Merajut Kisah Kelahiran Aleisha

alei

Bekasi, malam hari ketika hujan mengguyur.

Saat akan beranjak ke tempat tidur, menyusul Aleisha yang telah terlelap, handphone saya berdering. Menandakan sebuah pesan Whatsapp masuk. Saya langsung membukanya. Khawatir pesan tersebut penting. Ah, ternyata dari seorang teman karib saya.

 

“Ai, lu dulu lahirin Neng Ale nggak sakit kan? Gimana sih bisa nggak sakit?”

 

Saya tertegun. Saya memang pernah menuliskan kisah kelahiran Aleisha dengan gaya tulisan yang kocak. Bahkan di situ saya ceritakan di pembukaan tiga masih naik motor menuju klinik Mbak Yuli. Beserta foto saya yang tersenyum lebar di atas gymball ketika sudah pembukaan lima. Mungkin teman saya itu terinspirasi ingin memiliki pengalaman yang sama.

 

“Emang perkiraan dokter kapan?”

“Minggu depan?”

“Wah bentar lagi dong. Udah persiapan apa aja? Yoga? Hypnobirthing? Relaksasi? Udah semua?”

“Hehehe. Nggak pakai begitu-begituan, Bu. Udah sih kasih tahu tips praktisnya aja.”

 

Saya biarkan pesan Whatsapp tak terbalas cukup lama. Jujur, saya bingung ingin menjawab apa. Tips praktis? Ah, andai dia tahu, bukan dalam sekejap mata saya mempersiapkan proses kelahiran impian saya. Andai dia tahu, semua proses ini tidak instan. Bukan hanya sekedar tips praktis. Namun sebuah pemberdayaan diri dengan mengerahkan seluruh fisik dan batin saya. Dan yang terpenting, stok sabar tak boleh habis saat menjalani semua proses pemberdayaan diri.

Salah Kaprah

Proses kehamilan saya sebenarnya bisa dibilang tidak mudah. Setelah satu tahun belum diberikan karunia kehamilan, saya mengikuti serangkaian program kehamilan. Mulai dari cek rutin sel telur, HSG, fisioterapi, meminum obat penyubur kandungan, dan diatur untuk berhubungan dengan suami. Maka ketika akhirnya bisa hamil, saya berjanji pada diri sendiri untuk memberikan yang terbaik bagi janin dalam rahim saya.

Di awal kehamilan, saya belum mengenal sama sekali tentang gentle birth. Tapi saya tertarik membeli buku hypnobirthing karya Ibu Lanny Kuswandi saat sedang berkunjung ke Gramedia. Jujur, walau sudah membaca dua kali saya belum terlalu memahami bagaimana cara praktek hypnobirthing. Saya hanya menangkap testimoni para pelaku hypnobirthing, bahwa proses kelahiran mereka lancar dan nyaris tanpa rasa sakit. Dalam hati saya berujar ingin juga melahirkan tanpa rasa sakit.

Berbekal kata hypnobirthing, saya berselancar di internet. Mencari lebih banyak lagi informasi tentang hypnobirthing. Lalu terdamparlah saya di website Bidan Kita dan grup facebook Gentle Birth Untuk Semua.

Di website Bidan Kita, saya lebih tertarik membaca testimoni klien Bidan Kita. Kemudian saya pun mengirmkan permintaan bergabung di grup GBUS dan di-approve langsung oleh Mbak Prita. Lagi-lagi, saya lebih memilih membaca testimoninya. Dan ternyata ini berakibat FATAL!

Kalau boleh saya mengibaratkan seperti vampire baru di film Twilight. Para vampire baru digambarkan tidak bisa menahan rasa ‘haus’, sehingga sradak-sruduk berburu mangsa manusia. Jika dibiarkan, keberadaan vampire vegetarian bisa terancam. Hihihi… maaf ya analoginya vampire. Namun begitulah saya. Baru mengenal gentle birth. Belum membaca seluruh dokumen di grup dan artikel di website Bidan Kita. Yang tertangkap oleh pikiran polos saya, Gentle birth itu lahiran di rumah (home birth), water birth, nggak pakai intervensi, nggak dijahit, dan lotus birth. Lalu dengan lantang, saya memproklamirkan ingin melahirkan seperti itu. Apa tanggapan suami? Tentu saja, MENOLAK! 😀

