Mengubah Keisengan Anak Menjadi Positif

Sumber gambar: blog.carnivalkids.com

Sumber gambar: blog.carnivalkids.com

Siang itu, seperti biasa Aleisha ingin main ke rumah temannya di sebelah rumah.

“Bunda, bawa Yuppie ya? Cica mau maem Yuppie sama Teteh Caca.”

Oh, baiknya Aleisha. Mau makan Yuppie ingat temannya. Jadilah saya mengambilkan enam bungkus Yuppie dan saya masukkan ke kantong kecil. Karena saya tahu, selain Raisya (Teteh Caca – red), ada Daru juga, teman Aleisha yang lain.

“Nanti kasih Teteh Caca dua, Mbak Daru dua ya,” pesan saya. Aleisha mengangguk.

Sampai di rumah Raisya, Aleisha hanya memberikan satu Yuppie untuk Raisya dan satu untuk Daru.

“Lho kok cuma satu yang dikasih?” tanya saya.

“Iya, Bunda. Biar habis dulu. Nanti Cica kasih lagi kok,” jawabnya. Hmm… baiklah.

Namun tiba-tiba, Raisya menarik tangan Aleisha masuk ke kamar. Saya melihat dari luar. Dan betapa terkejutnya saya ketika Raisya ‘memalak’ Aleisha.

“Cica, kalau mau main di sini, kasih Caca satu lagi permennya!” kata Raisya.

Waduh, anakku dipalak *qiqiqi. Dalam hati mbatin, kok anak usia empat tahun udah bisa ‘memalak’ ya? Padahal orang tuanya baik. Lingkungan sekolah playgroupnya juga baik. Memang sih Raisya ini sepengamatan saya sifatnya paling dominan di antara Aleisha dan Daru. Dia harus selalu nomor satu dan jika memiliki sesuatu mesti paling banyak. Dia tidak mau sama-sama mempunyai dua permen. Kalau temannya punya dua, dia kudu punya tiga. Raisya juga ‘provokatif’. Jika dia tidak menyukai sesuatu atau sebaliknya, dia akan mempengaruhi teman-temannya.

Saya menyampaikan kejadian di kamar kepada bundanya yang sedang di dapur. Kebetulan saya dan bundanya Raisya seumuran dan kami saling terbuka. Jadi tidak beban untuk saya mengatakan sesuatu tentang Raisya. Reaksi bunda Raisya seperti biasa, geleng-geleng kepala.

“Aduh tetehnya nih musti sering diawasin. Kasihan teman-temannya.”

Saya jadi penasaran tentang hal tersebut. Saya pun mencari tahu penyebab mengapa anak memiliki perilaku yang kadang dinilai negatif oleh orang lain. Dan jawabannya… sejatinya sifat setiap anak adalah anugerah. Mereka unik dan spesial Tugas kita sebagai orang tua mengarahkan ‘sifat negatif’ tersebut menjadi positif dan membanggakan. Noted!

Nah, menurut Ratih Zulhaqqi, M.Psi, seorang psikolog anak dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI Depok dan Pusat Layanan Tumbuh Kembang Kancil, dibalik semua keisengan anak ada hal positif yang muncul, yaitu kreativitas dalam berinteraksi dengan teman. Terhadap anak seperti ini, ibu tidak boleh menghakimi perilaku anak yang ‘kreatif’ tersebut. Lalu ajaklah anak berdikusi melalui buku cerita atau media lain tentang berbuat baik kepada teman. Tentang sifat provokasi, masih kata Ratih Zulhaqqi, anak menyimpan potensi sebagai leader atau pemimpin. Maka tuntunlah anak untuk menjadi provokator positif. Misalnya provokasi membuang sampah di tempatnya, provokasi membereskan mainan setelah bermain, provokasi untuk selalu berdoa sebelum makan, dan masih banyak hal positif lainnya.

Ini benar-benar menjadi catatan untuk saya sebagai seorang new mom. Ya, bukan tidak mungkin nanti salah satu adiknya Aleisha ada yang memiliki sifat kreatif seperti yang saya ceritakan di atas.

Regards,

Facebook : Astri Hapsari | Twitter : @AstriHapsari_ | Instagram : AstriHapsari_ | www.rumah-astri.com | www.AstriHapsari.com

6 thoughts on “Mengubah Keisengan Anak Menjadi Positif

  1. untungnya dua anakku gak pernah melakukan hal2 yang aneh, jadi agak aman daku. Gak kebayang ya kalau punya anak yang harus banyak diarahkan karea kreatifitasnya yang berlebihan

  2. Begitu ya Bu Astri? Ikut nyimak, mudah2n bisa diterapkan jika nanti punya anak.
    O iya, kalau sifat anak kebalikannya, terlalu pendiam, perlakuan ke mereka bagaimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


nine − = 7