Memilih Takdir Cinta

 

Ketika melihat satu-persatu teman menikah, ingin rasanya bisa menikmati kebahagiaan seperti mereka. Rasa iri kadang terbesit. Namun saya segera sadar, mungkin memang belum waktunya.

 

Sebenarnya saya pun tidak ingin terburu-buru. Menikah adalah perjanjian yang maha berat. Syarat untuk menikah bukan hanya sekedar keinginan. Tapi juga kesiapan lahir dan batin. Karena menikah menyatukan dua pribadi yang berbeda. Jangan sampai perbedaan itu memicu konflik yang berujung pada perceraian. Maka berbagai buku tentang pernikahan saya lahap. Saya harus menyiapkan diri sebaik-baiknya. Agar bila saatnya tiba, saya sudah siap menyambut kehadiran sang imam.

Ternyata perjuangan mendapatkan pendamping hidup sangat tidak mudah. Beberapa kali ada yang datang dan mengutarakan niat baiknya. Saya tidak bisa langsung menerima atau menolaknya. Sholat istikharah saya lakukan. Berharap Allah memilihkan yang terbaik. Setiap kali hati merasa tidak mantap, saya yakin ini bukan yang terbaik menurut Allah.

 

Hingga akhirnya saya menemukan kemantapan pada seorang laki-laki. Saya pun memilihnya. Namun perjuangan belum usai. Saya terbentur masalah klasik. Restu orang tuanya. Mereka tidak mempermasalahkan diri saya. Hanya saja, mereka masih meragukan kesiapan sang anak untuk menikah. Terutama dari sisi ekonomi. Satu bulan, dua bulan, sampai tiga bulan, tidak ada kepastian. Saya pasrahkan semuanya pada Allah. Bila dia yang terbaik bagi saya, maka pernikahan adalah takdir kami. Tapi jika sebaliknya, saya harus ikhlas. Di bulan kelima, jalan itu terbuka. Orang tuanya mengizinkan kami menikah.

 

Cinta itu takdir atau pilihan? Bagi saya, cinta itu takdir dan pilihan. Kita memang berhak memilih siapa pun yang akan menjadi pendamping hidup kita. Fisik, keluarga, harta, atau agama menjadi kriteria. Dan memilih agama adalah lebih baik. Namun kita tidak boleh lupa. Di atas pilihan kita, ada pilihan Allah. Yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik menurut Allah. Begitu juga yang terburuk menurut kita, belum tentu terburuk menurut Allah. Saya yakin Allah tahu yang terbaik untuk hambanya. Kita hanya wajib berdoa. Meminta diberikan takdir jodoh yang terbaik. Semua hal yang belum terjadi, bukan takdir namanya. Berdoalah terus dan yakinlah Allah akan mengabulkan. Karena Allah menuruti prasangka hambanya. Bila ternyata dia bukan takdir cinta kita, percayalah Allah sedang memilihkan takdir cinta yang terbaik.

 

*) Tulisan ini diikutsertakan dalam Blogger Bicara Cinta yang diselenggarakan Blogdetik

One thought on “Memilih Takdir Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 3 = three