Aleisha’s First Stage

Kemarin sekolah Aleisha mengadakan pensi dalam rangka wisuda siswa TK B. Dan kelas PG mendapat jatah tampil. Selama proses latihan, saya melihat Aleisha kadang-kadang. Kadang mau gerak, kadang nggak fokus, kadang malah gangguin teman-temannya. Terus pas saya tanya, ‘Berani nggak naik panggung?’ Aleisha menjawab berani. Misalkan dia nggak mau, saya nggak akan memaksa. Memang nggak semua anak sudah memiliki rasa percaya diri. Tapi saya cukup happy ternyata anak sulung saya PD berdiri di hadapan orang-orang. Melihat Aleisha berdiri di panggung, Masya Allah… time flies so fast. Mbarepku wis gede. Perasaan baru kemarin saya menangkapnya di air, menyusuinya, menyuapi pertama kalinya, 

 

Regards,

 

6 Tips Agar Tak Rempong di Dapur Saat Ramadhan, Untuk Ibu Dengan Bayi dan Balita Tanpa ART

Sumber gambar: www.hautehijab.com

Sumber gambar: www.hautehijab.com

Alhamdulillah… nggak terasa ya sebentar lagi udah mau Ramadhan. Bulan yang paling istimewa bagi umat Muslim. Bulan diturunkannya Al Qur’an. Bulan di mana pintu langit dibuka dan pintu neraka ditutup. Bulan penuh ampunan bagi mereka yang berpuasa. Bulan dilipatgandakannya amalan-amalan kebaikan. Dan yang paling istimewa di bulan Ramadhan adalah malam Lailatul Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Jujur saya sedih menjelang Ramadhan tahun ini. Khawatir nggak kuat berpuasa karena Baran masih ASI eksklusif dan dia sakaw banget sama nenen. Padahal kalau puasa, Insya Allah bisa full sebulan karena saya belum haid sejak melahirkan. Tapi saya akan berusaha untuk berpuasa dulu. Jika nanti memang dirasa nggak kuat dan Baran rewel, ya terpaksa membatalkan puasa. Mana tahun lalu saya juga cuma kuat puasa 5 hari. Padahal udah seneng kebayang bisa puasa sebulan penuh. Berhubung saya mabok berat, minum air putih aja muntah, plus tekanan darah hanya 80, akhirnya ikhlas nggak ikut puasa. Swediiih….

Sebenarnya yang paling saya khawatirkan puasa tahun adalah urusan masak-memasak. Waktu masih punya anak 1 sih nggak terlalu masalah. Bisa masak menu utama dan bikin ta’jil sampai 2 jenis. Masaknya tiap buka dan sahur. Kecuali menjelang akhir Ramadhan. Suka kesiangan bangun sahurnya. Jadi cuma sempat goreng telur. Untung lah ya masih bisa sahur *lol.

Nah, punya anak 2 tentu lebih repot untuk urusan masak. Apalagi Baran bau tangan akut dan sakaw nenen. Plus nggak punya ART. Saya nggak mau terlalu sibuk di dapur. Pinginnya lebih punya banyak waktu untuk tilawah. Ihiy mau jadi mamak sholehah. Jadi untuk urusan dapur selama Ramadhan saya udah pikirkan tips-tipsnya supaya nggak uprek aja di dapur.

1. Menyusun Menu Untuk 30 Hari

Sumber gambar: www.buzfairy.com

Urusan memilih menu makanan kadang memang memakan waktu. Untuk saya lho. Mungkin untuk emak-emak yang jago masak sih cincay ya. Kadang mau tidur, mata udah merem, otak masih muter, besok mau makan apa. Ini sih mengganggu kualitas waktu tidur. Giliran udah nemu menunya, terus mau merem beneran, ngeekkk… Baran bangun. Mending kalau mau nenen sambil tidur. Kadang rewel minta gedong. Pusing pala mamak *lol. Nggak jarang juga saya mau ke pasar jam 6 pagi, baru jalan jam 6.30 atau malah jam 7. Gara-gara mikirin mau masak menu apa. Dan begitu mau jalan… “Bunda, Baran bangun.” Nggak jadi ke pasar deh. Terus nggak masak deh. Beli deh. Puasa beli trus, kempes dompet suami *lol. Continue reading

Berani Mengambil Keputusan Resign dan Allah Mencukupkan Rezeki Kami

Mama, Adik, Aleisha, dan Aku. Sebelum Mama Sakit

Sebelum Mama Sakit

Mama sakit!

Aku terdiam membaca kabar yang dikirimkan suamiku melalui pesan Whatsapp. Ah, hal yang selama aku takutkan terjadi juga. Fisik mama tentunya tidak berimbang dengan tenaga Aleisha yang super aktif. Sejak awal, aku tidak setuju usul suami saat meminta tolong mama untuk menjaga Aleisha. Bukan kewajiban mama menjaga cucunya. Tapi aku dan suami tak punya pilihan lain. Kami tidak mempercayai orang lain mengasuh Aleisha. Kami juga tidak tega menitipkan Aleisha di day care. Dan pada akhirnya mama sakit karena kelelahan menjaga Aleisha. Perasaan berdosa terus menyelimuti hatiku. Maafkan kami, Mama.

Sebenarnya ketika Aleisha lahir, aku sudah mengajukan proposal resign kepada suami. Namun suamiku menolak. Ya, aku mengerti. Kondisi keuangan kami belum memungkinkan aku berhenti bekerja. Kami masih memiliki banyak tanggungan. Terus sekarang bagaimana? Mama tidak mungkin lagi mengasuh Aleisha. Kata dokter, mama harus bed rest dalam jangka waktu lama. Keinginan untuk resign terlintas lagi. Tapi tetap saja keraguan meliputi hatiku. Apakah dengan satu pintu pendapatan, kami dapat membayar cicilan rumah? Kami tetap dapat hidup layak? Kami bisa memberi kepada orang tua? Dan juga untuk menabung? Dalam keadaan ragu, aku teringat sebuah ayat dalam Al Qur’an, bahwa Allah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Continue reading

[RESENSI] Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

 

Judul Buku : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere-Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 512 Halaman
Tahun Terbit: Januari 2012

Kisah ini dimulai ketika Borno yang berusia 12 tahun, berteriak-teriak di rumah sakit. Berusaha menghalangi dokter yang ingin mengambil jantung bapaknya. Bagi Borno, bapak masih hidup. Bapak akan bangun sewaktu-waktu. Ia terus berontak dan berteriak. Ya, bapak Borno mati tersengat ubur-ubur. Secara medis sudah mati, kata dokter. Dan jantung bapak akan diberikan kepada orang lain.

 

Menginjak usia 22 tahun, tak ada yang istimewa pada hidup Borno. Ia hanya lulus SMU karena tak mampu melanjutkan pendidikan. Beberapa pekerjaan dilakoninya. Buruh pabrik karet, bekerja di SPBU, menjaga loket pelabuhan feri, dan akhirnya menjadi pengemudi sepit. Pekerjaan yang sangat dihindarinya. Bapak berwasiat agar Borno tidak menjadi nelayan atau pengemudi sepit. Ketika keadaan memaksanya, Borno melanggar janjinya pada bapak.

 

“Sungguh, meski melanggar wasiat Bapak, aku berjanji akan jadi orang baik, setidaknya aku tidak akan mencuri, tidak akan berbohong, dan senantiasa bekerja keras – meski akhirnya hanya jadi pengemudi sepit.”

Continue reading