Pemahaman yang Mulai Utuh

Penolakan itu membuat saya sadar, bahwa pemahaman saya tentang gentle birth belum utuh. Masih seperti kepingan puzzle yang berserakan. Menebak satu potongan gambar seperti harimau totol. Padahal setelah disatukan adalah gambar jerapah. Membaca pengalaman Mbak Hanita atau Mbak Prita, langsung terpikir melahirkan di rumah. Padahal melahirkan di rumah sakit pun bisa gentle. Asalkan kita mampu mengkomunikasikannya kepada dokter. Saya pun mulai membaca satu persatu dokumen di grup GBUS. Membaca hingga paham seutuhnya tentang gentle birth, hypnobirthing, relaksasi, yoga, dan banyak lagi. Semakin banyak membaca, saya semakin paham.

Bahwa gentle birth adalah sebuah filosofi untuk mengembalikan fitrah seorang wanita. Allah menciptakan vagina bukan tanpa sebab. Mengutip qoute Ibu Robin Liem, Tuhan hanya menciptakan vagina, Dia tidak menciptakan jendela di perut seorang perempuan. Dengan memahami konsep gentle birth, saya seolah mendapakan kekuatan. Ya, Insya Allah, saya bisa melahirkan normal.

Bahwa gentle birth adalah sebuah konsep untuk melahirkan dengan nyaman. Namun bukan berati tanpa rasa sakit. Saya tahu ketakutan sebagian besar calon ibu adalah rasa sakit melahirkan. Dengan pemahaman yang utuh tentang gentle birth, saya lebih bisa berdamai dengan rasa sakit. Biar bagaimana pun, rasa sakit tetap dibutuhkan sebagai sinyal tubuh atau pertanda akan lahirnya seorang bayi dari tubuh kita. Dengan pemahaman yang utuh, saya berusaha mempersembahkan proses kelahiran yang ramah jiwa. Bukan untuk saya, tapi untuk anak saya.

Bahwa gentle birth bukan anti intervensi medis. Bila memang ingin melahirkan sealamiah mungkin, meminimalisir intervensi yang tidak perlu. Saya harus mengoptimalkan proses pemberdayaan diri. Berdoa, menjaga asupan makanan yang sehat dan bernutrisi, berlatih hypnobirthing, yoga, pelving rock, olah napas, dan selalu berafirmasi positif. Tidak lupa untuk rutin kontrol ke dokter kandungan. Memastikan bobot, detak jantung, ketuban, dan tali pusat janin saya berada dalam kondisi baik.

Bahwa gentle birth tak harus water birth. Setelah pehamaman saya mulai utuh, suami pun mendukung keinginan saya untuk mempersembahkan proses kelahiran yang ramah jiwa bagi putri pertama kami. Sayang, suami belum mengizinkan untuk water birth. Alasan yang diberikan cukup banyak. Mulai dari takut terhadap dampak negatifnya, nggak steril, belum lazim, nggak ada bidan yang dekat, dan lainnya. Belakangan saya tahu alasannya karena mahal. Capek deh! 😀 Namun saya tidak memaksa. Saya setuju untuk kasur birth. Tapi dalam doa-doa yang saya lantunkan, saya minta kepada Allah ingin water birth.

Berproses Menemukan Jodoh

“Yik, di kotaku nggak ada bidan yang gentle birth.”

“Oh, nggak harus bidan gentle birth kok, Mbak. Coba dikomunikasikan aja sama dokter atau bidannya.”

“Tapi kan lebih enak kalau bidannya paham gentle birth.”

Dulu awalnya, saya ingin melahirkan dengan Mbak Yessie. Kebetulan juga memang saya asli Klaten. Hampir semua saudara saya tinggal di sana. Sayangnya, kedua orang tua saya masih stay di Sorong. Nggak mungkin saya merepotkan keluarga besar di sana. Setelah diskusi dengan suami, kami memutuskan untuk mencari bidan di dekat rumah saja.

