My First Long Journey Just With Aleisha

 

2014-09-04 23.06.01

Huwaaaa! Akhirnya bisa juga menuliskan cerita perjalanan panjang pertama saya, berdua saja dengan Aleisha. Awalnya saya pikir hari kedua atau ketiga, saya akan langsung menuliskannya di blog. Ternyata ya ternyata, hari ketujuh saya baru bisa ngeblog lagi. Capek sih sudah hilang sejak hari ketiga di Sorong. Cuma yaaa Aleisha ternyata matanya masih WIB. Dia selalu tidur jam sebelas malam. Dan apa kabar saya setelahnya? Ikut tidur dong *hiks. Ditambah koneksi internet yang belum mau bersahabat. Nanti akan saya ceritakan sendiri tentang mata Aleisha yang masih WIB. Well, sekarang saya mau berkisah hebohnya perjalanan Jakarta – Sorong hanya dengan bocah.

 

Awalnya Nggak Niat Pulang

Iya. Awalnya saya nggak ada niatan pulang ke Sorong. Tahun lalu saya sudah pulang ke Sorong. Dua tahun lagi, Inshaa Allaah orang tua pensiun dan pindah ke Jawa Tengah. Bapak pun melarang yang di Sorong ke Bekasi atau yang di Bekasi ke Sorong. Hemat biaya, bo. Nah, pas saya berhenti kerja, Bapak nelpon minta saya dan Aleisha ke Sorong karena Ibuk kangen sama cucunya. Sudah beberapa kali Ibuk minta izin ke Bekasi. Tapi kan adik saya satu-satunya masih SMP kelas dua dan Bapak dinas di pulau. Kalau pas masih dinas di kantor sih OK OK aja Ibuk ke Bekasi. Jadilah karena anak sulungnya udah jadi pengangguran, saya yang disuruh pulang ke Sorong. Kebetulan juga masih dapat gaji terakhir untuk beli tiket yang super mahal itu *hiks.

 

Aleisha Lebih Muda Empat Bulan

Ini jangan ditiru ya teman-teman. Saya terpaksa memudakan usia Aleisha empat bulan. Seharusnya kan Aleisha itu udah dua puluh enam bulan aka dua tahun lebih dua bulan. Artinya kudu beli tiket penuh. Bayangkan! Satu tiket saja harganya dua juta. Saya mesti beli dua tiket? Jual apa dulu yak? *hihihi. Bismillah deh. Niatnya kan birrul walidain. Dan saya juga nggak minta dikasih kursi gratis. Nggak papa memangku Aleisha sampai Sorong. Toh Aleisha juga nggak mau duduk sendiri. Kan rugi kalau bayar penuh. Huh alasan!

Sebenarnya agak dicurigai sih. Sewaktu di Bandara Soekarno Hatta saya diminta memperagakan posisi duduk sambil memangku Aleisha. Duduknya sengaja saya tegak-tegakkan.

“Oh nggak sampai dagu kok, Bu. Nggak papa. Nanti pas take off sama landing usahakan dagu Ibu lebih tinggi dari adik ya.”

Saya cuma manggut-manggut. Jadi patokannya dagu ibunya tho. I see. Baru tahu. Oh iya, Kanjeng Romo nggak ikut ke Sorong, selain kerja, duinya nggak cukup *hahaha.

 

Aleisha Super Heboh

Beberapa hari sebelum berangkat, seperti biasa saya cerita ke Aleisha. Ya, untuk mempersiapkan mental Aleisha. Jujur awalnya saya merasa berat berangkat cuma berdua Aleisha. Mengingat betapa hiperaktifnya dia.

Nanti kalau nangis gimana?

Nanti kalau teriak-teriak gimana?

Nanti kalau dia bosan gimana?

Nanti kalau minta nenen gimana? Kan tempat duduknya sempit. Nggak enak kalau kena tetangga sebelah.

Nanti kalau dia begini… Nanti kalau dia begitu…

Andai Aleisha masih berusia hitungan bulan sih nggak masalah. Cecokin nenen beres *qeqeqe. Sempat stress juga memikirkannya. Sampai akhirnya seorang emak yang share cerita perjalanannya mudik dari Eropa, selama tiga puluh enam jam dengan dua batita, tanpa suaminya, di grup Kumpulan Emak-emak Bloger. Ya ampun saya hanya empat jam plus dua jam transit. Dan hanya dengan satu batita. OK, baiklah, saya bisa. Saya pun bercerita dengan gembira kepada Aleisha.

“Cica, nanti kita mau naik pesawat ke rumah Utie.”

“Cica, nanti di pesawat nggak usah nenen ya. Nenen di rumah Utie aja.”

“Cica, nanti bobo ya di pesawat ya.”

Mungkin karena saya happy, Aleisha juga ikut happy. Perjalanan dari rumah Bekasi ke Bandara, Aleisha tidur. Saya sengaja pilih keberangkatan malam supaya pas jam Aleisha tidur. Nggak perlu repot bawa makanan.

