Mitoni: Antara Bid’ah dan Menyenangkan Orang Tua

Rujak Bebeknya Segar DImakan Siang Bolong

 

“Ntar tujuh bulan bikin acara mitoni enggak?”

“Enggak lah, Mbak. Wong di Islam enggak ada begitu-begituan.”

“Halah paling nanti dibuatin sama mertuamu.”

 

Kehamilan pertama terkadang membawa kehebohan di keluarga. Terutama orang tua, mertua, dan keluarga besar. Dan puncak kehebohannya ketika kehamilan menginjak usia tujuh bulan. Ya, apalagi kalau bukan mitoni. Acara yang sangat khas di kalangan orang Jawa.

Sejak awal menikah, saya memang bertekad untuk menjauhkan keluarga dari bid’ah yang mengarah pada syirik. Makanya saya bersyukur di kampung simbah, tradisi Jawa sudah hilang. Maklum hampir satu desa pengikut Mu*amma*iyah yang cukup taat. Jadi tradisi seperti mitoni, seratus hari, seribu hari, dan lain-lain tidak lagi dijalankan penduduk desa. Kebetulan saya menumpang menikah di sana. Aduh tidak terbayang kalau menikah di keluarga si doi. Pasti saya disuruh menjalani ritual-ritual yang aneh-aneh itu.

 

Nah, ketika hamil empat bulan, mertua membuat acara syukuran di Lampung. Saya pikir, yo wis enggak apa-apa. Anggap saja banyak yang berdoa buat si sulung ketika nyawanya sedang ditiupkan. Namun begitu usia kehamilan saya mencapai tujuh bulan, saya deg-degan juga. Jangan sampai dibuatkan acara aneh-aneh. OK, kalau syukuran dengan memanggil tetangga dan saudara untuk makan dan berdoa bersama, tidak masalah. Saya cuma khawatir bila harus menjalani beberapa ritual seperti siraman, pecah kendi, belah kelapa, jualan dawet, dan sebagainya. Makanya saya tidak pernah kasih tahu usia kandungan. Lah kok ndilalah pas usia 28 pekan, saya dan si doi lagi di Lampung.

 

“Udah tujuh bulan belum sih?” tanya mama mertua.

Glek! Tanda-tanda nih.

“Walah udah lewat, Ma. Mau 30 minggu nih.” Ihik bohong banget sih. Ya bohong demi kebaikan.

 

Saya kira mama tidak akan membuat acara karena tahu sudah lewat tujuh bulan. Eh eng ing eng, besoknya mama heboh dan sibuk membuat rujak, bubur, dawet, dan nasi kuning. Saya melotot saja sama si doi.

 

“Kenapa enggak dicegah sih?”

“Mama tuh mau pamer ke orang-orang bentar lagi punya cucu. Biarin aja. Jangan merusak kesenangan orang tua,” jawab si doi sok diplomatis.

 

Aaarrgghhh… sebel banget. Apalagi waktu disuruh jualan rujak. Helo please deh. Jam dua belas siang dan lagi panas-panasnya gitu. Mana rumah tetangga ada yang di atas gunung.

 

“Aduh, kakinya nyeri nih. Enggak kuat muter-muter.” Hihihi alasan saja.

“Ya udah istirahat,” kata orang-orang di rumah.

 

Terkadang dalam meyakini atau menjalani sesuatu, kita sering terbentur orang tua. Dan biasanya orang tua tidak mau mendengarkan anak. Ujung-ujungnya anak yang harus mengalah. Walaupun apa yang diyakini atau dijalaninya benar. Seperti acara mitoni yang dibuatkan mama mertua. Saya niatkan saja untuk menyenangkan hati mama. Alhamdulillah mama cuma membuat acara bagi-bagi rujak, dawet, bubur, dan nasi kuning. Andai mama membikin ritual mitoni komplit, saya akan langsung kabur *hehehe.

 

One thought on “Mitoni: Antara Bid’ah dan Menyenangkan Orang Tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


8 × = sixteen