Saya pun mendatangi lima orang bidan. Kepada mereka saya ajukan birth plan yang telah saya susun. Tiga orang bidan menolak dan dua linnya menerima, namun dengan banyak tanda bintang. Jujur, saya sempat hopeless. Harapan saya tinggal dokter kandungan di rumah sakit tempat saya biasa kontrol. Dan tanggapannya lagi-lagi menolak. Huft…. Tapi saya yakin. Insya Allah… Jika Allah berkehendak, saya akan dipertemukan dengan bidan yang bisa membantu saya mewujudkan proses kelahiran impian saya. Doa terus mengalir. Ya, hanya doa. Karena suami kesal dengan saya yang belum juga membuat keputusan, mau melahirkan di mana. Sudah enam nakes lho 🙁

Kejutan terjadi saat usia kehamilan saya memasuki minggu ke tiga puluh tujuh. Saya ingat waktu itu baru saja diadakan kopdar GBUS di Rumah Sakit Bunda Menteng. Sayangnya saya tidak bisa hadir. Lalu saya melihat comment dari seorang member bahwa di Bekasi ada bidan yang support kelahiran ramah jiwa. Sudah lulus sertifikasi water birth dan hypnobirthing. Saya berbinar-binar. Walaupun belum diizinkan suami water birth. Dalam hati tetap berdoa, semoga Allah mengizinkan. Malam harinya, saya langsung mengirimkan SMS ke Mbak Yuli. Meminta waktu untuk bertemu dan rute ke kliniknya.

Benarlah Melahirkan Itu Menyenangkan

Di klinik Mbak Yuli, saya diajak relaksasi. Ketika ditanya rencana kelahiran, saya bilang di kasur saja. Dan untuk tali pusat, saya memilih delayed cord clamping atau menunda pemotongannya. Inginnya sih lotus. Tapi saya belum mempersiapkan keluarga besar untuk memahami tentang lotus birth.

Mengenai HPL, ada sedikit perbedaan mengenai antara dokter dan Mbak Yuli. Menurut dokter tanggal 14 Juni 2012. Namun perkiraan Mbak Yuli tanggal 16 Juni 2012. Mbak Yuli sempat nyeletuk, “Semoga nggak barengan ya sama pasienku yang lain. Soalnya ada tiga nih yang deketan.”  Mbak Yuli menunjuk kalendernya. Saya hanya tersenyum sambil berujar, “Insya Allah kita jodoh, Mbak.” Hihi… Percaya diri sekali ya. Entahlah. Tapi saya begitu yakin Mbak Yuli ‘jodoh’ untuk anak saya

Hingga tanggal 15 Juni 2012, usia kandungan sudah 40 minggu, kepala bayi belum masuk panggul. Saya mengirim SMS ke Mbak Yuli. Saya ceritakan hasil pemeriksaan terakhir oleh dokter. Alhamdulillah semuanya bagus. Air ketuban, hasil CTG, posisi bayi, dan bobotnya. Hanya saja kepalanya belum mau masuk panggul.  Oleh Mbak Yuli, saya diminta datang ke kliniknya. MbakYuli membantu saya relaksasi. Cukup lama. Dari sebelum Jum’atan hingga menjelang adzan Ashar. Usai relaksasi, kepala bayi masuk ke panggul tapi masih bisa digoyang. Mbak Yuli juga menyarankan untuk meminum jus nanas. Pulang dari klinik Mbak Yuli, saya singgah membeli nanas Palembang. Sampai di rumah, langsung saya blend. Setengah buah nanas jadi dua gelas. Tanpa gula. Segelas saya minum sore, segelas lagi ba’da Maghrib.

Jam satu dini hari, perut saya terasa mulas. Rasanya seperti ingin BAB. Tapi aneh, karena setelah ke WC saya tidak BAB. Saya pun kembali ke kamar melanjutkan tidur. Setengah jam kemudian, saya merasa ingin BAB kembali. Hingga empat kali dengan durasi setengah jam sekali. Di rasa mulas yang keempat itulah saya menemukan bercak darah. Suami langsung mengajak ke bidan. Tapi saya bilang tunggu Subuh dulu. Setelah sholat Subuh, durasi menjadi lima belas menit sekali. Saya putuskan berangkat ke Mbak Yuli naik motor.

Jam enam pagi saya sampai di klinik. Mbak Yuli melakukan VT. Hasilnya bukaan tiga dengan kepala bayi sudah terkunci di panggul. Perkiraan Mbak Yuli maksimal sebelum Dzuhur bisa melahirkan. Sambil menunggu majunya pembukaan, saya ‘goyang inul’ di birthing ball. Dibantu endorphine massage oleh Mbak Yuli. Kadang becanda dengan suami dan mertua. Saya benar-benar menikmati setiap gelombang cinta yang hadir. Sama sekali tidak ada teriakan.

