Merantau dan Mandiri

 

Usia berapa kalian mulai diberi kebebasan, Temans? Pastinya kebebasan yang bertanggung jawab ya. Bisa pergi kemana-mana tanpa dikintili orang tua. Waks apaan tuh dikintili? 😀 Maksudnya diikuti orang tua. Merasakan sensasi perjalanan yang luar biasa. Eh ternyata ada juga mereka-mereka yang di usia >20 tahun masih di bawah kendali orang tua.

 

Kisah Adik Ipar

 

“SMSin Levi suruh pulang!”

“Udah di SMS belum?”

“Balas apa dia?”

 

Berkali-kali mama menyuruh saya dan si doi SMS Levi, adik ipar saya. Jadi ceritanya, mama, dan Levi, dan temannya lagi main ke Bekasi. Yah namanya juga anak muda. Minta mainlah dia ke Dufan.

 

“Kakak, lu anterin kita aja sampe pintu masuk. Lu gak usah ikut.” Katanya.

 

Bagus! Pusing kalau minta diantar keliling. Nambah biaya *hihihi ipar pelit. Ya iyalah secara Dufan sekarang mahal gila. All day Rp 180.000,- *glek. Mending bayarin dia seorang. Kan temennya bayar sendiri. Sabtu pagi diantarlah mereka sama si doi. Kebetulan memang doi ada urusan ke UI Salemba.

 

Menjelang jam 15.00, mama mulai ribut. Apalagi ketika jarum jam terus berputar ke angka lima. Mama menyuruh Levi segera pulang. Saya mikirnya, ke Dufan gak puas kalau gak seharian.

 

“Udah sih, Ma. Biarin aja. Ntar capek juga pulang sendiri.”

“Iya, Ma. Biarin aja. Liburan biar seneng-seneng.”

 

Tapi dasar mama. Berbagai argumen dikemukakan. Mama mertua saya ini tipe orang yang harus melihat anaknya ada di depan mata. Kadang kasihan sama adik ipar. Sering sekali dilarang kemana-mana. Masalahnya mama bakalan stres bila anak bungsunya itu tidak pulang dalam satu jam. Padahal Maret 2012, Levi umurnya 23 tahun. Dan ekornya masih di pegang emaknya.

 

Oh my God… Umur segitu saya udah sampai kemana-mana. Sendiri pula. Bahkan beberapa teman lebih beruntung bisa menjelajah ke negeri orang.

 

“Ya kan udah tahu jalan.” komentar mama.

 

Hohoho… Mama gak tahu saya hanya modal mulut untuk pergi kemana-mana. Kuncinya satu. Tanya pada orang yang bisa dipercaya dan jangan kayak orang bingung.

 

 

Kisah Seorang Sahabat

 

“Tri, Pakdhe minta tolong banget ya. Dianterin sampai bandara. Naik taksi aja. Nanti taksi baliknya Pakdhe yang bayarin.”

“Jangan ditinggalin ya, Tri. Kalau kemana-mana dianterin. Budhe takut nanti ilang apa kesasar.”

 

Saya melirik sahabat saya di sebelah. Setelah telepon wanti-wanti selesai, saya ngakak habis. Sedang sahabat saya hanya manyun.

 

Percaya atau tidak. Sampai saat ini, di usianya ke-26, ia selalu diantar papinya ke kantor. Padahal jarak rumah ke kantornya tidak sampai 5 km. Saya sampai bengong waktu dia cerita.

 

“Sumpah? Dianterin ke kantor?” Saya langsung garuk-garuk kepala. Bukan hanya ke kantor. Wherever she wanna go. Intinya dia tidak boleh kemana-mana sendiri. Makanya dia senang jika saya pulang ke Sorong. Hanya dengan saya dia boleh kemana-mana. Termasuk pergi malam. Tapi malamnya di bawah jam 9 loh.

 

Telepon wanti-wanti itu terjadi ketika tahun 2010. Dia sedang ada training di Puncak bersama rombongan. Usai training masih ada waktu 2 hari sebelum kembali ke Sorong. Teman-temannya bubar. Mereka punya acara sendiri. Dia pun memilih ke kosan saya. Kebetulan juga pacarnya yang di Jogja sedang ada di Jakarta. Jadilah kami bertiga menghabiskan 2 hari bersama. Sampai-sampai kami nonton KCB 2 di jam midnight.

 

“Cing, jangan cerita-cerita sama ibumu lho. Ntar ibumu cerita lagi sama mamiku.” Hohoho… Baiklah.

 

 

So, What about Me?

 

“Punya uang gak?”

“Tau jalan?”

“Sama siapa?”

“Mau ngapain aja?”

 

Saya kira pertanyaan-pertanyaan itu wajar diajukan orang tua. Ketika saya bisa menjawabnya, yuhuuuuu saya boleh pergi. Hmmm… Saya memang sudah mulai mandiri sejak kuliah. Usia 17 tahun mulai lepas dari orang tua. Kalau menengok ke kisah adik ipar dan sahabat, saya bersyukur mendapatkan kepercayaan dari orang tua untuk hidup di kaki sendiri. Ya iyalah masa kaki bebek :p

 

“Kamu kan udah gede. Bisa milih sendiri mana yang baik buat kamu. Orang tua pasti khawatir lah. Tapi Ayah sih berdoa aja biar kamu dijaga Allah.” jawab bapake kenapa waktu saya tanya khawatir gak anaknya tinggal jauh.

 

“Dan yang terpenting menjaga kepercayaan orang tua.” Yup sangat setuju.

 

Semoga nantinya saya bisa memberikan kepercayaan buat anak-anak. Saya malah ingin anak-anak saya merantau dari muda. Supaya mereka bisa mendapatkan banyak pelajaran hidup. Dan yang terpenting mendapat banyak keluarga, kerabat, dan kawan.

 

“Merantaulah maka kau akan mendapatkan pengganti kerabat dan kawan” (Imam Syafi’i)

 

 

2 thoughts on “Merantau dan Mandiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


four × = 12