Mendampingi Anak Remaja Menjalani Masa Topan dan Badai

Foto: dokumentasi @SunCo_ID

Foto: dokumentasi @SunCo_ID

Punya anak remaja, pasti banyak sekali tantangan yang harus dihadapi ya. Saya sih belum punya anak remaja. Tapi mendengar curhatan ibu-ibu yang punya anak remaja, saya jadi merinding sendiri. Mulai dari yang lebih suka di luar rumah, lebih percaya sama teman, tidak mau mendengarkan nasihat orang tua, sampai yang parah adalah kecanduan narkoba. Mungkin karena beratnya tantangan mendidik anak usia remaja, saat acara Arisan SunCo di Ngalam Resto, FX Plaza Sudirman, tanggal 28 Maret 2014, menghadirkan narasumber Ita D. Azly, seorang psikolog anak di SAUH (Sahabat Satu Hati) dan Women & Family Empowerment Center.

Menurut Ibu Ita, masa remaja disebut sebagai masa topan dan badai saking berat tantangannya. Usia remaja dikatakan rentan karena terjadi banyak perubahan fisik. Dan perubahan dalam diri itu membuat tidak nyaman. Iya, sih memang. Saya ingat ketika beranjak remaja mulai tidak percaya diri ketika beberapa bagian tubuh berubah. Berasa banget kalau pas lagi olah raga. Hahaha… pasti tahu ya maksudnya. Terus juga ingat banget malunya saat haid tembus sampai rok.

Karena itulah, masa remaja harus didampingi. Jadi, sebagai orang tua, kita harus membekali diri dengan ilmu. Dan yang menjadi catatan Ibu Ita dalam mendampingi remaja adalah komunikasi.

 

Bicara Dari Hati ke Hati

Seringkali orang tua mengeluhkan anak remaja yang sulit sekali dinasehati. Ternyata menurut Ibu Ita, anak-anak remaja jaman sekarang sulit sekali berkonsentrasi. Hal tersebut disebabkan anak-anak dituntut untuk multitasking di sekolah. Ditambah beban sekolah yang berat sehingga menyebabkan anak rentan stres. Karena sulit berkonsentrasi, anak seringkali sulit menangkap apa yang diucapkan oleh orang tua. Maka supaya nasehat kita sampai ke anak, ajak duduk bersama, singkirkan gadget dan matikan televisi, tatap mata anak, lalu ungkapkan dengan lembut apa yang ingin kita sampaikan.

 

Membangun Kepercayaan Anak Kepada Orang Tua

Keluhan yang paling banyak disampaikan oleh ibu-ibu adalah anak lebih percaya ke teman. Sebenarnya ini lagu lama ya. Kita dulu sewaktu beranjak remaja juga lebih senang curhat ke teman dibanding orang tua. Ya, karena remaja merasa temannya lebih mengerti keadaan dirinya. Inilah yang menjadi catatan Ibu Ita. Jika tidak mau curhat ke orang tua, pasti ada kesalahan komunikasi. Anak remaja umumnya tidak suka diatur atau disuruh. Ajak mereka berdiskusi. Apa yang dirasakan? Apa yang diinginkan? Apa yang diharapkan dari orang tua?

 

Jangan Membandingkan!

Seringkali orang tua membandingkan anak dengan dirinya. Mama dulu begini. Mama dulu begitu. Anak remaja tidak suka dibandingkan. Apalagi mereka hidup di jaman yang berbeda dengan orang tuanya. Menurut Ibu Ita, yang harus dilakukan adalah membaur dengan anak remaja. Coba masuki dunia mereka. Kenali teman-temannya. Tahu bahasa-bahasa ala remaja. Sehingga jika orang tuanya asyik, anak dengan sendirinya akan terbuka dengan orang tua. Oh iya, jangan juga membandingkan dengan teman atau saudaranya ya.

 

Jangan Memaksa Bertanya Kepada Anak Lelaki!

Walau tidak mudah, tapi dengan anak perempuan, kita lebih bisa memancing mereka untuk curhat. Tapi bagaimana dengan anak lelaki? Kata Ibu Ita, anak lelaki itu memiliki ‘gua’. Bila kita memaksa bertanya, anak akan masuk ke ‘gua’ dan mengunci pintunya. Misalnya anak lelaki baru pulang sekolah dan mendapati wajahnya yang kusut seperti ada masalah. Jangan pernah tanya, ‘Ada apa?’, atau ‘Kenapa? Cerita dong sama Mama.’ Maka sudah pasti yang dihadapi adalah penolakan. Saran Ibu Ita, dekati anak sambil menyodorkan minum. ‘Minum dulu, Nak. Kalau mau makan udah Mama siapin ya. Mama ada di dapur.’ Ketika mengatakan ‘Mama ada di dapur’ mengandung maksud, jika kamu butuh dan ingin cerita, cari Mama di dapur. Masih menurut Ibu Ita, biasanya dengan sendirinya, anak lelaki akan mendekati ibunya.

 

Mengetahui Saat Anak Sedang Bad Mood

Ini sangat penting sekali. Orang tua harus tahu kapan anak sedang bad mood. Kalau pada anak perempuan sebaiknya mengetahui jadwal menstruasinya. Bila anak tiba-tiba marah, orang tua bisa tetap bersikap biasa dan tidak terpengaruh ikut marah-marah.

 

Inti dari semua yang disampaikan oleh Ibu Ita adalah orang tua harus kreatif memikirkan cara berkomunikasi dengan anak. Komunikasi cinta 🙂 Di akhir materi, Ibu Ita meminta para ibu menulis surat cinta untuk anak-anaknya.

Ibu-ibu sedang menulis surat cinta untuk anaknya. Foto: dokumentasi MakPuh @IndahJuli

Ibu-ibu sedang menulis surat cinta untuk anaknya. Foto: dokumentasi MakPuh @IndahJuli

 

2 thoughts on “Mendampingi Anak Remaja Menjalani Masa Topan dan Badai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


3 × seven =