Pembukaan lima :D

Pembukaan lima 😀

Hingga jam dua belas baru pembukaan baru maju sampai lima. Mbak Yuli kembali memijat. Alhamdulillah setelah Ashar pembukaan lengkap. Semua dipersiapkan. Suami duduk di belakang saya. Saat gelombang cinta datang, saya bantu dengan mengejan. Namun kepala bayi tidak kunjung tampak. Saya pun kelelahan karena belum tidur sejak jam satu dini hari. Ketika gelombang cinta hilang, saya malah ngantuk berat. Semangat untuk mengejan hilang.

Pukul 17.20, Mbak Yuli minta saya masuk ke air. Saya menanyakan keikhlasan suami. Khawatir bila suami tidak ridha, kelahiran di air juga bisa mengalami masalah. Alhamdulillah ia ikhlas. Begitu masuk air, tubuh sangat rileks. Pertama saya coba posisi duduk. Tapi tidak nyaman. Lalu saya jongkok. Gelombang cinta semakin menguat. Puncaknya, saya merasa ingin BAB. Saya mengikuti insting mengejan. Sebentar-sebentar saya meraba jalan lahir untuk menyemangati diri sendiri. Dan juga untuk meraba saat-saat kepala bayi ‘crowning’. Akhirnya setelah beberapa kali mengejan, kepala si bayi muncul. Saya langsung diminta ganti posisi duduk. Saat itulah, tubuhnya meluncur indah dengan selaput ketuban yang masih utuh. Ah, ternyata Aleisha memilih 27 Rajab sebagai tanggal lahirnya bila dilihat dari penanggalan Islam. Tepat ketika Isra’ Mi’raj. Dan dia lahir saat yandanya sholat Maghrib.

Delayed cord clamping atau penundaan pemotongan tali pusar

Delayed cord clamping atau penundaan pemotongan tali pusar

Saya baru tahu kenapa harus mengejan. Posisi rahim saya agak retro. Sehingga Aleisha membutuhkan banyak waktu untuk bermanuver agar bisa keluar. Bila mengingat kelahiran Aleisha, rasa syukur saya semakin bertambah. Alhamdulillah…

Semoga semua proses yang Bunda lakukan, benar-benar memberikan kenyamanan, kelembutan, dan cinta kasih buatmu ya, Nduk.

 

*Tulisan ini pernah disertakan dan masuk nominasi dalam Lomba Menulis Gentle Birth Untuk Semua (GBUS), dengan tema “Persalinan Aman dan Ramah Jiwa, Hadiah untuk Anakku.”

29 thoughts on “Merajut Kisah Kelahiran Aleisha

  1. Pingback: 7 Cara Mengasuh Anak Dengan Penuh Kasih | @AstriHapsari_ | Astri Hapsari

  2. Iya maksudnya saya mau minta kontaknya. Sampai lupa tulis minta kontak 😀
    Maaf ya mba bikin bingung.
    Kalau boleh, mau tanya2 jg sama mbak mengenai biaya persalinan di bidan hypno. Terima kasih sebelumnya…

  3. Mbak saya baru pindahan di bekasi, lagi nyari bidan gentle birth. Tolong saya di emailkan kontak bidan yuli ya mbak makasih sebelumnya. 🙂

  4. Mba aq mau dunk minta contact bidan yuli.rencananya aku pengen deh gentle birth utk anak kedua.pengalaman wkt melahirkan anak pertama sempet terbantu jg dgn metode relaksasi yg aku download dari Ibu lenni kuswandi tp aku blm sempat ikut pelatihannya.
    Klinik bidan yuli Di bekasi mana ya mba?

  5. Mba saya mau dong tau alamat bidan Bu Yuli, dan contat-nya. Saya tinggal di daerah Bekasi. Lagi persiapan mau punya anak ke 2. Lahiran anak saya yg pertama normal dan lancar tapi saya mengalami lemah jantung pasca lahiran dan harus opname di ICU selama satu Minggu. Dirumah sakit yang dulu saya belum diijinkan punya anak tapi saya mau nambah momongan lagi. Dan ingin lahiran normal kaya anak pertama. Mudah-mudahan bidan Yuli bisa paham keadaan saya.

Leave a Reply to Beby Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


3 − = one