Tapi yaaa… tapi yaaa… kok yaaa sampai bandara dia bangun dong. Sampai check in dan nunggu di dalam, kurang lebih dua jam, nggak mau tidur juga. Dia terus-terusan menarik tangan saya ke arah kaca sambil berteriak heboh.

“Ayo, Unda. Cica mau naik pesawat.” Rrr… ini anak excited banget yak mau naik pesawat. Berkali-kali saya tawarkan nenen, nggak mau. Akhirnya pintu boarding dibuka. Selama saya gendong dari pintu boarding, melewati garbarata, hingga sampai dalam pesawat, dia ketawa terus. Mukanya tuh kelihatan happy berat. Begitu sudah duduk dalam pesawat, masih heboh juga.

“Hore! Cica naik pesawat!”

Eh buset. Anak siapa sih ini? Padahal lho yaaa bukan pertama naik pesawat. Alhamdulillah saya masih bisa happy juga meski jam menunjukkan pukul 00.30 dini hari. Soalnya pas Maghrib udah minum kopi luwak (asli) segelas gede. Setelah sejam pesawat mengudara, barulah Aleisha mau tidur. Nenen? Teteplaaahhh *hiks. Alhamdulillah ibu-ibu sebelah tidak keberatan kesenggol kaki genduk.

 

Nyaris Tertinggal

Parah! Ternyata pesawat dari  Jakarta terlambat. Sampai Makassar sudah panggilan terakhir untuk penerbangan transit ke Sorong. Awalnya saya pingin agak santai. Nanti dulu lah belakangan. Apalagi bawaan saya berat. Kamera DSLR dan lensa tambahan pesanan adek. Plus  barang-barang keperluan Aleisha di pesawat. Cuma kok feeling saya begitu pesawat landing, tapi belum berhenti, saya harus menggendong Aleisha. Lalu begitu pesawat berhenti, langsung menarik tas dan buru-buru keluar. Nggak tahu ya pinginnya cepet lapor transit. Nah kan beres lapor, petugasnya bilang segera naik pesawat karena sudah panggilan terakhir.

What?

Haduh… Punggung rasanya mau patah. Depan gendong Aleisha sepuluh kilo. Belakang tas gambol isi kamera dua belas kilo. Mana musti xray tas lagi. Turunin. Gendong lagi. Terus petugasnya pakai nanyain boarding buat infant. Mana konfirmasi ke counter transitnya lelet. Aaarrggghhh…. *panik. Saya teriakin aja.

“Mbak, buruan dong! Sorong panggilan terakhir! Jangan lelet!”

Duhhh maaf ya, Mbak. Saya nggak mau ketinggalan pesawat. Lagian Mbak pasti juga masa bodo kan kalau saya ketinggalan pesawat.

Saat naik escalator ke lantai atas, tempat boarding, saya sekuat tenaga lari. Asli, napas hampir habis. Belum pernah saya lari bawa beban dua puluh dua kilo. Dan sampai pintu boarding, peugasnya pakai nanyain umur genduk.

“Kalau duduk nggak sampai dagu saya kok, Mbak. Saya udah tahu.” jawab saya jutek dan langsung ngacir. Huft… nyaris… nyaris… Duduk lima menit, pesawat pun terbang lagi ke Sorong. Aleisha kembali tertidur sampai mendarat di Bandara Dominic Eduard Osok. Pfuhhh… Alhamdulillah akhirnya sampai juga. Aleisha pun langsung ceria ketemu Akung dan Utienya. Emaknya? Keok! *tukang pijit manaaaaa…

 

Moral of This Story

Bepergian hanya berdua dengan krucil syaratnya cuma satu, harus selalu happy. Karena happy itu nular. Anak juga ikut happy. Happy travelling ya buibu… 😉

5 thoughts on “My First Long Journey Just With Aleisha

  1. Seru banget ceritanya.
    tentang feeling ibu yg menular, saya juga punya pengalaman lho. Berhubung belum punya anak sendiri, ini pengalamannya sama anaknya teman ngaji yg masih batita. Si batita ini mmg ‘mbok-mboken’ alias ga bisa pisah dari ibunya. Nah pas harus solat maghrib, mau tak mau ibunya harus ninggalin sebentar.
    saya sih udah siap aja, misal si batita mau nangis kejer gapapa.
    Ternyata di luar dugaan, karena hati kita (yg nggendong) tenang aza, tu anak juga kebawa tenang. Ajaib banget! 1st time anak itu engga nangis hehee.. bangga juga.

  2. OMG, heboh dan seru sekali mbaaaa…bacanya ikut keringetan :D.. Udh kebayang tuh rempongnya gmn… aku prnh jg traveling ama anakku berdua… tp cuma sekali, dan selebihnya aku minta papinya ikut kalo traveling… ga sanggub soalnya ;p.. Iya nih tiket ke papua itu mihil2 ya -__-. lbh murah tiket PP ke Beijing daripada ke sana 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 1 = eight