang Cukup

Setiap Aleisha mau main, saya selalu ingatkan untuk minum dulu yang banyak. Saat waktunya makan, saya minta Aleisha berhenti sebentar mainnya. Kadang dia suka tidak mau. Apalagi masih asyik main. Tapi saya selalu tegas untuk urusan makan. Main membutuhkan banyak energi. Jangan sampai tubuhnya kelelahan karena kekurangan asupan makanan.

3) Tidur Siang

Saya punya aturan, Aleisha dan Aldebaran harus tidur siang. Selain baik untuk kesehatan, Aleisha suka error malamnya kalau siang nggak tidur. Kadang Aleisha gampang dibujuk untuk tidur. Kadang juga susah, karena teman mainnya tidak pernah tidur siang. Tapi saya selalu berusaha memberikan pengertian. Dan temannya saya minta untuk pulang bila Aleisha waktunya tidur siang.

 4) Olah Raga Ringan

Olah raganya anak-anak mah yang gampang saja. Memutari bundaran perumahan tanpa alas kaki. Tapi memang sih ketika anak-anak aktif fisiknya, mereka jadi tidak mudah sakit.

Bagi saya, aman dan nyaman bermain bersama anak bukan sekedar membelikan atau membuatkan mainan untuk mereka. Tapi kita sebagai ibu hadir utuh membersamai mereka bermain. Menyelami dunia dan imajinasi anak-anak sehingga mereka merasa lebih nyaman bermain bersama orang tuanya. Ikut bermain selayaknya anak-anak supaya ikatan emosional antara ibu dan anak terjalin semakin kuat. Namun kenyataannya, membersamai anak-anak memang tidak mudah. Selalu saja ada rasa jengkel, kesal, bahkan marah menghadapi potensi fitrah mereka yang luar biasa. Karena itu, saya senantiasa berdoa agar diberikan kesabaran dan kemampuan dalam membersamai anak-anak.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

Sumber Bacaan:

Badan Standardisasi Nasional. 2014. Pemberlakuan Wajib SNI Mainan Anak: Anak Terlindungi, Keluarga Bahagia. http://bsn.go.id/main/berita/berita_det/5276#.WUA9Q8YlHtR

Karnadi, Annisa. 2014. Ketika Anak Demam. https://duniasehat.net/2014/05/25/ketika-anak-demam/

Karnadi, Annisa. 2015. Tips Memilih Mainan Anak. https://duniasehat.net/2015/01/15/tips-memilih-mainan-anak/

Materi Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #3

Rangkuti, Julia Sarah. 2016. Rumah Main Anak. Sahabat Sejati Publishing.

Zachry, Anne H. 2013. Toy Selection Tips. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/Pages/What-to-Look-for-in-a-Toy.aspx

20 thoughts on “Membersamai Anak Bermain, Melejitkan Potensi Kecerdasan Mereka

  1. Sekarang aku merasa apa yang dirasa Astri. Anak pertama maunya main, si adeknya nemplok mulu. Kalo adeknya nangis, masnya teriak2, “berisiiiik”. Jadi dobel berisiknya. Masnya jadi lebih sering main sendiri atau main sama ayah. Teman di sekitar rumah yang kecil 2 biji doang :’D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


+ one = 9