[Matrikulasi Ibu Profesional] Nice Homework #2: Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga

Alhamdulillah memasuki pekan kedua di kelas matrikulasi ibu profesional, materi mulai terasa berat. Kami diberikan pemahaman tentang apa dan bagaimana sih sebenarnya menjadi ibu profesional itu. Dan dalam mencerna materinya, nggak bisa baca selintasan dan langsung telan. Harus dikunyah dulu pelan-pelan. Kalau sunnahnya mengunyah kan 32 kali hehe…. Kenapa dikunyah perlahan? Ya supaya kita benar-benar memahami dan memaknai dengan utuh tentang ibu profesional. Continue reading

[Matrikulasi Ibu Profesional] Nice Homework #1: Adab Menuntut Ilmu

Sebenarnya saya mengenal Institut Ibu Profesional hampir 3 tahun yang lalu. Saya juga sudah mengikuti seminar IIP yang diisi oleh Bu Septi sekeluarga. Kemudian saya pun bergabung di group WA IIP Bekasi. Sayangnya, karena kehilangan HP dan cukup lama baru punya yang baru, saya left otomatis dari semua group WA termasuk IIP. Nggak tahu kenapa terus kok belum pingin gabung lagi. Soalnya saya cuma silent reader. Pas waktunya ada kulwap atau diskusi, pas selalu nggak bisa pegang HP. Ketinggalan melulu. Jadi ya agak angot-angotan mau gabung lagi.

Dan tiba-tiba sebulan yang lalu, saya pingin ikutan lagi di IIP. Ah dasar kau emak labil. Gara-garanya, Mbak Ani, senior di kosan jaman kuliah, cerita serunya ikutan Matrikulasi IIP Batch #2. Perasaan pas saya masih di group IIP Bekasi belum ada matrikulasi. Atau saya yang kudet nggak tahu infonya. Jadi begitu pendaftaran batch #3 dibuka, saya langsung daftar. Continue reading

Mencoba Rib Eye Beef Untuk Boost BB Aldebaran

Duh emang ya, BB anak itu salah satu the most thing yang bikin para emak galau. Pinginnya sih cuek. Tapi kalau yang mengomentari keluarga atau saudara rasanya… hmmm… baper juga. Di group Rumah Puspa, kalau curhat BB dibuka, tumpah ruah deh semua uneg-uneg mamaks. Ada yang sampai ke DSA karena 3 bulan berturut-turut BB anak nggak naik. Ada juga yang ngerayu Mbak Chris, ownernya SAE, minta dibuatin essential oil supaya anaknya mau makan. Ada yang harus terapi enzim, karena nutrisi makanan nggak terserap tubuh. Yang lebih ngenes lagi, ada yang neneknya memanggil cucunya dengan sebutan kurus. Kalau yang terakhir mah bikin baper kuadrat 😀

Enaknya di group Rumah Puspa, meski menggalau berjamaah tentang BB anak, kami berdiskusi dan saling member solusi. Cici, salah satu kawan di group, menawarkan minyak ikan herbal untuk menambah nafsu makan. Namun minyak ikan ini untuk usia satu tahun ke atas. Alhamdulillah beberapa anak cocok dan BBnya mulai naik. Sedangkan untuk yang bayi a.k.a di bawah satu tahun, usahanya dengan memberikan menu yang tinggi protein plus lemak tambahan. Cuma ya memang sih mulai usia 9 bulan kenaikan BB bayi mulai irit. Huft…

Lalu Mbak Siska sharing dia lagi mencoba kasih Rayi daging sapi bagian rib eye. Katanya sih rib eye bisa mendongkrak BB anak. Mbak Siska tahunya dari IG Elizabet Zenifer. Saya pun langsung meluncur ke IGnya Cici Eliz. Yess BB Baran emang lagi bermasalah 2 bulan kemarin. Selama 1,5 bulan blas nggak naik meski se ons. Terus kena batuk pilek ketularan mbaknya. Kelar lah si BB kalau udah batpil. Pasti turun.

Jadi di IG Cici Eliz dijelaskan, untuk menge-boost BB David, putranya, beliau memilih makanan yang tinggi protein dan lemak. Contohnya seperti rib eye beef, paha ayam kampung, dan ikan salmon. Continue reading

Back to Cloth Diaper

1482826361488Beberapa bulan lalu, saat Aldebaran baru lahir, saya memposting fotonya bersama sebuah produk diaper. Bukan endorse sih sebenarnya. Cuma sample gratis aja. Dan sebagai ucapan terima kasih, saya mengupload foto produknya. Lalu seorang kawan baik berkomentar di status tersebut. Saya lupa redaksi kalimatnya. Tapi intinya beliau selama ini menganggap saya anti popok sekali pakai, dan tiba-tiba upload brand diaper.

Saya bingung deh, kok beliau bisa menyimpulkan seperti itu. Ya saya jawab aja nggak anti pospak. Cuma ya pakai popok kain atau cloth diaper kalau lagi waras. Bila kondisi sebaliknya alias saya lagi error, pakainya pospak. Dan pada kenyataannya, saya lebih sering error. Itu artinya anak-anak saya 80% pakai pospak. Aleisha sih udah bebas pospak dari umur 2 tahun. Alhamdulillah proses toilet trainingnya lancar.

Saya nggak memungkiri pospak adalah salah satu fasilitas yang membuat saya tetap waras. Suami lebih rela membelikan pospak dibanding memberikan saya ART. Ya gila aja kalau ART nggak ngasih, pospak pun nggak boleh. Bisa kelar hidup gue. Lebih baik kirim gue ke Turki. Haseeekkk….

Boros? Banget! Tapi kebayang kan gimana hidup saya tanpa pospak. Setiap ngompol, baju anak & emak harus ganti. Kebayang cucian yang numpuk dan bau pesing. Jadi tolong catat ya… saya bukannya nggak mau diompoli anak. Pakai clodi pun harus rajin nyuci. Apalagi clodi kena ompol dan pup. Lha saya aja nyuci baju 2-3 hari sekali. Alhamdulillah kulit Aleisha dan Aldebaran kayak badak. Awal-awal lahir doang agak sensitif. Nggak pernah kena ruam atau iritasi. Seperti mereka mengerti kondisi emaknya. Padahal saya sering ganti merek. Ya you know lah, mana yang diskon, itu yang dipakai. Tapi tetep yang bermerek dong. Nggak mau pakai pospak yang abal-abal. Dan tiap 4 jam sekali diganti.

Lalu tiba-tiba saya dapat hidayah. Pingin pakai clodi (lagi). Jaman Aleisha pernah pakai. Terus masuk lemari lagi karena saya sungkan sama eyangnya Aleisha. Mencuci clodi kan banyak pakemnya. Dan sayanya nggak kepenak mau ngasih tahu. Jadi ya masukin lagi deh ke lemari. Sekarang pingin pakai lagi. Kenapa? Karena saya lagi ngincer set buku anak premium. Iya belinya arisan. Mana sangguplah saya beli tunai berjuta-juta. Nah buat bayar arisannya dari berhemat pakai pospak. Continue reading